Pada zaman baheula pendidikan itu tentu tak perlu banyak neko-neko, karena missinya cuma untuk menjamin proses sosialisasi generasi pengganti untuk mengatasi tantangan zamannya yang juga sederhana. Jadi mungkin orang hanya harus diajar berburu satwa liar untuk dimakan; membunuh harimau dan ular agar jangan memakan manusia atau mengganggunya dalam menjalankan kehidupan. Makin berkembang sedikit, orang mungkin mulai berfikir di lahan mana akan melncecerkan benih padi terbaik agar nanti bisa berpanen lebih besar. Berkembanglah cara menangkap ikan dengan menggunakan bubu (jebakan berupa kurungan ikan yang ditempatkan di perairan) selain tombak. Antara tombak dan bubu tentu harus dilihat sebagai being process (proses menjadi). Dalam konsep bubu terdapat jawaban yang lebih menjangkau masa yang lebih panjang ke depan, sedangkan tombak melukiskan mekanisme hidup "cari makan saat lapar".
Selain itu tentu saja ada mekanisme mempertahankan kelompok dari ancaman serangan kelompok lain. Mereka memilih orang-orang terkuat untuk bertugas mendeteksi bahaya, yang mampu bertindak sekuatnya melindungi seluruh warga. Itulah tentara buat mereka. Tak perlu seragam dan pangkatnya simbolis saja dengan amat mendasarkan kemampuan riil belaka. Pandai membuat dan menggunakan ultop (anak panah tanpa busur yang ditiup sekerasnya melalui sebatang bambu kecil), atau ketapel. Kira-kira seperti itulah. Keberhasilan masyarakat belajar dalam taraf seperti itu tidak memerlukan penyorotan dengan berbagai isntrumentasi yang rumit. Tak perlu rapor dan tak perlu sertifikat. Hanya yang penting generasi demi generasi yang mengalami proses sosialisasi itu benar-benar secara praktis mampu bertahan (survive) dan itu samalah artinya dengan mempersiapkan generasi pengganti secara berkelanjutan. Memang sederhana betul identifikasi kompetensi yang harus ditransmisikan (diteruskan) kepada generasi pelanjut. UAN-nya malah berlangsung setiap hari ketika orang terlibat dalam mengarungi kehidupan. Gagal mengalahkan tantangan kehidupan, bermakna UAN-nya gagal (bisa berupa ditimpa kayu, digigit ular atau bahkan dimakan harimau). Itulah dulu. Begitulah orang tidak merasa mampu bertahan jika hanya bersekolah dekat rumah, melainkan harus memilih sebuah tempat yang jauh karena di sana tersedia bukan cuma tenaga kependidikan dan sumber belajar lebih baik. Kita tidak lagi pada tahap masyarakat berburu dan meramu, bukan lagi nomad dari satu ke lain lingkungan rimba yang kaya sumber kehidupan untuk sebuah masyarakat subsisten (senin-kemis) dengan anggota yang tidak terlalu banyak. Semakin maju semakin berkembang kebutuhan untuk menyempurnakan pendidikan. Tetapi harus dikatakan kegagalan demi kegagalan, dan itu bukan cuma khas Indonesia. Tantangan zaman kerap lebih cepat berkembang ketimbang kemampuan mempersiapkan generasi yang kompeten menanggulangi tantangan zamannya. Persis seperti perkembangan jumlah manusia dengan kemampuan menyediakan rumah, perkembangan jumlah kenderaan dengan panjang dan lebar jalan yang bisa dibuat, dan seterusnya. Atau, ledakan lulusan perguruan tinggi yang tak kompeten untuk pasaran kerja yang ada hingga harus melahirkan pengangguran intelektual yang amat berbahaya. Si Doel Anak Sekolahan dalam Industri Modern Pendidikan Zaman makin maju, orang tidak lagi merasa cukup jika hanya melakukan sendiri proses sosialisasi terhadap anaknya di sekitar rumah dan ladang sendiri, karena yang perlu diajarkan itu semakin banyak dan itu karena masyarakat terus berkembang. Memang ilmu pengetahuan itu berkembang secara kumulatif dengan amat revolusioner. Paradigma (pokok tantangan suatu cabang ilmu), teori dan eksemplar (hasil-hasil kajian), demikian kata sosiolog Georg Ritzer, berkembang secara revolusioner menyebabkan seseorang yang ahli pada satu bidang serasa tak mungkin mengetahui kepesatan yang terjadi pada cabang ilmu lain. Praktisnya, guru besar sekalipun pada satu bidang memang bisa hanya layak menjadi murid untuk cabang ilmu lain. Jadi bukan cuma bapak Si Doel (ingat sutradara cerdas Rano Karno yang memberi peran kepada almarhum Benyamin S yang dengan keawamananya menyebut si Doel yang sudah lulus sekolah teknik itu sebagai "tukang insinyur") yang tak memahami a,b,c,d dunia ilmu pengetahuan dan tidak lagi bisa sesederhana memahami pepatah lama "alam berkembang jadi guru". Di kota besar seperti Medan seorang guru muda menceritakan bahwa untuk cabang ilmu yang diasuhnya pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah (sekolah pendidikan agama Islam untuk tingkat dasar) rata-rata orang tua murid hanya mampu mendampingi dan sekaligus menjadi konsultan bagi anaknya ketika mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR) yang dibebankan sampai setara kelas 3 saja. Selebihnya orang tua tak lagi mampu kecuali hanya sekadar mendorong semangat anak dengan berbagai macam cara. Semakin tinggi kesaling-tergantungan (dependensi) yang di tengah-tengah ledakan penduduk yang berlaku secara pandangan Malthus (deret ukur) sekaligus juga menjadi basis yang kuat untuk berkembangnya industrialisasi pendidikan. Industri pendidikan tidak bisa netral karena harus terjebak dengan pembobotan muatan bisnis dan juga politik yang mau tak mau memang harus kental. Dalam konteks ini tentu bukan si Doel Anak Sekolahan yang satu dengan si Doel Anak Sekolahan yang lain yang harus dibayangkan sebagai generasi yang saling bersaing dan saling mengalahkan dalam memperebutkan sistem sumber yang terbatas dengan segenap kemampuan ilmu pengetahuan dan budaya yang ada pada diri masing-masing. Benarlah politik pendidikan juga tak luhur-luhur amat karena di dalamnya amat diperlukan memasukkan konsepsi yang kuat untuk saling mengalahkan antar bangsa, termasuk penjajahan antara satu dan lain bangsa. Bangsa yang tak becus mengurusi pendidikan anak-anak bangsanya (seperti Indonesia yang menelantarkan infrastruktur pendidikan, yang anggap enteng terhadap perlunya gaji layak bagi guru, yang lebih suka aturan-aturan normatif seperti seragam dan seremoni, sambil mengembangkan sistem perkastaan sosial dengan sistematis dan pada saat yang sama memberi perhatian luar biasa terhadap instrumen remeh seperti UAN) sebetulnya sedang mempersiapkan perbudakan internasional yang massif. Bangsa pemasok budak terbesar adalah bangsa yang enggan mengurus pendidikannya. Orde Baru Mungkin Soeharto melihat perlu banyak uang untuk menjadi penguasa secara lestari, dan ia berhasil 32 tahun di singgasana kekuasaan yang tak terinterupsi. Pertumbuhan (growth) satu-satunya impian ekonomi Orde baru, minus pemerataan. Kekuasaan enggan dialog, apalagi kritik. Kampus, karena amat dikhawatirkan dapat memicu protes lewat kecerdasan intelektual, ditenteramkan dengan bukan cuma membatasi mereka dari akses ke informasi dan pendidikan politik, tetapi juga pemaksaaan mata kuliah yang sama sekali bukan cabang ilmu pengetahuan untuk diajarkan dengan cara yang amat menegangkan. Dengan melihat perilaku pemerintahan Soeharto dan pandangannya terhadap pendidikan, maka pantaslah warisan bangsa ini begitu terbelakang dalam hazanah ilmu pengetahuan dan kualitas sumberdaya manusia (Tinggallah sebuah kenangan ketika tahun 1970-an Indonesia memasok guru dalam jumlah besar untuk menggenjot mutu pendidikan di Malaysia yang kini sudah berani mengklaim diri sebagai "the truly Asia"). Bukannya cuma menteri Dalam Negeri yang wajib dari kalangan tentara, bahkan Menteri Agama pun (Alamsyah Ratuprawiranegara dan Tarmizi Taher) harus dari kalangan tentara. Jenderal Nugroho Notosusanto bukan cuma melakukan semacam proyek distorsi sejarah ketika ia menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi juga semakin gairah menumbuhkan "tentara-tentara" kampus (resimen mahasiswa) yang selain dianak-emaskan juga seakan diberi wewenang untuk membangun "kartel-kartel" khusus di kampus. Rupanya negeri ini merasa belum cukup aman meski sudah membuat APDN, IIP, LAN, AKABRI dan Lemhanas dengan segenap pengsitimewaannya. Memang banyak energi nasional yang akhirnya tampak seperti disia-siakan untuk hal-hal yang bukan amat peting. Siumanlah Indonesia UAN sebagai pertanda kuat bangsa ini belum siuman dari hipnotis Orde Baru. Mungkin saja Mendiknas Bambang Sudibyo memang ingin dikenang dengan UAN ini. Biaya besar, energi yang ditunaikan besar, dramatisasinya luar biasa, padahal gaji guru tak layak, proyek sertifikasi menjadi semacam gagasan sia-sia, infrastruktur menyedihkan, proses belajar mengajar lemah mutu. Memang banyak yang mendapat cipratan "rezeki" dari UAN. Rekan saya dekan salah satu Fakultas di IAIN Medan mengeluh sudah beberapa hari tak dapat bekerja normal karena pegawainya absen berhubung dilibatkan dalam "dramatisasi" pemantauan UAN. Rupanya uang jalannya besar, kata dekan itu. Dasi diutamakan, celana dan baju belum punya. Sadarlah masyarakat pendidikan Indonesia. Shohibul Anshor Siregar, Medan.

