saya temukan ini di dunia gaib yg sering diublek2 maya dkk.
 
salam,
 
widi
 
---------------------------------------
 
 http://tobadreams.wordpress.com/2009/04/15/mati-ketawa-gara-gara-pemilu-2009/#more-996
 
Oleh :  Robert Manurung
1. Kita patut merasa lega dan bangga karena kesadaran politik rakyat Indonesia  
ternyata sudah sangat tinggi. Buktinya jumlah caleg secara nasional dalam 
pemilu barusan tak kurang dari 1,7 juta orang. Artinya, di antara 100 pemilih 
ada satu caleg. Ini pasti rekor dunia. Sedangkan di negara jiran, Malaysia, 
rasionya 10.000 : 1.
 
2. Perilaku caleg di Indonesia juga sangat cinta damai. Jika di negara-negara 
lain para politisi tega melakukan kekerasan, dan bahkan membunuh, demi memenuhi 
syahwat kekuasaan; di negeri tercinta ini para caleglah yang mati setelah gagal 
jadi anggota dewan, mulai dari yang terkena serangan jantung sampai yang ikhlas 
bunuh diri.
 
3. Masih soal perilaku caleg, ada juga yang lugu, konyol dan menggelikan. Di 
daerah daerah, sebagaimana diberitakan oleh beberapa stasiun TV, sejumlah caleg 
meminta kembali barang-barang yang sudah diberikan kepada masyarakat 
konstituennya. Ada yang berupa alat musik rebana, tabungan di bank, dan bahkan 
karpet pun ada. Pangkal soalnya gampang ditebak : si caleg kalah alias tidak 
mendapat suara yang diharapkan dari masyarakat yang telah disogoknya. 
 
4. Sifat pemberitaan media massa sangat cenderung mengobarkan sinisme umum 
terhadap caleg. Seolah-olah semua caleg adalah politisi busuk. Ironisnya, pada 
saat yang sama, media massa sangat ramah terhadap caleg dan capres yang 
beriklan di medianya. Sejatinya, tabiat media massa sama saja dengan semua 
politisi dan masyarakat awam; yang memaknai serta memanfaatkan panggung politik 
dan pemilu demi fulus semata-mata.  Cuma kelompok golput saja yang bisa 
dipastikan tidak ikut aji mumpung alias nihilis. 
 
5. Meski belum tersedia data resmi, namun bisa dipastikan Pemilu 2009 telah 
menimbulkan dampak positif  bagi perekonomian nasional, utamanya di bidang 
jasa, perdagangan, dan sebagian manufaktur. Berdasarkan perkiraan kasar saja 
kemungkinan perputaran uang yang terkait dengan pemilu tak kurang dari Rp 300 
triliun; mulai dari kucuran APBN lewat KPU sampai pengeluaran caleg dan capres 
untuk belanja iklan, atribut-atribut kampanye, transportasi, komunikasi, artis, 
sampai uang saku peserta kampanye dan buat “serangan fajarâ€. Dengan kata 
lain, tidak benar bawa pemilu merupakan pemborosan, tapi malah sebaliknya 
menjadi instrumen pemerataan ekonomi dengan cara yang serong. Lebih baik dong 
orang-orang kaya itu membelanjakan uangnya di sini, karena tergiur kekuasaan, 
daripada mereka hambur-hamburkan di luar negeri, iya kan ?      
 
6. Pemilu 2009 membuktikan untuk kesekian kalinya bahwa rakyat Indonesia sudah 
sangat dewasa dan matang dalam berdemokrasi. Jika di banyak negara lain masa  
kampanye dan hari pemilihan selalu menimbulkan kecemasan bakal terjadi 
kerusuhan, di Indonesia mah asyik-asyik aja. Pada kampanye kemarin masyarakat 
Indonesia sangat nyantai dan syur, karena hampir semua acara kampanye 
menyuguhkan konser musik dan goyang erotis biduan-biduan seksi. Dan, 
partai-partai yang dulunya ngotot menggolkan UU Pornografi, kali ini sengaja 
melanggar undang-undang “porno†itu demi menghibur rakyat. Baik ya…
 
7. Bicara soal kontroversi UU Pornografi bakalan tidak habis-habisnya, dan bisa 
menjadi tindakan pornografi tersendiri. Karena itu baiklah kita batasi 
membicarakan topik ini hanya terkait dengan PKS. Pertanyaan iseng aja nih : 
apakah kecenderungan merosotnya dukungan terhadap partai ini lantaran tidak 
menghidangkan goyang erotis di panggung kampanyenya ? Atau, jangan-jangan 
manuver PKS yang mempahlawankan Soeharto dalam iklannya yang menuai 
kontroversi, dan usahanya menyamar seolah-olah partai terbuka, justru dianggap 
terlalu “erotis†atau masuk kategori pornografi politik oleh para pendukung 
dan simpatisannya sendiri ?  
 
8. Waktu hari pencontrengan kemaren, suasana di TPS-TPS benar-benar 
mencerminkan sikap masyarakat Indonesia yang kekeluargaan, ramah-tamah, 
toleran, dan penuh canda. Meski dilarang oleh undang-undang, masyarakat merasa 
oke-oke saja saling mempengaruhi bakal pilihan masing-masing. Ada yang mengaku 
bingung milih siapa atau partai mana; lalu ada yang nyodorin nama caleg dan 
partai tertentu. Ada juga yang jauh-jauh hari sudah bertekad menerapkan secara 
konsekwen slogan pemilu yaitu jurdil, alias mencontreng semua kandidat…..   
 
9. Masyarakat kita memang punya karakteristik tersendiri yang pasti memusingkan 
para pakar politik di dunia barat. Kalau buat para pakar makna pemilu adalah 
mengoreksi dan memperbarui mandat rakyat untuk satu periode ke depan, itu mah 
terlalu serius buat di sini. Bagi sebagian besar rakyat Indonesia, pemilu 
adalah agenda lima tahunan yang penuh berkah, janji-janji kosong, joget, dan 
kenikmatan bermain-main dengan nasib sendiri. Salah satu contohnya aksi 
solidaritas spontan masyarakat di lingkungan rumah Wiranto, capres dari Partai 
Hanura. Mereka masih sakit hati dan merasa ikut dipermalukan ketika Wiranto 
kalah di TPS di wilayah Bampu Apus (Jakarta Timur) itu dalam Pilpres 5 tahun 
lalu, yang didramatisir oleh media massa. Makanya dalam pemilu kali ini, 
semata-mata atas nama solidaritas bertetangga dan demi menjaga citra permukiman 
mereka, masyarakat di sana membulatkan tekad : Wiranto boleh kalah di tempat 
lain, tapi tidak di TPS kita . Hasilnya ?
  Hanura menang telak di TPS itu. 
 
10. Pemilu tak mungkin terselenggara tanpa KPU, dan kali ini kreativitas mereka 
sungguh luar biasa. Selain berhasil mengubah cara memberi suara dari mencoblos 
jadi mencontreng, yang berarti harus ada anggaran ekstra untuk sosialisasi, 
mereka pun sukses besar “menghilangkan†hak pilih jutaan rakyat lewat modus 
DPT yang amburadul itu. Lebih ajaib lagi, gara-gara tuan-tuan dan puan-puan di 
KPU itu para arwah pun ikut terdaftar sebagai pemilih. Entah siapa yang 
diuntungkan oleh kejeniusan KPU yang kelewatan itu…..
 
11.  Tak perlu disangsikan lagi,  Jusuf Kalla adalah politisi sejati yang 
sungguh lihai. Hanya puluhan menit setelah hasil Quick Count diumumkan; dan 
menunjukkan keunggulan signifikan Partai Demokrat; Ketua Umum Golkar yang juga 
Wapres itu kontan menyampaikan ucapan selamat kepada Susilo Bambang Yudhoyono. 
Lalu, orang-orang dia  menyetel berita di media massa : JK siap berduet kembali 
dengan SBY. Orang-orang yang tak suka padanya, dan kaum moralis, kontan 
bereaksi menuding JK sebagai manusia plin-plan. Pasalnya, sebelum pencontrengan 
dia sesumbar akan maju sebagai calon presiden, bahkan disertai “kecap†bahwa 
pemerintahannya bakal lebih cepat membawa perubahan dibanding pemerintahan SBY. 
Orang-orang lupa bahwa makna politik buat  JK adalah seni memanfaatkan setiap 
peluang dan cara untuk (ikut) berkuasa…..
 
12. Orang-orangnya SBY sendiri tak kalah lucunya. Entah karena kelewat mabuk 
kepayang oleh eforia kemenangan, beberapa politisi Partai Demokrat berulang 
kali mengatakan kepada media massa bahwa SBY akan bertindak hati-hati dalam 
menyusun pemerintahan. Buset dah. Emangnya pemerintahan disusun berdasarkan 
hasil pemilu legislatif ?  Sing eling, coy….wong pertandingannya aja belum 
dimulai…..
 
13. Media massa juga meniup-niupkan bahwa Megawati akan akan membentuk 
“trio†dengan Wiranto dan Prabowo Subianto. Lho ?  Mereka bertiga kan 
sama-sama pengen jadi capres, berarti “suara satu†semua dong….bagaimana 
mungkin mereka membentuk “trio†yang kompak dan merdu ?     



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke