Catatan: saat kampanye adakah partai yang memikirkan mereka yat
Pelajaran Syukur dari Dua Orang Pengamen

Senin, 21-04-2008 16:35:01 oleh: Erwin Arianto

Kamis minggu lalu, sore itu tepatnya di bilangan UKI - Universitas Kristen
Indonesia (Jakarta), waktu telah menunjukan senja kala, matahari telah
terbenam, dan sang bulan mulai perlahan menampakkan wajahnya yang cantik.
Saya kala itu baru turun dari bus jemputan yang mengantar saya dari kantor
di bilangan Cikarang, biasa saya terlelap dalam bus tersebut untuk
mempersiapkan energi untuk melanjutkan perjalanan pulang.

Hari itu saya sedang kesal dengan beberapa keinginan yang belum tercapai,
dan dalam hati sedang mempertanyakan mengapa Allah memberi saya ujian
seperti ini, saya sedang gelisah hati. Dan saat turun dari jemputan pun
tiba. Waktu menunjukan sekitar pukul 17.20 menit WIB. Di tengah ramai
jalanan ibukota, saya mencoba mampir ke tukang gorengan, karena saya sedang
ingin makan gorengan.  Khususnya penjual "combro" karena saya menyukai
pangan tersebut karena terbuat dari singkong yang diberi oncom, wah buat
lidah saya rasanya luar biasa sekali. Panganan tersebut sengaja saya
persiapkan untuk berbuka puasa. Karena saya saat itu sedang puasa
Senin-Kamis.

Setelah membeli combro dan sebotol teh manis dalam botol atas merek
tertentu, saya masukan bekal tersebut ke dalam tas saya. Tidak jauh beberapa
meter dari tempat saya membeli combro tersebut saya melihat dua orang anak
kecil yang sedang diam dan duduk di pinggiran terotoar di bilangan UKI
tersebut.

Saya keluarkan sebuah uang lembar ribuan, karena tangan saya reflek untuk
membiasakan diri memberi, walaupun bukanlah sesuatu yang berarti. Tetapi,
seorang anak yang lebih tua dengan postur yang lebih besar menolak pemberian
saya tersebut. "Maaf Om kami bukan peminta-minta" tolak dari anak tersebut.
"Ayo ... ambil saja ..." kali kuperbaiki senyumku, juga uluran tangan yang
lebih ringan. Tetapi tetap dia menolaknya.

"Lalu kenapa kamu ada di sini, Dik" tanyaku "Kami memang orang susah Om,
tapi ibu kami meminta kami bekerja bukan menjadi seorang peminta-minta"
jawab anak tersebut. Saya pun menghargai pendapat anak tersebut, saya juga
tidak bermaksud melatihnya menjadi peminta-minta, lalu saya alihkan tatapan
kepada anak yang kecil. Matanya yang sayu namun tajam itu seperti menusuk
hati ini dan memaku kuat kaki ini untuk terus melangkah.

Mata anak tersebut menerawang, seperti menahan sesuatu sepertinya rasa yang
amat sangat. Rasa yang sampai sore ini ditahannya. Dan kini, dari matanya,
juga gerak lemah tubuhnya, aku bisa menangkap rasa yang tertahan itu.

"Dik, adiknya kenapa sakit ya?" tanya saya kepada anak tersebut. "Tidak Om,
kami belum makan dari dua hari lalu" jawab sang kakak tersebut. "Memang kamu
tidak punya orang tua, Dik" tanyaku menyelidik. "Keluarga kami baru saja
kena gusur Om" jawabnya. "Astagfirullahalazim" gumamku dalam hati berat nian
derita yang diterima anak ini dan keluarganya.

"Lalu kamu ngapain disini, kalau tidak usaha, kan tidak punya uang untuk
makan" tanyaku. "Saya sudah mencoba mengamen Om, tapi hanya mendapat Rp.1000
rupiah" sambil menunjukan uang tersebut kepadaku. "Itukan cukup untuk beli
gorengan dik" jawabku menyelidik. "Tidak Om uang ini untuk ibu kami yang
sakit parah" ujarnya lagi. "Tadinya uang saya berjumlah 7000 , tapi barusan
kami di palak preman Om, uang kami diambil."

Kejamnya hidup di Jakarta, anak sekecil ini pun jadi korban. Kasihan sekali
pkirku, dan aku yang selama ini mencoba melakukan puasa pun ketika berbuka
pasti telah tersedia makanan, setidaknya hanya combro yang aku beli tadi,
tapi kedua anak ini sungguh berat bebannya. Tak terasa air mata ini menetes
tanpa aku perintahkan.

"Yuk kita mampir di warung nasi itu, kita beli nasi untuk kamu, adik kamu
dan ibu kamu" aku mengajak kedua anak tersebut ke sebuah warung nasi, saya
mencoba menggendong sang adik yang terlihat sangat lapar. Di warung nasi
keduanya terlihat canggung dalam memilih makanan. "Sudah ambil saja, yang
kalian inginkan," ujarku saat itu.

Betapa bahagia melihat kedua anak tersebut memakan makanannya, tiba-tiba
teringat di rumah terkadang makanan selalu berlebihan, dan terbuang ke
tempat sampah, tapi ternyata banyak orang yang tidak mendapat makan.

Setelah itu, anak-anak tersebut makan, aku meminta untuk dibungkuskan nasi,
untuk orang tuanya dan nanti makan malamnya. "Om terimakasih ya, tapi kata
ibu kami harus bekerja untuk mendapatkan sesuatu" anak tersebut berkeras
untuk menawarkan jasa. "Oke, kamu kan bisa menyanyi, sekarang saya minta
untuk dinyanyikan saja," pinta saya.

Dan saya melihat kedua anak itu menyanyi dengan bahagia, senangnya bisa
membuat orang lain bahagia. "Alhamdulillah" ucapku dalam hati. Karena Adzan
mahgrib sudah memanggil kulanjutkan langkah kakiku, dan aku pamit kepada
kedua sahabat kecilku itu sambil kutitipkan uang untuk berobat ibunya. Dan
senangnya bisa melihat senyum diwajah mereka memancarkan rasa syukur yang
tak tergambarkan, tanpa lupa mengucapkan terima kasih, ia menyambut hangat
tanganku.

Dalam hati menuju mesjid terdekat aku berdoa "Ya Allah, alangkah bijak-Nya
Engkau menegur hambamu ini. Aku malu... masih ada sederet keluh kesah lagi
yang bersarang di hatiku dan Engkau Maha Tahu waktu yang tepat untuk
mengingatkanku. Ampuni hamba ya Allah. Segala keterbatasanku mengharapkan
ke-Maha Sempurnaan-Mu. Muliakan mereka dengan keberadaannya. dan lindungilah
mereka ya Allah. Aamiin."

Ternyata aku masih orang yang beruntung dengan segala yang aku miliki, walau
kadang hati ini masih sering tidak bisa melihat keberuntungan diri atas
rahmat yang diberikan Allah. Semoga setiap kejadian bisa membawa hikmah
kepada kita semua. Allah sangat menyayangi kita dan kasih sayang itu bisa
berwujud apa saja, tergantung kita untuk mengakuinya. Wallaahu a'alam.
21-April-2008
Erwin Arianto


-- 
Best Regard
Erwin Arianto,SE
エルイン アリアント (内部監査事務局)
-------------------------------------
SINCERITY, SPEED,  INOVATION & INDEPENDENCY


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke