Pengandaian di "Alam Ghaib" Itu….
by: Widiyanto_Asfa

Alkisah, terjadilah percakapan “virtual” nan „ghaib“ dan "imajiner" antara dua 
anak manusia, di pojok dunia antah berantah (ini adalah percakapan „virtual“ 
lagi „ghaib“ dan "imajiner". Bisa jadi pernah terjadi di dunia si maya, atawa 
semata pengandaian, atawa terjadi secara ghaib di dunia mimpi (karena kata para 
filsuf dan mistikus, kita bisa juga berkomunikasi dengan orang lain via mimpi)).

A: Jika pada satu titik waktu tertentu, semua laki-laki di muka bumi ini sudah 
menemukan jodohnya. Yang tersisa adalah orang yang kau benci sampai ke 
ubun-ubun itu (yang menurut penilaianmu, dia itu berpenampilan jadul lah, tidak 
gaul lah, tidak macho lah, tidak gentle lah, tidak empatik, tidak kreatif lah, 
tidak humoris lah, mbosenin lah dan seabrek "lah-lah" lainnya). Apa dirimu 
masih tidak mau juga untuk nikah dengan dia?
B: (sambil bersungut-sungut) kamu doakan yang jelek padaku ya. Tega nian.
A: sabar. Itu hanya pengandaian (bukan „andai-andai lumut“).
B: (menjawab secara reaktif, mungkin karena terlalu sering mengkonsumsi mie 
instant dan bacaan instant) mengandaikan itu kerjaannya setan! Itu kesesatan 
berpikir!

A: (hanya tertawa) kek kek kek. Secara logika, kita boleh mengandaikan.
B: Kalau gitu, saya mau nikah dengan pria beristeri yang isterinya mau 
meninggal (sssst...dia dah lupa dengan klaim heroik dan meletup-letupnya tadi 
bahwa "mengandaikan adalah kerjaannya setan").
A: (tertawa lagi) kek kek kek (belum nemu cara ketawa lain yang lebih bagus, 
makanya cuma kek kek kek, mungkin kebanyakan makan tokek. di sini dia batasi 
cuma tiga kali tertawanya, walau sebenarnya masih pingin tertawa, tapi ditahan 
aja, karena teringat pada petuah sahabat tercinta yang selalu ia dengarkan 
dengan penuh empatik, "alle gute dinge sind drei". Sengaja dia tidak tertawa 
pakai formula "ha ha ha" karena malu kalau ditertawain kucing karena terkesan 
standar banget, kurang kreatif. Dia juga merasa bahwa tertawa pakai formula 
"kuk kuk kuk" kedengaran kurang bagus dan kurang macho. Mau tertawa "kak kak 
kak" nanti dikira "blekok"atawa ayam mau kawin. "Kok kok kok", takut dikira 
ayam mau bertelur. "Kik kik kik", malu dikira tikus kena asma. capek deh. yang 
baca aja capek, apalagi yang nulis).
B: (dengan sewot) mengapa kamu cuma tertawa? ada apa gerangan?

A: Dari satu sisi kamu egois, dan ada terbersit di benakmu harapan yang kurang 
baik akan orang lain.
B: (menjawab dengan ketus) EGP.
A: Lalu mau dikemanakan bujangan yang bernasib kurang mujur tadi?
B: (dengan ketus) bukan urusan saya, mau ke laut kek, mau nyebur ke sungai kek, 
mau ke mana kek. Ngapain saya pikirin.
A: Dari satu sisi, kamu kurang adil. Kamu sudah mengambil pilihan yang kurang 
empatik.
B: (dengan sok tahu) EGP. Oya saya ada ide (dengan wajah berbinar-binar. kalau 
di film kartun atawa di komik mungkin muncul tanda tuing-tuing atau gambar 
lampu bolam), suruh aja bujangan itu untuk minta orang yang beristri lebih dari 
satu agar mau memberikan salah satu isterinya.

A: Kamu sudah ada sedikit kemajuan. Tapi coba dipikirkan. Jarang sekali orang 
yang mau menghibahkan isterinya pada orang lain. Dalam sejarah, adalah kaum 
Anshar yang sampai rela menghibahkan salah satu istri mereka untuk kaum 
Muhajirin. Tapi ada baiknya juga, kamu dah berpikir positif pada orang lain, 
bahwa ada yang sangat ikhlas seperti halnya para sahabat Nabi tersebut. Itu 
salah satu yang bisa dijadikan alternatif. Tapi ada juga alternatif lain.
B: (dengan menggeser tempat duduknya, karena ngebet ingin tahu, seperti halnya 
wartawan infotainment yang ngebet dapat berita heboh) apa itu?
A: Kita doakan saja semoga muncul pasangan hidup untukmu dan semoga juga 
bujangan tersebut dikaruniai jodoh. Kita harus sadar bahwa Tuhan itu mengatasi 
logika, tidak tunduk pada hukum logika (beyond the logic). Selalu saja, ada 
pengecualian dan keajaiban. Lagian itu cuma pengandaian, ngapain kamu pikirin 
terlalu serius sampai bersungut-sungut tadi, padahal kamu bukan jangkrik 
(makhluk yang juga dirahmati Allah itu). Pengandaian itu „ada“ dalam 
angan-angan, namun tidak mesti „ada“ dalam kenyataan.
B: Apa maksudnya "ada" dalam angan-angan?
A: Sabar coy! nanti inshaallah saya terangkan dalam kesempatan lain. kamu masih 
terkesan terlalu gegabah dan terburu-buru dalam memahami dan memaknai realitas. 
(Dalam dunia sufi, dikisahkan ada seorang murid yang disarankan gurunya untuk 
menjadi pengemis lagi tiga tahun, karena dilihatnya sang murid ini masih tinggi 
egonya, sok tahu, dan di dalam hatinya masih terbersit rasa bahwa "saya lebih 
saleh dan lebih bersih dari makhluk lain". Namun karena cerita ini tidak 
terjadi di dunia tasawuf, dan hubungan dua anak manusia tadi bukanlah relasi 
guru-murid, maka dengan menyesal sedalam-dalamnya ceritanya di buat seperti ini 
saja. Harap diketahui bahwa si B tidak bayar SPP, dan si B juga tidak baiat 
pada si A, maka si B bukanlah murid si A).

(Sekedar bocoran cerita mendatang, si B ini akhirnya secara tak terduga 
menyatakan siap menikah dengan bujangan tadi (ini agak buram dan diburamkan, 
karena pengaruh bacaan instant, atawa karena ketulusan hati, atawa si B dah 
melakukan perenungan lain di luar jalur yang lazim, cuma si B dan penulis 
sendiri yang paham. pembaca mohon jangan protes, kalau ada yang dirahasiakan 
(mau tahu aja ini pembaca, layaknya wartawan infotainment -)). Selang beberapa 
waktu, mereka berdua pun menikah. Mungkin karena ketulusan hati si B, akhirnya 
si "mantan bujangan kurang beruntung" itu pun berubah seperti yang diidamkan 
semula oleh si B. Padahal si B sudah lupa akan kriteria suami idamannya. Begitu 
juga si "mantan bujangan kurang beruntung" itu pun menerima si B dengan tulus, 
sehingga lambat laun si B berubah menjadi wanita yang diidamkannya. Sekedar 
catatan, bahwa si "mantan bujangan" ini sekalipun dulu mendapat hadiah segudang 
atribut jelek, namun tetap bermimpi
 mendapat isteri yang nyaris sempurna. Ini mungkin karena kurang sering ngaca, 
terlalu pede, atawa terlalu optimis akan anugerah Tuhan yang tak terduga. 
Melihat happy ending pasangan ini, si A pun tak kuasa menitikkan air matanya).

("Ceritanya tidak seru!" "Penulisnya tidak kreatif!" "Endingnya niru cerita 
joko kendil!", begitu protes sebagian pembaca. Melihat penulisnya diprotes para 
pembaca, si A, si B dan "mantan bujangan" pun tertawa kek kek kek (tertawanya 
seragam karena dipandu oleh si A). "Syukurin, emang enak dikerjain. Tadi kamu 
ngerjain kita kita", begitu ujar mereka). 
 
http://widiyantoasfa.blogspot.com/2009/04/pengandaian-di-alam-ghaib-itu.html


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke