Seluk-beluk dan hiruk-pikuk Pemilu 2009 (5)


Berhubung dengan banyaknya persoalan-persoalan yang « rumit » dan parah yang
berkaitan dengan pemilu 2009, dan untuk memberi kesempatan kepada banyak
kalangan mengikuti sekedarnya perkembangan hal-hal itu, maka website
http://kontak.club.fr/index.htm menyajikan setiap hari berbagai berita,
tulisan atau analisa (pendapat) yang terbaru tentang pemilu legislatif dan
pemilu presiden 2009. Berita, tulisan, atau komentar itu semuanya
dikumpulkan di bawah judul “Seluk-beluk dan hiruk-pikuk pemilu 2009”.
Sebagian dari isi kumpulan itu akan disiarkan juga melalui berbagai milis.



^^ ^^



 Liputan6, 18 April 2009


Suara Suara Digambari Palu Arit

Liputan6.com, Temanggung: Hingga Jumat (17/4), Komisi Pemilihan Umum
Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, bersama polisi masih menyelidiki kasus
surat suara yang digambari palu arit. Surat suara itu digambar seseorang
yang menggunakan hak pilihnya di Desa Gandulan, Kecamatan Kaloran, Kabupaten
Temanggung, pada Pemilu Legislatif 9 April lalu.

Sudjatmiko, Ketua KPU Kabupaten Temanggung, berharap pelaku bisa segera
ditangkap sehingga motifnya segera diketahui. Kasus ini ramai dibicarakan
masyarakat.(BOG/Yon Daryono dan Bagus Pradana)


* * *


Gatra, 17 April 2009

Pernyataan KPU


Tak Ada Alasan Batalkan Hasil Pemilu

 Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary menegaskan, tidak ada
alasan bagi KPU untuk membatalkan hasil pemilihan umum (pemilu) anggota DPR,
DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, yang berlangsung pada 9 April
2009.

"Tidak ada alasan untuk membatalkan hasil pemilu, tidak cukup kuat
alasannya," katanya, di Jakarta, Kamis (16/4), setelah menjelaskan hasil
rapat kerja KPU dan KPU provinsi.

Hal ini disampaikan Ketua KPU menanggapi pertanyaan tentang adanya pihak
yang menginginkan agar hasil pemilu dibatalkan dan dilakukan pemilu ulang.

Menurutnya, dugaan pelanggaran yang terjadi dalam pemilu untuk memilih
anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota, mesti dibuktikan,
dugaan pelanggaran tidak bisa dijadikan alasan untuk membatalkan hasil
pemilu. "Kalau cuma dugaan tidak bisa, harus ada pembuktian. Selain itu,
kita tidak temukan klausul dalam Undang-Undang yang membenarkan pembatalan
hasil pemilu," katanya.

Menurut Hafiz Anshary, KPU provinsi dan kabupaten/kota juga menolak jika ada
pembatalan hasil pemilu.

Mengenai permasalahan pada daftar pemilih tetap (DPT) pemilu legislatif,
ujar Hafiz, KPU telah bekerja sesuai dengan Undang-Undang. "Apabila ada yang
tercecer atau tertinggal, itu bukan kesengajaan," katanya menegaskan.

Hafiz Anshary menjelaskan, KPU mengalami banyak kendala selama proses
pemutakhiran daftar pemilih untuk pemilu legislatif sehingga masih ada
pemilih yang telah memenuhi syarat tetapi tidak dapat menggunakan hak
pilihnya karena tidak terdaftar.

Masalah serupa, harapnya, tidak terjadi pada pemilihan presiden dan wakil
presiden 2009. Rapat kerja KPU dan KPU provinsi memutuskan bahwa semua
komponen di jajaran KPU dari tingkat pusat hingga daerah harus berusaha
maksimal untuk melakukan perbaikan-perbaikan pada DPT pemilu legislatif yang
akan digunakan sebagai daftar pemilih sementara (DPS) pemilihan presiden.

Pemutakhiran daftar pemilih untuk pilpres dilaksanakan hingga 10 Mei,
selanjutnya pengumuman DPS pemilihan presiden pada 11-17 Mei 2009.
Masyarakat diminta aktif memastikan dirinya telah terdaftar atau belum. [EL,
Ant]



  a.. * *
  b..
Kompas, 16 April 2007


SBY Paling Dipilih Publik

JAKARTA, KOMPAS.com — Nama Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarnoputri,
dan Prabowo Subianto paling banyak dipilih dan didiskusikan oleh publik.
Namun, di antara ketiga nama itu, SBY paling banyak dibicarakan, sekitar
49,6 persen dari Mega yang hanya 14,1 persen serta Prabowo 5,6 persen.

Hal itu dikatakan Direktur Lembaga Survei Indonesia Dodi Ambardi saat
merilis hasil exit poll "Pilihan Atas Anggota DPR dan Calon Presiden" di
kantor LSI, Jakarta, Kamis (16/4). "SBY memang masih punya peluang untuk
kembali terpilih dibanding lawan-lawannya," kata Dodi.

Bila jumlah calon dibatasi hanya 6 nama, dituturkan Dodi, SBY dipilih oleh
53 persen dengan konsekuensi pemilu presiden hanya satu putaran. "Bila
dikerucutkan 3 nama capres, maka SBY akan dipilih oleh 60 persen pemilih,
sementara dukungan untuk Mega, Prabowo, JK, Wiranto, dan Sultan tak
menunjukkan tanda-tanda kemajuan," jelasnya.

Survei yang dilakukan 9 April 2009 bertepatan dengan pemilu legislatif ini
digunakan metode exit poll. Survei dilakukan di 2.100 TPS yang dipilih
secara random dan proporsional dari seluruh provinsi. Di tiap TPS yang
terpilih itu ditentukan 2 pemilih sebagai responden yang semuanya berjumlah
4.200 responden dengan margin of error 1,7 persen.

Responden diwawancara dengan pertanyaan bila pilpres diadakan sekarang,
siapa nama-nama yang akan dipilih. Penanya mengajukan pertanyaan itu tiga
kali dengan disodori daftar calon presiden sejumlah 27 nama lebih, 6 nama
dan 3 nama.

Dalam kesimpulan survei ini disebutkan, dukungan terhadap SBY sangat solid
dari partainya. Sementara Mega dan Prabowo cukup solid meski dua figur ini
belum mampu menarik pemilih di luar massa pemilih partai mereka.

Dukungan untuk SBY berasal dari partai lain cukup banyak, kecuali dari massa
PDI-P dan Gerindra. Misalnya dari massa Golkar, PPP, dan PAN.



 * *

Statemen  ALIANSI BURUH MENGGUGAT

HASIL PEMILU 2009 HARUS DITOLAK KARENA BUKAN PEMILU RAKYAT, CURANG DAN TIDAK
LEGITIMATE

Jauh-jauh hari Aliansi Buruh Menggugat (ABM) menyatakan bahwa Pemilu 2008
adalah bukan Pemilu rakyat, sehingga harus ditolak. Saat ini Pemilu telah
usai dan hasil-hasilnya telah kita ketahui sendiri. Premis awal bahwa Pemilu
2009 kemarin bukanlah Pemilu rakyat telah terbukti.

Pertama, bukti bahwa Pemilu kemarin bukan milik rakyat adalah dengan melihat
komposisi pemenang Pemilu, terutama partai-partai yang lolos parliamentary
threshold. Partai-partai tersebut adalah partai miliknya kaum borjuasi,
meliputi partai penyokong orde baru sampai partai pimpinan eks militer
pelanggar HAM. Bisa dikatakan seluruh partai kepunyaan elit-politik yang
memenangi Pemilu kemarin tidak memiliki keberpihakkan yang jelas pada
kepentingan rakyat, terlibat dalam penyusunan UU neoliberal dan pro
ekonomi-pasar, mendukung kenaikan harga BBM dan anti-subsidi.

Kedua, hasil Pemilu 2009 tak bisa dibedakan dengan arisan politik kaum
elit-politik dan partai borjuasi, dimana rakyat diposisikan sebagai pemilih
pasif dan tingga terima ketidakberesan kekuasaan 5 tahun ke depan, boleh
dikata, tidak ada perbedaan yang berarti dalam hal komposisi pemegang
kekuasaan, kecuali pergeseran kedudukan antar satu partai borjuasi ke partai
borjuasi lainnya. Karena tiadanya perbedaan bermakna ini, maka perilaku,
kebijakan dan kekuasaan yang dijalankan para wakil rakyat 5 tahun ke depan
tidak akan berbeda dengan wakil rakyat 5 tahun ke belakang. Bahkan, mereka
yang terpilih duduk di parlemen nantinya kembali meneruskan dan mengukuhkan
kebijakan-kebijakan anti rakyat, seperti penghapusan subsidi, privatisasi,
pembuatan UU anti-rakyat, penjualan asset-aset strategis bangsa dan menjadi
negara yang mudah disetir oleh kepentingan kapitalisme internasional.

Pemilu-nya rakyat mensyaratkan partai-partai yang terlibat di dalamnya
mewakili kelas masing-masing, entah borjuasi entah rakyat pekerja. Dengan
kompoisi ini, Pemilu memastikan pertempuran antara 2 kepentingan, yakni yang
bermodal dan tidak bermodal. Sementara, Pemilu kemarin dan yang sudah-sudah
hanya mencerminkan kelompok borjuasi, sehingga tidak memungkinkan wakil kaum
tertindas naik ke pentas kekuasaan. Pemilu yang ideal juga melahirkan para
pimpinan politik dari bawah, yakni mereka yang bekerja dengan dan bersama
massa. Namun sementara ini, mereka yang berpunya dan bermodal besarlah yang
bisa mengambil kepemimpinan politik dari daerah hingga pusat. Melalui apa
yang disebut money politic, kaum berpunya menggunakan kekuatan uang untuk
membeli suara pemilih.

Karena bukan milik rakyat, maka Pemilu 2009 otomatis tidak memenangkan
rakyat!

Konsekeunsi lanjutan dari pernyataan di atas mendorong ABM pun untuk
melakukan penolakan serupa terhadap hasil-hasil dari Pemilu 2009. Di tambah
dengan perkembangan yeng terjadi baik pra maupun hari-H pelaksanaan Pemilu
2009 yang amburadul dan penuh rekayasa, hasil-hasil Pemilu 2009 wajib
ditolak. Tak bisa dibantah, hasil Pemilu 2009 penuh kecurangan dan tidak
legitimate. Dengan kondisi ini, pemerintah yang dihasilkan 5 tahun ke depan
memiliki legitimasi rendah dan tidak berkualitas.

Pertama, angka golput sangat tinggi (diprediksi mencapai 40%), tertinggi
dalam sejarah perhelatan Pemilu nasional di negeri ini. Pemenang pertama
pemilu 2009 hanya mencakup seperlima pemilih, kurang dari setengah dari
mereka yang memilih tidak memilih. Persoalan teknis administratif yang
digembar-gemborkan (untuk menutup-nutupi jumlah golput yang dianggap
ideologis) sehingga orang menjadi golput tidak dapat menghalang-halangi
kenyataan bahwa antusiasme masyarakat dengan adanya Pemilu 2009 memang
sangat rendah. Rakyat mengerti dan paham, siapapun pemenang Pemilu tidak
akan sanggup menyelesaikan persoalan ketidaksejahteraan rakyat, sehingga
memilih pun tidak ada gunanya. Bahkan dengan menjadi golput, pesan
ketidaksukaan sekaligus ketidakpercayaan terhadap elit pemimpin produk
Pemilu 2009 bisa disampaikan dengan lebih jelas dan tegas.

Kedua, amburadulnya pelaksanaan Pemilu 2009 sungguh tidak bias diolerir.
Banyak surat-surat suara antar DPT yang tertukar, pencantuman pemilih ganda
yang meluas dan tidak bisa dilogika, di jaman serba canggih begini, banyak
warga yang sah sebagai pemilih justru tidak tercantum namanya di DPT. Dan
dengan alasan konyol, KPU dapat membatakan hak memilih warga karena
semata-mata tidak ada dalam DPT.. Problem teknis ternyata dapat membatalkan
hak memilih! Ini adalah pemandangan unik dan paling tercela sedunia dalam
hal pelaksanaan Pemilu. Lebih lucu lagi, mereka yang tidak bisa menggunakan
haknya ini mulai dari warga biasa, selebritis, pengusaha bahwa ada petugas
KPPS sendiri. Artinya siapa saja bisa kehilangan hal pilih, terkenal tidak
terkenal bahkan mereka yang mengurusi Pemilu secara langsung!

Kasus-kasus Pemilu 2009 mengingatkan kita pada pelaksanaan pemilu-pemilu di
masa orde baru yang penuh kecurangan, rekayasa dan tipu-tipuan..

Belum ada angka yang pasti jumlah pemilih yang tidak bisa menggunakan
haknya. Namun yang pasti jika digabungkan dengan yang golput dapat melebihi
50%. Maknanya, justru yang memilih haknya dengan sadar kurang dari setengah
jumlah pemilih atau minoritas.

Kasus-kasus ini menguatkan sikap ABM bahwa Pemilu 2009 dan hasil-hasilnya
wajib ditolak. Dengan berangkat dari logika: proses yang cacat dan buruk
menghasilkan pemerintahan yang tidak berkualitas, ABM menegaskan
pemerintahan hasil Pemilu 2009 tidak memiliki kemungkinan menghantarkan
Indonesia ke arah kesejahteraan yang dicita-citakan. Jika ada sebagian orang
memiliki harapan pada status-quo yang bakal memenangi Pilpres, maka ABM
justru sebaliknya. Harapan itu tak pernah ada selama berada di genggaman
kaum borjuasi.

Pemerintahan hasil Pemilu kemarin mau tidak mau adalah bentuk pemerintahan
oligarki karena tidak ada pemenang mutlak. Pemerintahan oligarki berarti
bagi-bagi kekuasaan seenak perut mereka yang berada di kursi empuk
kekuasaan. Jabatan-jabatan diputar-putar, ditimbang-timbang semata-mata
untuk memuaskan partai-partai berkuasa dan bukannya untk memuaskan rakyat.
Kompromi dan kongkalikong mewarnai corak kekuasaan 5 tahun ke depan, yang
artinya tidak berbeda dari yang dulu-dulu.

Lalu, jika pemerintahan sekarang kembali berkuasa, kekhawatiran patut
dikobarkan. Karena di Pemilu berikutnya, SBY tidak dapat lagi mencalonkan
dirinya, justru kekuasaannya 5 tahun nanti (apabila terpilih kembali) bakal
digunakan untuk menyedot kekayaan negara habis-habisan.
Pendukung-pendukungnya pasti menggunakan kesempatan 5 tahun ini untuk
memanfaatkan kesempatan sebesar-besarnya: sebesar-besarnya kecurangan dan
sebesar-besarnya penyalahgunaan kekuasaan.

Waktu terus berjalan dan tidak ada gunanya menyesali keadaan. Takdir telah
terpatok, tetapi manusia memiliki sejuta daya dan upaya mengubah keadaan.
Rakyat pekerja mengerti perubahan tidak diletakkan di tangan kuasa borjuis,
melainkan dalam genggaman sendiri. Masa-masa berikutnya wajib menguatkan
agenda-agenda gerakan rakyat pekerja agar memastikan "Buruh Berkuasa, Rakyat
Sejahtera".

Tak henti-hentinya bagi ABM untuk menyerukan:

1.       Industrialisasi nasional serta reforma agraria yang kuat mandiri,
dan berkeadilan ekologis

2.       Nasionalisasi industri strategis dibawah kontrol rakyat

3.       Menolak bayar utang

4.       Pemberantasan korupsi serta menyita harta koruptor

5.       Semua elit dan partai politik yang besok berkuasa sudah patut untuk
tidak diikuti dan dipatuhi, Rakyat Indonesia harus membangun kekuatan
politik rakyat sendiri yang berpegang teguh pada demokrasi politik dan
demokrasi ekonomi rakyat mayoritas. Hanya dengan membangun alat politik
sendiri, partai politik kelas pekerja, partainya rakyat mayoritas, maka
pembebasan sejati dari eksploitasi kelas modal dalam terwujud.

Jakarta, 13 April 2009

Koordinator BPN ABM

Anwar “Sastro” Maruf



SERUAN UNTUK TURUN KE JALAN

MEMPERINGATI  HARI BURUH INTERNASIONAL

1 MEI 2009 MENYATAKAN PERLAWANAN TERHADAP REZIM

ABM (Aliansi Buruh Menggugat):

KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia), FPBJ (Federasi Serikat
Buruh Jabodetabek), SBTPI (Serikat Buruh Transportasi Perjuangan Indonesia),
FSPM Jakarta (Federasi Serikat Pekerja Mandiri), AJI Jakarta (Aliansi
Jurnalis Independent), SBSI ’92 (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia 1992),
SBB (Serikat Buruh Bangkit), SBI-Jabotabek (Serikat Buruh Indonesia), HIMKHI
(Himpunan Ikatan Mantan dan Karyawan Hotel Indonesia),

bersama:

SP AP 1 (Serikat Pekerja Angkasa Pura 1), Sekar PerumNas (Serikat Karyawan
Perum Nas), SMI (Serikat Mahasiswa Indonesia), WALHI (Wahana Lingkungan
Hidup Indonesia), KPA (Konsorsium Pembaharua Indonesia), IKOHI (Ikatan Orang
Hilang Indonesia), IGJ (Institute Global Justice), LBH Jakarta (Lembaga
Bantuan Hidup), KONTRAS (Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan),
KPOP (Komite Persiapan Ormas Pemuda), PAWANG (Paguyuban Warga Anti
Penggusuran), JB (Jurnal Bersatu), PRP (Perhimpunan Rakyat Pekerja)









No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.557 / Virus Database: 270.12.0/2065 - Release Date: 17/04/2009
17:52


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke