kapitalisme dan demokrasi, pasar bebas dan manusia bebas,
tidak bisa berjalan berdampingan sebagaimana klaim selama ini (the shock
doctrine)


Beberapa minggu terakhir merupakan masa sibuk. Sejak buku “The Shock
Doctrine” diluncurkan, Naomi Klein–38 tahun–telah menjadi seseorang yang paling
menonjol dan berpengaruh diantara kaum kiri Amerika – sebagaimana Howard Zinn
dan Noam Chomsky tiga puluh tahun yang lalu. Nyaris setiap hari dia berbicara
di seluruh dunia, dan ratusan orang datang untuk mendengarkan. Mereka
mengunjungi websitenya dan mendaftarkan diri kedalam newsletter-nya serta
mengirimkan surat
penggemar yang penuh hasrat. Dia telah menjadi ikonnya ikon: Radiohead dan
Laurie Anderson turut mempromosikan bukunya kepada penggemar mereka; laporannya
di Baghdad
menginspirasi John Cussack membuat film komedi “War, Inc”. Direktur film asal
Meksiko, Alfonso Cuan merasa sangat yakin dengan “The Shock Doctrine” sampai
membuat film promosi pendek dengan cuma-cuma. Sekarang, secara mendadak, Naomi
Klein diminta dimana-dimana. Munculnya krisis ekonomi menjadi bukti teori
“shock doctrine” dan semua orang menginginkan Naomi muncul di televisi dan
menjelaskannya.



Tema utama The Shock Doctrine adalah bahwa kapitalisme dan demokrasi, pasar
bebas dan manusia bebas, tidak bisa berjalan berdampingan sebagaimana klaim
selama ini. Justru sebaliknya, kapitalisme–setidaknya kapitalisme
fundamentalis, salah satu tipe yang dipromosikan oleh almarhum Milton Friedman
dan kroni “Chicago School” (Mazhab Chicago)–menjadi begitu tidak popular dan
berbahaya bagi semua orang kecuali si kaya dari yang terkaya, dimana
perwujudannya membutuhkan tipuan terbaik dan yang lebih buruk lagi adalah
terror dan siksaan. Friedman mempercayai bahwa pasar akan bekerja baik ketika
dibebaskan dari campur tangan pemerintah, sehingga dia mengadvokasi penghapusan
tarif, subsidi, aturan tentang upah minim, perumahan publik, jaminan sosial,
peraturan finansial, perijinan, termasuk bagi dokter, ya, boleh dibilang
menghapus seluruh ukuran yang dipakai untuk melindungi masyarakat dari logika
kejam pasar. Naomi berargumentasi bahwa satu-satunya kondisi dimana populasi
akan menerima reformasi gaya
Friedman adalah ketika ada kondisi kejut, baik itu karena bencana alam,
serangan teroris dan perang. Seseorang yang mengalami shock akan berada pada
kondisi seperti anak-anak yang merindukan sosok orang tua pengontrol; serupa
dengan itu, masyarakat dalam kondisi shock akan dengan mudah memberikan kuasa
kepada para pemimpin dan mengijinkan mereka menghancurkan fungsi mengatur
pemerintah.

 



Petikan  ini adalah
bagian terjemahan tulisan Larissa MacFarquhar, Outside Agitator: Naomi Klein
and the New New Left yang dimuat di www.newyorker.com pada 3 Desember 2008.
Artikel ini di terjemahkan oleh Mellyana Frederika, kontributor
Mediabersama.com. dalam 9 bagian (karena panjangnya artikel ini)



untuk akses ke artikel ini silah kunjung 

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/04/naomi-klein-ikonnya-ikon-penulis-shock.html




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke