Oleh: Shohibul Anshor SIregar

        
Pada zaman baheula pendidikan itu tentu tak perlu banyak neko-neko, karena 
missinya cuma untuk menjamin proses sosialisasi generasi pengganti untuk 
mengatasi tantangan zamannya yang juga sederhana. Jadi mungkin orang hanya 
harus diajar berburu satwa liar untuk dimakan; membunuh harimau dan ular agar 
jangan memakan manusia atau mengganggunya dalam menjalankan kehidupan. Makin 
berkembang sedikit, orang mungkin mulai berfikir di lahan mana akan 
melncecerkan benih padi terbaik agar nanti bisa berpanen lebih besar. 
Berkembanglah cara menangkap ikan dengan menggunakan bubu (jebakan berupa 
kurungan ikan yang ditempatkan di perairan) selain tombak. Antara tombak dan 
bubu tentu harus dilihat sebagai being process (proses menjadi). Dalam konsep 
bubu terdapat jawaban yang lebih menjangkau masa yang lebih panjang ke depan, 
sedangkan tombak melukiskan mekanisme hidup "cari makan saat lapar".

Selain itu tentu saja ada mekanisme mempertahankan kelompok dari ancaman 
serangan kelompok lain. Mereka memilih orang-orang terkuat untuk bertugas 
mendeteksi bahaya, yang mampu bertindak sekuatnya melindungi seluruh warga. 
Itulah tentara buat mereka. Tak perlu seragam dan pangkatnya simbolis saja 
dengan amat mendasarkan kemampuan riil belaka. Pandai membuat dan menggunakan 
ultop (anak panah tanpa busur yang ditiup sekerasnya melalui sebatang bambu 
kecil), atau ketapel. Kira-kira seperti itulah.  

Keberhasilan masyarakat belajar dalam taraf seperti itu tidak memerlukan 
penyorotan dengan berbagai isntrumentasi yang rumit. Tak perlu rapor dan tak 
perlu sertifikat. Hanya yang penting generasi demi generasi yang mengalami 
proses sosialisasi itu benar-benar secara praktis mampu bertahan (survive) dan 
itu samalah artinya dengan mempersiapkan generasi pengganti secara 
berkelanjutan. Memang sederhana betul identifikasi kompetensi yang harus 
ditransmisikan (diteruskan) kepada generasi pelanjut. UAN-nya malah berlangsung 
setiap hari ketika orang terlibat dalam mengarungi kehidupan. Gagal mengalahkan 
tantangan kehidupan, bermakna UAN-nya gagal (bisa berupa ditimpa kayu, digigit 
ular atau bahkan dimakan harimau). Itulah dulu.

Begitulah orang tidak merasa mampu bertahan jika hanya bersekolah dekat rumah, 
melainkan harus memilih sebuah tempat yang jauh karena di sana tersedia bukan 
cuma tenaga kependidikan dan sumber belajar lebih baik. Kita tidak lagi pada 
tahap masyarakat berburu dan meramu, bukan lagi nomad dari satu ke lain 
lingkungan rimba yang kaya sumber kehidupan untuk sebuah masyarakat subsisten 
(senin-kemis) dengan anggota yang tidak terlalu banyak.
Semakin maju semakin berkembang kebutuhan untuk menyempurnakan pendidikan. 
Tetapi harus dikatakan kegagalan demi kegagalan, dan itu bukan cuma khas 
Indonesia. Tantangan zaman kerap lebih cepat berkembang ketimbang kemampuan 
mempersiapkan generasi yang kompeten menanggulangi tantangan zamannya. Persis 
seperti perkembangan jumlah manusia dengan kemampuan menyediakan rumah, 
perkembangan jumlah kenderaan dengan panjang dan lebar jalan yang bisa dibuat, 
dan seterusnya. Atau, ledakan lulusan perguruan tinggi yang tak kompeten untuk 
pasaran kerja yang ada hingga harus melahirkan pengangguran intelektual yang 
amat berbahaya.

Si Doel Anak Sekolahan dalam Industri Modern Pendidikan
Zaman makin maju, orang tidak lagi merasa cukup jika hanya melakukan sendiri 
proses sosialisasi terhadap anaknya di sekitar rumah dan ladang sendiri, karena 
yang perlu diajarkan itu semakin banyak dan itu karena masyarakat terus 
berkembang. Memang ilmu pengetahuan itu berkembang secara kumulatif dengan amat 
revolusioner. Paradigma (pokok tantangan suatu cabang ilmu), teori dan 
eksemplar (hasil-hasil kajian), demikian kata sosiolog Georg Ritzer, berkembang 
secara revolusioner menyebabkan seseorang yang ahli pada satu bidang serasa tak 
mungkin mengetahui kepesatan yang terjadi pada cabang ilmu lain. Praktisnya, 
guru besar sekalipun pada satu bidang memang bisa hanya layak menjadi murid 
untuk cabang ilmu lain. Jadi bukan cuma bapak Si Doel (ingat sutradara cerdas 
Rano Karno yang memberi peran kepada almarhum Benyamin S yang dengan 
keawamananya menyebut si Doel yang sudah lulus sekolah teknik itu sebagai 
"tukang insinyur") yang tak memahami a,b,c,d dunia ilmu pengetahuan dan tidak 
lagi bisa sesederhana memahami pepatah lama "alam berkembang jadi guru". 

Di kota besar seperti Medan seorang guru muda menceritakan bahwa untuk cabang 
ilmu yang diasuhnya pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah (sekolah pendidikan agama 
Islam untuk tingkat dasar) rata-rata orang tua murid hanya mampu mendampingi 
dan sekaligus menjadi konsultan bagi anaknya ketika mengerjakan Pekerjaan Rumah 
(PR) yang dibebankan sampai setara kelas 3 saja. Selebihnya orang tua tak lagi 
mampu kecuali hanya sekadar mendorong semangat anak dengan berbagai macam cara.

Semakin tinggi kesaling-tergantungan (dependensi) yang di tengah-tengah ledakan 
penduduk yang berlaku secara pandangan Malthus (deret ukur) sekaligus juga 
menjadi basis yang kuat untuk berkembangnya industrialisasi pendidikan. 
Industri pendidikan tidak bisa netral karena harus terjebak dengan pembobotan 
muatan bisnis dan juga politik yang mau tak mau memang harus kental. Dalam 
konteks ini tentu bukan si Doel Anak Sekolahan yang satu dengan si Doel Anak 
Sekolahan yang lain yang harus dibayangkan sebagai generasi yang saling 
bersaing dan saling mengalahkan dalam memperebutkan sistem sumber yang terbatas 
dengan segenap kemampuan ilmu pengetahuan dan budaya yang ada pada diri 
masing-masing. Benarlah politik pendidikan juga tak luhur-luhur amat karena di 
dalamnya amat diperlukan memasukkan konsepsi yang kuat untuk saling mengalahkan 
antar bangsa, termasuk penjajahan antara satu dan lain bangsa. Bangsa yang tak 
becus mengurusi pendidikan anak-anak bangsanya (seperti Indonesia yang 
menelantarkan infrastruktur pendidikan, yang anggap enteng terhadap perlunya 
gaji layak bagi guru, yang lebih suka aturan-aturan normatif seperti seragam 
dan seremoni, sambil mengembangkan sistem perkastaan sosial dengan sistematis 
dan pada saat yang sama memberi perhatian luar biasa terhadap instrumen remeh 
seperti UAN) sebetulnya sedang mempersiapkan perbudakan internasional yang 
massif. Bangsa pemasok budak terbesar adalah bangsa yang enggan mengurus 
pendidikannya.

Orde Baru
Mungkin Soeharto melihat perlu banyak uang untuk menjadi penguasa secara 
lestari, dan ia berhasil 32 tahun di singgasana kekuasaan yang tak 
terinterupsi. Pertumbuhan (growth) satu-satunya impian ekonomi Orde baru, minus 
pemerataan. Kekuasaan enggan dialog, apalagi kritik. Kampus, karena amat 
dikhawatirkan dapat memicu protes lewat kecerdasan intelektual, ditenteramkan 
dengan bukan cuma membatasi mereka dari akses ke informasi dan pendidikan 
politik, tetapi juga pemaksaaan mata kuliah yang sama sekali bukan cabang ilmu 
pengetahuan  untuk diajarkan dengan cara yang amat menegangkan. 

Dengan melihat perilaku pemerintahan Soeharto dan pandangannya terhadap 
pendidikan, maka pantaslah warisan bangsa ini begitu terbelakang dalam hazanah 
ilmu pengetahuan dan kualitas sumberdaya manusia (Tinggallah sebuah kenangan 
ketika tahun 1970-an Indonesia memasok guru dalam jumlah besar untuk menggenjot 
mutu pendidikan di Malaysia yang kini sudah berani mengklaim diri sebagai "the 
truly Asia"). Bukannya cuma menteri Dalam Negeri yang wajib dari kalangan 
tentara, bahkan Menteri Agama pun (Alamsyah Ratuprawiranegara dan Tarmizi 
Taher) harus dari kalangan tentara. Jenderal Nugroho Notosusanto bukan cuma 
melakukan semacam proyek distorsi sejarah  ketika ia menjadi Menteri Pendidikan 
dan Kebudayaan, tetapi juga semakin gairah menumbuhkan "tentara-tentara" kampus 
(resimen mahasiswa) yang selain dianak-emaskan juga seakan diberi wewenang 
untuk membangun "kartel-kartel" khusus di kampus. Rupanya negeri ini merasa 
belum cukup aman meski sudah membuat APDN, IIP, LAN, AKABRI dan Lemhanas dengan 
segenap pengsitimewaannya. Memang banyak energi nasional yang akhirnya tampak 
seperti disia-siakan untuk hal-hal yang bukan amat peting.

Siumanlah Indonesia
UAN sebagai pertanda kuat bangsa ini belum siuman dari hipnotis Orde Baru. 
Mungkin saja Mendiknas Bambang Sudibyo memang ingin dikenang dengan UAN ini. 
Biaya besar, energi yang ditunaikan besar, dramatisasinya luar biasa, padahal 
gaji guru tak layak, proyek sertifikasi menjadi semacam gagasan sia-sia, 
infrastruktur menyedihkan, proses belajar mengajar lemah mutu. Memang banyak 
yang mendapat cipratan "rezeki" dari UAN. Rekan saya dekan salah satu Fakultas 
di IAIN Medan mengeluh sudah beberapa hari tak dapat bekerja normal karena 
pegawainya absen berhubung dilibatkan dalam "dramatisasi" pemantauan UAN. 
Rupanya uang jalannya besar, kata dekan itu. 
Dasi diutamakan, celana dan baju belum punya. Sadarlah masyarakat pendidikan 
Indonesia.



Kirim email ke