http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/04/17/4211.html

Presiden:
Pemerintah Tidak Mengintervensi Pelaksanaan Rekonstruksi dan Rehabilitasi 
Aceh-Nias

*Presiden SBY menyampaikan sambutan pada acara pembubaran BRR Aceh-Nias di 
Istana Negara, hari Jumat (17/4) pagi. (foto: rusman/presidensby.info)

Jakarta: Pada pelaksanaan rekontruksi dan rehabilitasi Aceh dan Nias pasca 
Tsunami selama empat tahun lamanya, pemerintah tidak terlalu mengontrol dan 
mengintervensi, karena kalau itu terjadi tidak akan membawa kebaikan. Demikian 
dikatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari Jumat (17/4) pagi pada acara 
pembubaran BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) NAD-Nias, di Istana Negara.

”Saya dengan wapres berdikusi waktu itu, dan menerima rekomendasi beberapa 
menteri, saya berjam-jam diskusi pula dengan Kuntoro Mangunbroto, akhirnya saya 
hanya memberikan general direction. Selebihnya kepala pelaksana BRR sendirilah 
yang menyusun organisasinya. Saya berikan ruang yang cukup untuk merumuskan 
sendiri obyektif, organisasi, mekanisme, rule dan sebagainya," kata SBY di 
hadapan Wapres Jusuf Kalla, Ketua DPR-RI Agung Laksono, para menteri Kabinet 
Indonesia Bersatu, para duta besar negara-negara sahabat, lembaga donatur 
asing, LSM baik dalam negeri maupun luar negeri, serta tokoh masyarakat Aceh 
dan Nias. Hadir pula Gubernur NAD Irwandi Yusuf dan Sumatera Utara, Syamsul 
Arifin.

Menurut Presiden, kalau terlalu dikontrol dan diintervensi dari pusat atau dari 
Jakarta, tidak membawa kebaikan. ”Kita berikan tugas, kita berikan mandat, kita 
tentukan arahnya, silahkan pimpinan yang bersangkutan mengorganisasi, 
merencanakan, melaksanakan dan mengawasi bagaimana sebuah kaidah-kaidah 
manajemen ,” kata SBY.

Mengapa hasil BRR ini bagus, tanya SBY. "Karena adanya efektif, time line 
implementasi. “Meski master plannya bagus, organisasinya bagus, kalau minggu 
demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, tapi implementasi di lapangan 
tidak baik, tidak ketat dengan time line, tidak ketat dengan sasaran demi 
sasaran yang ingin dicapai, saya yakin hasilnya tidak sebaik sekarang ini ,” 
ujar SBY. “Dalam beberapa kesempatan saya datang meninjau untuk melihat 
progress dari BRR ini. Saya tahu dari penjelasan Ketua BRR dan semua yang ada 
di situ dan time line itu bisa dipenuhi , dan kemudian masalah-masalah yang 
terjadi semua bisa diatasi,” tambahnya.

Ditambahkan, banyak penyakit di dunia, baik dalam keadaan bencana mamupun saat 
rekontruksi di daerah-daerah konflik terganggu karena governance tidak baik, 
tidak akuntabel, tidak responsif, tidak kapabel, bahkan ada korupsi. “Ini bukan 
cerita yang luar biasa. Ini cerita yang biasa, di banyak dunia. Di sini banyak 
duta besar, kita mendengar banyak sekali miss management, penyimpangan, baik 
pasca bencana atau di daerah konflik. Saya terima kasih kepada Ketua BRR yang 
telah membangun suatu standar untuk membangun suatu model untuk governance yang 
bagus yang tentunya akan terus kita kembangkan di seluruh Indonesia ,” kata SBY.

Sebelumnya Presiden SBY menerima Buku Laporan Kegiatan, masing –masing dari 
Ketua BRR Kontoro Mangun Subroto, Ketua Dewan Pengawas BRR Naima Hasan, Ketua 
Dewan Pengarah BRR Menko Polhukam Widodo AS. Panitia pembubaran BRR juga 
menampilkan film dokumenter tentang kejadian tsunami yang melanda Aceh dan 
Nias, serta kegiatan BRR di lapangan. (win/mit)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke