skitar th 600an, di gurun pasir nan primitip, KESETARAAn & persamaan sesama 
manusia tanpa memanda RAS & Warna kulit telah diajarkan & dipraktekkan oleh 
baginda Rasul mulia, Muhammad saw.

Amerika & barat saat ini, yg diagung2kan & dipuja2 oleh kacung2nya di 
indonesia, ternyata msh terperangkap & terkungkung dlm diskriminasi ras & warna 
kulit.

kasihan skali para kacung barat & amerika :p


'Islam Ajarkan Kesetaraan'

KAIRO -- Imam besar Masjidil Haram, Syeikh Adil Kalbani, mengatakan,
agama Islam selalu mengajarkan keseteraan dan persamaan tanpa memandang
ras dan warna kulit. Menurut dia, ajaran Islam tak mengenal
diskriminasi, namun memperlakukan semua orang secara sama. 

''Islam tak seperti Barat (yang membedakan manusia dari warna kulitnya--Red),'' 
ujar Syeikh Kalbani kepada New York Times,
akhir pekan lalu. Syeikh Kalbani menyatakan, merupakan contoh betapa
Islam tak membedakan manusia berdasarkan ras dan warna kulit. Sekalipun
berasal dari etnis kulit hitam, ia dipercaya Raja Abdullah bin
Abdul-Aziz sebagai imam masjid tersuci pertama bagi umat Islam.

Menurut
dia, sejarah Islam memiliki begitu banyak orang kulit hitam yang
terkemuka. ''Setiap individu yang berkualitas, tak peduli warna kulit
dan dari mana berasal, akan memiliki kesempatan untuk menjadi seorang
pemimpin untuk kebaikan dirinya dan kebaikan negara dan agamanya,''
tutur Syekh Kalbani.

Syeikh Kalbani menuturkan, Nabi Muhammad
SAW pun banyak memiliki pengikut yang berasal dari kulit hitam. Menurut
dia, Islam memang mengajarkan persamaan di antara semua manusia. Syeikh
Kalbani menjelaskan, Nabi SAW memiliki sahabat dekat yang berkulit
hitam, antara lain Bilal dari Etiopia, Salman dari Persia, dan Suhaib
dari Romawi.

''Dua dari tiga sahabat itu bahkan bekas budak
belian yang dimerdekakan setelah Islam menyebar,'' ujarnya menegaskan.
Bahkan, kata Syeikh Kalbani, Bilal dipilih Rasulullah SAW sebagai
muazin pertama, sebuah posisi yang diidamkan banyak sahabat. Syeikh
Kalbani merupakan figur yang dikenal dengan pemikiran dan pandangannya
yang terbuka.

Berkat kemampuannya yang mengagumkan dalam membaca
dan menguasai Alquran, Syekh Kalbani yang kini berusia 49 tahun diberi
amanah oleh penguasa Arab Saudi untuk memimpin jutaan jamaah yang
datang dari seluruh penjuru dunia di Masjidil Haram. 

''Raja
Abdullah sedang menjelaskan kepada setiap orang bahwa dia ingin
mengatur tanah ini sebagai sebuah bangsa, tanpa rasisme dan
perbedaan,'' tutur Syeikh Kalbani. Imam besar Masjidil Haram yang
terlahir pada 1940 itu adalah anak seorang imigran miskin dari Uni
Emirat Arab (UAE).

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah
atasnya, ia bekerja di maskapai Saudi Arabian Airlines dan pada malam
harinya kuliah pada program studi agama dan hafalan Alquran di
Universitas King Saud. Pada 1984, Syiekh Kalbani lolos seleksi dan
menjadi imam dan ditempatkan di masjid bandar udara (Bandara) Riyadh.

Empat
tahun kemudian, Syeikh Kalbani diangkat menjadi imam Masjid King
Khalid--sebuah masjid terkemuka di Riyadh. September 2008 lalu, Syeikh
Kalbani mendapat telepon dari pengelola Masjidil Haram yang mengabarkan
dirinya terpilih sebagai imam besar masjid terbesar di dunia itu.
hri/iol



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke