Kita Mulai Dengan BasmallahRijal Mahdi Tanjung, Mahasiswa International Islamic 
Call Colla, Libya



Menuju indonesia adil, sejahtera dan bermartabat adalah salah satu
tujuan pesta demokrasi yang akan segera kita laksanakan. Mereka yang
ingin memimpin negara ini telah jauh hari mendeklarasikan diri dan
menyatakan kesiapan mereka untuk bersaing dalam meraih kursi
pemerintahan mendatang. Kursi kepresidenan tentu bukanlah kursi empuk
untuk besenang-senang. Bukan juga kesempatan untuk mengumpulkan harta
sebanyak-banyaknya. Tetapi adalah amanah rakyat untuk bisa menciptakan
Indonesia yang adil dan sejahtera.
Untuk memaksimalkan hasil pesta demokrasi mendatang, perlu rasanya
kita berkaca pada seorang gubernur kota madinah. Sang gubernur ini
akhirnya menjadi seorang Khalifah Umayyah yang bersih dari kediktatoran
dan penyelewengan kekuuasaan lainya. beliau adalah Umar bin Abdul Aziz.
Bahkan banyak ahli sejarah islam memasukkan nya sebagai Khalifah
Rasyidin kelima setelah Abu Bakar, Umar bin Khatab, Ustman bin Affan,
dan Ali bin Abi Thalib. Umar bin Abdul Aziz adalah seorang sosok
pemimpin percontahan umat Islam yang bisa mengantarkan rakyatnya pada
taraf keadilan dan kesejahteraan yang merata disemua lini kehidupan.
Bahkan, diriwatkan pada masa kekhalifahannya, seorang Muzakki (wajib
zakat) sulit untuk menunaikan zakat kepada mustahiqnya (penerima zakat)
karena sebagian besar masyarakat hidup adil, makmur dan sejahtera.
Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz berjalan selama dua tahun lebih
saja. Berbeda dengan Indonesia, tampuk kepresidenan berjalan selama
lima tahun. Seharusnya masyarakat kita lebih merasakan kemakmuran itu.
Kalau kita berdalih Indonesia sedang berbenah, penulis rasa ini
bukanlah alasan yang tepat. Bahkan kalau kita melihat pada sejarah
Umar, kita akan mendapatkan pembenahan negara secara menyeluruh. Mulai
dari mengganti Gubernur-Gubernur yang melenceng dari ajaran Islam atau
pembenahan pada tataran masyarakat secara utuh. Umar mengembaliakan
banyak sekali harta kepada pemiliknya yang diambil secara paksa oleh
Khalifah-Khalifah sebelumnya
Umar membawa angin perubahan semenjak awal pemerintahanya. Ini
terlihihat jelas diawal pidato kekhalifanya. Berikut ini kita paparkan
beberapa strategi dan langkah yang diambil Umar Bin Abdul Aziz. Dalam
pidato kekhalifahannya Umar berkata:
Wahai rakyatku, Aku telah dinobatkan menjadi pimpinan mu sekalian
tanpa persetujuan ku sebelumy. Sekarang ku serahkan semuannya kepada
kalian sekalian.
Mendengar pidato ini semua yang hadir berkata :
Wahai Amirul Mukminin, kami telah memilih mu dan ridha akan
kepemimpinan mu, dan semoga kepemimpinanmu mendapatkan keberkahan dari
Allah Swt.
Inilah Umar bin Abdul Aziz pada awal pengangkatannya, pencalonan
dirinya adalah kesepakatan keluarga kerajaan. Umar tidak langsung
menerima tawaran tersebut yang berawal dari sifat kekeluargaan tetapi
meminta persetujuan rakyat adalah syarat pertama pemerintahanya. Bahkan
dalam sejarahnya Umar bin Abdul Aziz tidak hanya meminta persetujuan
dari penduduk Ibukota Negara saja, Umar juga mengirimkan surat pada
seluruh penjuru Islam lainya.
Ini tentu berbeda dengan pencalonan Presiden di negeri kita, jauh
hari sebelum pesta demokarsi sudah sibuk mendeklarasikan diri untuk
pencalonan presiden masa depan. Ini semua diriingi dengan iklan-iklan
di telivisi yang memakan biaya entah berapa. Disamping berpegang teguh
pada Al-Quran dan Sunnah Nabi, Umar bin Abdul Aziz melakukan
langkah-langkah berikut Untuk membenahi pemerintahan:
Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz jauh dari ikut campur keluarga
dekatnya. Dia memahami pengaruh orang-orang terdekat keluarga sangatlah
berbahaya. Karena biasanya bisikan buruk dan pertimbangan yang
merugikan rakyat sering muncul dari pengaruh-pengaruh keluarga dekat.
Dai Sejuta umat KH. Zainudin Mz dalam sebuah pidatonya pernah
berkomentar bahwa priseisden itu tidak mempunyai anak. Tetapi yang
mempunya anak adalah SBY, Megawati(tergantung siapa yang menjabat).
Agar anak-anak dan keluarga dekat priseden tersebut tidak ikut campur
tangan dalam mengurus negara ini. Karena sejarah membuktikan banyak
sekali pengaruh dari anak dan keluarga penguasa masa lalu yang
merugikan negara ini (Orba).
Umar bin Abdul Aziz berpegang teguh pada Mabdak (asas) Syura. Syura
untuk menghasilkan pendapat terbaik dari sekian banyak pendapat. Sudah
barang tentu sebuah keputusan yang muncul dari pendapat bersama lebih
dekat pada sebuah kebenaran.
Dalam azas Syura ini Umar berkata:
Seseungguhnya Syura dan bertukar pikiran adalah pintu kerahmatan dan
kunci keberkahan. Tidak akan terjadi kesalahan apabila keputasan
diambil dari musyawarah.
Mengembalikan hak fakir miskin yang diambil oleh penguasa sebelumnya
adalah salah satu agenda perubahan Umar. Dia memulainya dari
keluarganya dan memerintahkan semua petinggi negara untuk mengembalikan
harta yang bukan haknya. Sehingga ini semua menciptakan pemerintahan
yang bersih, bemoral dan bermartabat di mata rakyat.
Seorang laki-laki penduduk Mesir mendatangi Umar bin Abdul Aziz dan
berkata: Wahai Amirul Mukminin, Abdul Aziz (Bapak Umar bin Abdul Aziz)
telah mengambil sebidang tanahku. Umarpun bertanya kepada laki-laki
tersebut dan berkata: Dimana lokasi tanahmu? Laki-laki itu menjawab di
kota hilwan. Kemudian Umar bin Abdul Aziz pun mendatangi daerah
tersebut dan menyuruh Gubernur setempat untuk mengembalikan tanah
laki-laki tersebut. Dalam konteks keindonesiaan kita baru bisa
menyaksikan dari segenlinter Anggota Dewan yang mengembalikan uang
negara yang tidak merupakan haknya. Mudah-mudahan Pesta Demokrasi 2009
ini adalah seleksi alam bagi mereka. Mereka yang bersih tentu akan
dipilih dan diamanahi rakyat kembali, dan mereka yang tidak jujur dan
bersih bersiaplah untuk tidak dipilih.
Agenda perubahan yang lain adalah menon-aktifkan pejabat-pejabat
yang korup dan zhalim. Diantara pejabat yang dinon-aktifkan adalah
Khaled bin Rayyan. Beliau adalah penjaga pribadi Khalifah Sulaiman bin
Abdul Malik yang memerintah sebelumnya. Khaled digantikan oleh Amru bin
Muhajir Al-Anshari karena ketekunanya beribadah, membaca Al-Quran, dan
gemar melakukan Shalat Tahajjud. Inilah profil pejabat pada masa Umar
bin Abdul Aziz.
Maka apakah pesta demokrasi dekade ini bisa mengantarkan Indonesia
pada yang lebih baik? Apakah pemerintah negeri ini berpihak pada
rakyat? Menciptakan masyarakat Indonesia adil, makmur sejahtera? Semua
jawaban ini tentu kita mulai dengan memilih mereka yang konseisten
membela kepentingan rakyat. dengan membaca Basmallah kita mulai sejarah
baru Indonesia. Wallahu A`lam Bissawaab.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke