bubarin aja, gt ajah koq repot!

Jamaah Ahmadiyah NTB Acuhkan SKB


Hidayatullah.com--Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) di Nusa Tenggara Barat(NTB) 
dinilai hingga kini tidak mau mematuhi Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri 
Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa
Agung, karena hingga kini masih tetap eksklusif, terutama dalam
melaksanakan ibadah.
Kakanwil Depag NTB, H. Lalu Suhaimi Ismy, di Mataram,
Jumat, mengatakan, berbagai upaya pendekatan secara formal kedinasan
maupun dengan menurunkan sejumlah tuan guru (ulama sepuh) untuk
memberikan pemahaman kepada para anggota JAI telah dilakukan, namun
hingga kini tidak pernah direspon.
Sejumlah
tuan guru sepuh ditugaskan memberikan "tausiyah" kepada para jemaat
Ahmadiyah yang hingga kini masih mengungsi di asrama Transito Mataram,
agar mereka membaur dengan masyarakat sekitarnya, termasuk dalam
melaksanakan ibadah Jumat.
Namun,
kenyataannya mereka tidak melaksanakan. Mereka melaksanakan salat Jumat
di musala asrama Transito dengan alasan ada sejumlah jemaat perempuan
Ahmadiyah ikut melaksanakan salat.
Menurut
Suhaimi, sebenarnya para jemaat Ahmadiyah tersebut bisa saja ikut
berbaur salat Jumat bersama warga sekitarnya, karena hampir di setiap
masjid disiapkan tempat untuk jamaah perempuan yang melaksanakan salat
Jumat.
"Karena
itu kami dari Tim Pengawasan Ahmadiyah akan menggelar rapat dengan
Gubernur, Jumat Malam (17/4) untuk menyampaikan laporan dan informasi
terakhir mengenai berbagai upaya yang telah dilakukan dalam penanganan
Ahmadiyah tersebut," katanya.
Mengenai
kemungkinan dikeluarkan larangan aliran Ahmadiyah, dia mengatakan, itu
akan dibahas dalam pertemuan tersebut, namun akan tetap diupayakan agar
penanganan Jemaat Ahmadiyah di NTB dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
"Jangan
sampai menimbulkan masalah, terutama yang dapat mengganggu keamanan dan
ketertiban masyarakat. Kami berupaya mencari solusi terbaik dalam
penanganan jemaat Ahmadiyah, jangan sampai menimbulkan masalah baru,"
katanya.
Jumlah
anggota JAI di NTB, khususnya yang mengungsi lebih dari dua tahun di
asrama Transito Metaram, tercatat 144 orang, termasuk 10 orang bayi
yang lahir di asrama milik Dinas Transmigrasi tersebut. 
[bi/www.hidayatullah.com]



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke