Sepenggal Kisah Hidup Sardiyoko :  Dari Aktivis Anti Soeharto, Lingkungan Hidup 
Hingga Perkumpulan Penderita Psoriasis Arthritis 
semoga bermanfaatsalam hangatandre


''Jadi, ada dua periode dalam hidup saya ini. Pertama, dikejar-kejar tentara.
Kedua, dihajar penyakit,'' ……….Sardiyoko
2 Tahun Berpindah-pindah Tempat dan Menyamar Untuk Menghindari Penculikan 

3 Tahun Memimpin Walhi Jawa Timur

7 Tahun Melawan Penyakit Psoriasis Arthritis



Dalam rubrik Metropolis People harian Jawa Pos 18 April 2009 menuliskan kisah
kawan Sardiyoko. Dahulu selama mahasiswa ia aktif di Solidaritas Mahasiswa
untuk Demokrasi, kemudian setelah menyelesaikan kuliahnya yang sempat tertunda
karena berada di pelarian ia bergabung di Walhi Jawa Timur dan akhirnya
menjabat Direktur. Kemudian karena penyakit yang dideritanya ia berbilang tahun
terpaksa meringkuk tak berdaya di ranjang (bahkan berbicara pun susah payah
dilakukannya). Sardiyoko mengatakan ia bisa bertahan melawan penyakit Psoriasis
Arthritis tak pelak karena mental sudah tertempa karena dulu aktif di
organisasi pergerakan menentang Soeharto. 



Terkait kisah hidupnya ia berpesan kepada kawan-kawannya



Saudaraku... berikut ini saya postingkan berita tentang kisah saya dalam
menghadapi sakit yang saya derita selama ini.....



Semoga bisa menjadi inspirasi buat kita semua untuk tetap semangat.



Tetap semangat





Terima kasih Yoko, karena mau berbagi termasuk kejujuranmu. Contohnya yang satu
ini “(saya ) Pernah Ditodong Pistol Orang Tak Dikenal sampai Ngompol” 





Berikut beberapa petikan kisah hidup Sardiyoko seperti dilaporkan oleh Jawa
Pos.



Dia menceritakan, awal pergulatan dia dengan dunia aktivis adalah ikut
Solidaritas Mahasiswa Indonesia
untuk Demokrasi (SMID) pada 1993. Organisasi itu terkenal sangat militan. Para 
anggotanya kondang sebagai orang-orang tanpa rasa
takut. Mereka tidak gentar berdemonstrasi dan melakukan rapat-rapat bawah
tanah. Padahal, saat itu kuku kekuasaan militer Soeharto masih kuat menancap. 



Tak heran, Sardiyoko kemudian menjadi salah seorang sasaran penculikan paling
utama tentara Orde Baru waktu itu. Risiko tersebut disadari penuh oleh
Sardiyoko. Pada suatu malam pada 1995 misalnya, dia pernah ditodong pistol
ketika berada di Terminal Arjosari oleh seorang tak dikenal. Sebab, Sardiyoko
ditengarai menjadi organisatoris bagi buruh dan mahasiswa, menentang beberapa
kebijakan Orde Baru. ''Saya diancam akan dibuang ke Kali Brantas kalau tidak
menghentikan aktivitas ini. Terus terang saya ketakutan. Sampai ngompol di
celana,'' ceritanya sambil terkekeh. 



*****************



Setelah melakukan pelarian selama dua tahun lebih, Sardiyoko bisa bernapas
lega. Sebab, Soeharto sudah turun dan konstelasi politik berubah. Pada 1999,
dia memutuskan menyambung kuliahnya yang sempat lama terputus di Jurusan Ilmu
Politik Unair. Akhirnya pada 2001, dia lulus dari sana. Pada 2002, dia 
memutuskan masuk Wahana
Lingkungan Hidup Indonesia
alias Walhi. Pada tahun yang sama, dia diangkat menjadi direktur Walhi Jawa 
Timur
sampai 2005. ''Jadi, ada dua periode dalam hidup saya ini. Pertama,
dikejar-kejar tentara. Kedua, dihajar penyakit,'' celetuknya, lalu tertawa.



****************



Sardiyoko sadar telah mengalami semacam euforia kesehatan. Sebab, lebih dari
tujuh tahun dia dihantam penyakit ''mengerikan' '. Namanya psoriasis arthritis.
Itu sejenis radang tulang yang menyerang persendian. Bagi yang terserang
penyakit itu, sendi akan mengalami peradangan hebat. Tulang belulang sangat
nyeri dan kaku hingga tidak bisa digerakkan. 



Hingga hari ini pun, dunia kedokteran masih belum mampu menyembuhkan secara
total penyakit tersebut. ''Jadi, ya bertahun-tahun ini saya hanya tergolek di
tempat tidur. Jangankan untuk jalan, bicara saja susah. Nyeri, sakit sekali,''
jelasnya. ''Karena itu, saya betul-betul menikmati fase ini,'' lanjutnya. 





Selengkapnya



http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/dari-aktivis-anti-soeharto-lingkungan.html




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke