http://www.gatra.com/artikel.php?id=124833
Insiden Abepura Pemerintah Bantah Intelijen Kebobolan Jakarta, 9 April 2009 15:06 Pemerintah menyatakan, intelijen tidak kebobolan terkait beberapa insiden yang terjadi di Papua, dua hari terakhir ini. Menko Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Widodo AS di Jakarta, Kamis (9/4), mengatakan, aparat intelijen baik dari TNI maupun Polri telah bekerja baik dan telah mengantisipasi beberapa indikasi dari beberapa insiden tersebut. "Kami kira, intelijen telah bekerja baik, bahkan telah mempelajari beberapa indikasi dari sejumlah kejadian tersebut," katanya. Hal senada diungkapkan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar, yang mengatakan, pihaknya telah "mencium" adanya beberapa insiden yang berkaitan dengan upaya penggagalan Pemilu 2009 di Papua. "Ya kita sudah sampaikan kepada pihak terkait," katanya. Dalam dua hari terakhir terdapat beberapa insiden di Papua yakni pada Rabu (8/4) terjadi ledakan bom rakitan sekitar pukul 14 WIT yang diletakkan di bawah jembatan di perbatasan Papua-PNG. "Berdasarkan hasil penyisiran ternyata masih terdapat dua bom rakitan yang belum meledak," ungkap Widodo. Masih pada hari yang sama pada pukul 20.30 Wit terjadi penganiayaan oleh orang-orang tak dikenal terhadap lima orang tukang ojek di Wamena. Akibat kejadian itu, tiga orang tewas dan dua kritis yang kini masih dirawat di RUSD setempat. Insiden lainnya, terjadi pada Kamis (9/4) dini hari berupa penembakan pos-pos pengamanan di Pos Perbatasan Skaw Wutung RI-PNG. namun, tidak ada korban jiwa. Pada hari yang sama sekitar pukul 01.30 terjadi serangan terhadap Pos Polsek Abepura, oleh orang bersenjata panah yang mengakibatkan satu orang tewas. Selanjutnya pada pukul 03.15 waktu setempat terjadi pembakaran gedung rektorat Universitas Cenderawasih dan pembakaran bus-bus. Widodo mengatakan, seluruh insiden tersebbut kini tengah diselidiki oleh pihak Polda setempat. [TMA, Ant] ++++ http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=124831 Insiden Penyerangan Polsek Presiden Panggil Menteri Terkait Abepura Cikeas, 9 April 2009 15:04 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kamis siang (9/4) di kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, memanggil sejumlah menteri dan pejabat keamanan, terkait insiden penyerangan Mapolsek Abepura, Papua. Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa mengatakan, presiden memanggil para menteri dan pejabat keamanan untuk mendapatkan laporan mengenai perkembangan situasi di Papua, khususnya di Abepura terkait penyerangan tersebut. Menkopolhukkan Widodo AS, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, dan Kepala BIN Syammsir Siregar turut hadir dalam rapat mendadak itu. Sampai pukul 14.30 WIB, pertemuan masih berlangsung dan belum diketahui apakah akan ada keterangan pers setelah pertemuan tersebut berakhir. Markas Polisi Sektor (Mapolsek) Abepura, Papua, pada Kamis sekitar Pkl.01.00 dini hari diserang sekelompok orang bersenjata panah. Berdasar pemantauan, Mapolsek tidak mengalami kerusakan, namun ditemukan seorang warga tewas di pinggir saluran air dekat bangunan Toko Sumber Makmur. Ditemukan juga di tempat itu sejumlah busur dan anak panah, serta bom rakitan berbentuk pipa. Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri mengatakan, Polda Papua telah menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus penyerangan Mapolsek Abepura. "Dari lima orang tersangka itu, satu orang meninggal dunia terkena tembakan polisi," kata Kapolri usai meninjau sejumlah tempat pemungutan suara (TPS) bersama Mendagri Mardiyanto di Jakarta. Ia mengatakan, polisi masih memeriksa intensif enam orang yang ditangkap dalam kasus ini namun hingga kini masih sebagai saksi. "Enam orang ini masih terus diperiksa. Kita lihat nanti, apakah menjadi tersangka atau saksi," katanya. Ia mengatakan, tindakan polisi yang melepaskan tembakan dan menangkap sejumlah orang dalam kasus penyerangan Mapolsek Abebura merupakan tindakan kepolisian yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum. "Mereka menyerang Mapolsek dengan bom molotov dan panah," katanya. Menurut dia, Polri dibantu TNI akan menindak tegas bila ada pihak-pihak yang menyerang kantor polisi dengan senjata. [TMA, Ant] -------------------------------------------------------------------------------- ++++ http://www.gatra.com/versi_cetak.php?id=124836 Kapolda: Tindak Tegas Pengacau Pemilu Jayapura, 9 April 2009 16:00 Kapolda Papua Irjen (Pol) FX Bagus Ekodanto menegaskan, polisi akan menindak tegas oknum atau kelompok orang yang berupaya mengacaukan atau ingin menggagalkan pemilihan umum (pemilu) di tanah Papua. "Polisi sudah melarang gerakan massa selama berlangsung Pemilu. Jika larangan itu dilanggar maka polisi bertindak tegas sesuai hukum dan peraturan yang berlaku di wilayah Republik Indonesia," tegas Ekodanto, di Jayapura, Kamis (9/4). Sekelompok warga yang terdiri atas delapan orang, Kamis (9/4) dini hari, berusaha menyerang Markas Polsek Abepura sehingga polisi terpaksa bertindak tegas. Satu orang di antaranya tewas sedangkan empat orang lainnya sedang dirawat di RSUD Dok II Jayapura dan tiga lainnya diamankan untuk diselidiki. "Kita belum tahu, mereka itu dari kelompok mana," kata Ekodanto. Sedangkan mengenai isu yang menyebar lewat pesan singkat (SMS) yang menyatakan bahwa akan ada penyerangan terhadap warga pendatang, Ekodanto secara tegas mengatakan, isu tersebut ingin menghambat pemilu agar warga tidak datang ke TPS. "Walaupun ada isu dan insiden di beberapa tempat namun secara keseluruhan pemilu di Papua berlangsung lancar dan aman. Masyarakat seluruh kabupaten di Papua berbondong-bondong mendatangi TPS-TPS." katanya. "Pemilu tetap berlangsung sesuai agenda nasional," tambah Kapolda. Dalam rangka pengamanan pemilu, Polda Papua dibantu Kodam XVII Cenderawasih. Sedikitnya 300 personil polisi dibantu TNI mengamankan pemilu di Papua. Tampak, Ekodanto bersama Gubernur Papua Barnabas Suebu, dan Pangdam XVII Cenderawasih Mayjen TNI A.Y. Nasution, melakukan peninjauan ke berbagai TPS di Jayapura antara lain TPS di kawasan Waena dan Entrop sambil berdialog dengan masyarakat yang sedang antre memberikan suara pada pemilu legislatif. [TMA, Ant] ++++ http://www.gatra.com/artikel.php?id=124828 Pengamanan Pemilu di Papua Juwono: Polisi di Depan, TNI di Belakang Jakarta, 9 April 2009 13:20 Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono menyatakan TNI siap mendukung Polri dalam mengamankan pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) di Papua. "Polisi berada di depan, TNI akan siap mendukung di belakang," kata Juwono, usai melakukan pencontrengan di TPS 01 Widya Chandra, Jakarta, Kamis (9/4). Menurutnya, gangguan keamanan jelang Pemilu Legislatif yang terjadi di beberapa tempat di Papua pada hari Rabu (8/4), telah memakan enam korban tewas. Sejauh ini, pihak TNI maupun Polri telah menangani insiden tersebut dengan baik, ujar dia. Karena itu, Juwono menegaskan, TNI dan Polri menyatakan Pemilu 2009 tetap berjalan di Papua. Sementara, Menteri Sekretaris Negara Hatta Radjasa mengatakan pemerintah mempercayakan penyelesaian masalah gangguan keamanan di Papua pada pihak keamanan. "Saya rasa itu sudah diatasi dengan baik oleh pihak keamanan. Pemerintah tidak akan terlalu banyak terlibat, biar lah pihak yang berwenang yang akan menjawabnya," ujarnya. Sebelumnya dikabarkan, Mapolsek Abepura, Papua, telah diserang sekelompok orang bersenjata panah, Kamis (9/4) dini hari, sekitar pukul 01.00 WIT. Seorang warga Abepura ditemukan tewas dalam insiden penyerangan tersebut. [EL, Ant] [Non-text portions of this message have been removed]

