http://www.sinarharapan.co.id/berita/0904/07/kesra01.html

Caleg Sebar Uang, Rakyat Jadi Materialistis

Oleh
Heru Guntoro/Agus Sana'a



Jakarta - Maraknya para calon anggota legislatif (caleg) yang melakukan money 
politics dengan cara membagi-bagikan uang kepada masyarakat akan membuat 
masyarakat berorientasi pada materi. Tidak mengherankan jika kasus 
sogok-menyogok masih terus marak di negeri ini.

Bahkan para caleg Partai Amanat Nasional (PAN) Kabupaten Buton, Sulawesi 
Tenggara (Sultra) saat kampanye putaran terakhir di Kecamatan Mawasangka, Sabtu 
(4/4), dan di Kecamatan Siompu, Minggu (5/4), menyebarkan uang pecahan Rp 
10.000 dari atas panggung usai menyampaikan orasi politik. Tentu saja uang yang 
dihamburkan ini langsung jadi rebutan massa. 


Caleg dari PAN, Umar Samiun, yang juga Ketua DPC PAN Kabupaten Buton, 
menyatakan, aksi menyebarkan uang itu bukan politik uang karena tanpa dilandasi 
perjanjian atau kesepakatan tertentu, melainkan berdasarkan keikhlasan. Malah 
hal seperti itu dalam bahasa Buton dikenal dengan istilah pasali, yang berarti 
memberi uang kepada orang lain yang dianggap berjasa kepada si pemberi uang. 


"Cara itu membuat masyarakat kita jadi tidak belajar untuk berpolitik dengan 
baik. Kadang mereka akan memilih karena ada caleg yang dianggap menguntungkan 
mereka. Masyarakat akan berorientasi pada materi, makanya kasus sogok, suap, 
dan lain-lain tetap marak di berbagai kalangan. Dalam hal ini, masyarakat 
melakukan sesuatu karena ada reward/reinforces (imbalan/penguatan), tidak 
didasarkan atas kesadaran sendiri atau insights," kata dosen tetap Fakultas 
Psikologi Universitas Kristen Krida Wacana (Ukrida), Clara moningka, SPsi, MSi, 
melalui surat elektronik kepada SH, Senin (6/4). Clara menambahkan, di saat ada 
kesadaran untuk memilih, uang pun tidak mutlak diperlukan. Banyak cara membuat 
orang percaya dan memilih caleg, mulai dari hal-hal kecil di lingkungan 
sekitar, bertanggung jawab dalam pekerjaan, mencintai lingkungan hidup dan 
budaya, serta bersikap ramah dan mau membantu orang lain. Jadi, tidak hanya 
dilakukan pada musim kampanye saja, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.


Kepala Lembaga Pelayanan Psikologi Ukrida ini juga menduga, kesehatan jiwa para 
caleg dapat sedikit terganggu bila kelak mereka tidak terpilih. "Untuk para 
caleg, jelas bila tidak siap menghadapi hasil pemilu terguncang, terlebih bagi 
yang telah mengorbankan banyak hal tetapi akhirnya kehilangan kursi," jelasnya. 
 Ia memberi contoh, ada seorang kenalan yang ayahnya mencalonkan diri menjadi 
caleg sampai menggadaikan rumah. Tetapi ternyata belum tiba saat pemilihan, ia 
sudah kebat-kebit merasa cemas tidak karuan, tekanan darahnya naik, dan 
akhirnya masuk rumah sakit. Ia khawatir kalau nanti tidak terpilih harus bisa 
mengganti semua keperluan yang telah dibayarkan untuk menjadi caleg.


Untuk itu Clara menganjurkan agar para caleg ataupun masyarakat yang sudah 
terganggu sisi psikologisnya segera melakukan konseling ke psikolog atau 
psikiater. "Kalau untuk gangguan psikologis, ya, harus ke psikolog atau 
psikiater, diatasi mulai dari konseling sampai dengan pemberian treatment 
(terapi) atau bahkan obat," jelasnya.


Selain itu, diperlukan juga cognitive therapy untuk seluruh bangsa Indonesia, 
yaitu dengan cara mengubah pola atau cara berpikir. Mulai dari yang berpikir 
sempit, diarahkan kepada pemikiran yang lebih positif 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke