http://www.antara.co.id/arc/2009/4/29/bulog-mesin-strategi-ketahanan-pangan/
29/04/09 19:00
Bulog, Mesin Strategi Ketahanan Pangan
Oleh: Jafar M. Sidik
Jakarta (ANTARA News) - "Sekarang, beli benih dan pupuk tidak lagi sesulit
dulu. Jual beras juga menguntungkan karena harganya lumayan tinggi," kata
Engkos Koswara (61), warga Desa Songgom, Kecamatan Gekbrong, Cianjur.
Pengakuan Engkos diamini petani-petani lain di Cianjur, dari Sukanagara di
selatan sampai Warungkondang dan Karang Tengah yang menjadi sentra beras
Cianjur.
"Jika distribusi pupuk tidak sesuai waktunya maka masa panen dan pengadaan
beras bakal terganggu," kata Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar
membenarkan klaim petani soal kaitan erat ketersediaan pupuk dengan hasil panen.
Faktanya, pupuk dan benih yang mudah diperoleh memang kunci keberhasilan panen
di sentra-sentra beras nasional seperti Cianjur hingga berlebih.
Sistem penyerapan beras petani oleh Bulog pun mencetak hasil memuaskan.
Strategi Bulog, diantaranya dengan menghargai tinggi beras petani dan
mendekatkan akses ke petani, menuai hasil, ditandai oleh naiknya stok beras
pada 2008 hingga dua kali lipat dari tahun sebelumnya menjadi 3,2 juta ton.
Intimnya hubungan diantara keduanya tergambar dari desakan Bulog pada
pemerintah agar Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk beras dan gabah
dinaikkan karena biaya produksi yang ditanggung petani juga melonjak gara-gara
naiknya BBM beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, Bulog mendorong terjadi transaksi pangan antar daerah dengan
memacu sejumlah daerah melakukan sistem pengadaan jarak jauh, seperti upaya
Sumatera Utara, Riau, DKI Jakarta membeli beras dari Sulawesi Selatan atau
Kalimantan Barat yang membeli beras dari Jawa Tengah, Kalimantan Timur dari
Sulawesi Selatan.
Dengan tawaran insentif berupa tanggungan karung, pelayanan singkat (sehari),
gudang yang buka selama tujuh hari dengan biaya 20 persen lebih rendah, dan
para pegawai yang proaktif menangkap peluang, Bulog akhirnya mampu memenuhi
ketersediaan pangan yang sebelum ini bermasalah.
Alhasil, penerapan manajemen stok yang terorganisasi ini, serapan beras Bulog
mengalami surplus dan membuat Indonesia bisa mengekspor lagi beras sekaligus
memperoleh devisa lebih dari US$ 500 juta (Rp 5,5 triliun). Demikian pula
dengan realisasi penyerapan raskin (beras untuk orang miskin) yang pada periode
Januari-Juni 2008 saja mencapai 1,36 juta ton atau 86,23% dari target semula.
Dunia pun, lewat FAO, mengapresiasi tinggi pencapaian ini untuk kemudian
meminta Bulog berbagi kisah sukses ini dengan dunia pada 18-19 Februari lalu di
Roma.
Diperluas
Di dalam negeri, apresiasi tak kalah tinggi terlontar, salah satunya dari
Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) yang mendesak tugas dan wewenang Perum Bulog
diperluas ke sistem distribusi pupuk dan benih.
"Kelancaran distribusi pupuk akan meningkatkan hasil panen dan Bulog sudah
mengetahui detail masalah yang dihadapi petani," kata Ketua KTNA Winarno Tohir.
Tidak saja karena Bulog merupakan lembaga penyangga distribusi pangan yang
kredibel dengan infrastruktur di seluruh Indonesia, distribusi pupuk oleh Bulog
bisa menekan spekulasi pupuk yang belum lama ini membuat Indonesia kewalahan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Sarwono bahkan menilai stabilitas pangan
berpengaruh besar pada stabilitas ekonomi dengan menyatakan harga komoditas
strategis seperti beras, berperan dalam meredam laju inflasi. Stabilnya harga
beras telah menekan inflasi (Indeks Harga Konsumen) sampai 4,9 persen pada 2006
dan 5,6 persen pada 2007.
Atas dasar ini BI meminta Bulog menyerap seluruh produksi beras untuk mengikis
peran dominan pedagang pengumpul yang selama ini kerap mengatur stok dan
membuat harga bergejolak sehingga memicu inflasi.
Sektor formal pun mengakui posisi Bulog krusial dalam membangun ketahanan
pangan, sehingga 13 lembaga pertanian dan perbankan memutuskan bekerjasama
dengan Bulog dalam kerangka Program Khusus Penguatan Cadangan Beras Nasional.
Ketigabelas lembaga itu adalah Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan,
Perum Perhutani, Bank BRI, Bukopin, PTB Pusri, PT Petrokimia, PT Pupuk Kujang,
PT Pupuk Kaltim, PT Pertani, PT Sang Hyang Seri dan Kontak Tani Nelayan Andalan
(KTNA).
Melihat fungsi khusus ketigabelas lembaga itu, terlihat bahwa ketahanan pangan
terus disikapi holistik dan integral, tidak semata urusan Bulog. Dari soal
pupuk sampai pendaaan perbankan.
Posisi Bulog pun semakin strategis dalam mencipta ketahanan pangan. Ini sejalan
dengan klaim para pakar internasional bahwa sistem stok pangan seperti
diperankan Buloga, adalah kunci ketahanan pangan dan sistem harga pangan yang
kenyal dari spekulasi.
Dalam laporannya pada 2008, Bank Pembangunan Asia (ADB) membenarkan klaim itu
dengan menyebut stok pangan yang lemah akan membuat negara rentan dari
perubahan cepat pada suplai dan spekulasi harga sehingga ketahanan pangan pun
terancam.
Strategis
Fakta ini telah menguatkan asumsi bahwa fungsi yang dilakoni Bulog memang
sangat strategis dan demikian menantang. Apalagi Bulog mesti menjawab tantangan
tidak seimbangnya ketersediaan lahan, lambannya inovasi pertanian, cepatnya
pertambahan penduduk serta konversi lahan produktif, dan masih besarnya
ketergantungan pada impor.
Berdasarkan data pertanian yang ada, lahan pertanian produktif yang tersedia
kini hanya 7,7 juta hektar, padahal Indonesia membutuhkan sedikitnya 11 juta
hektare. Tak itu saja, derasnya konversi lahan produktif hingga 100 ribu
hektare per tahun telah mempermuram ekspektasi karena konsekuensinya Indonesia
harus kehilangan produksi padi sekitar 500 ribu ton per tahun.
Ini memang bukan lahan Bulog, namun dari kacamata pengukuran kebutuhan pangan
nasional dan keselarasannya dengan ketersediaan stok, persoalan ini
mempengaruhi daya serap Bulog. Mau tak mau, Bulog harus memperkuat posisinya
sebagai sistem distribusi pangan andal, diantaranya dengan meningkatkan
kualitas infrastruktur.
Persoalan infrastruktur sendiri menjadi mendesak karena teknologi pasca panen
seperti silo dan fasilitas pergudangan penyimpanan beras, umumnya memerlukan
perbaikan. Selain itu, Bulog mesti membangun gudang baru di daerah-daerah hasil
pemekaran dan yang kekurangan gudang.
Untuk perbaikan infrastruktur ini, mengutip Mustafa Abubakar beberapa waktu
lalu di DPR, Bulog menyebut angka Rp230 miliar. Sungguh sebuah jumlah yang
wajar, setidaknya bisa dianggap sebagai bagian dari subsidi pemerintah untuk
menyerap produk pangan dan memacu produkivitas pertananian nasional.
Asal tahu saja, AS rata-rata menyalurkan subsidi 1,7 miliar dolar AS atau 232
dolar AS per hektare yang pada praktiknya dinikmati sepuluh raksasa agrobisnis
AS yang diantaranya berfungsi mirip Bulog namun motifnya murni mencari untung.
Merekalah yang menguasai sepertiga pasar benih global, 80 persen pasar
pestisida dunia, dan 57 persen total penjualan produk pangan dunia.
Realita ini harus mendorong Indonesia untuk secepatnya menguasai hulu dan hilir
dari produksi pangan, yaitu menyangkut bagaimana benih, pupuk dan fasilitas
impor lain tidak mematikan kemampuan lokal.
Dan kunci untuk mencapai ini adalah dengan terus memperkuat institusi Bulog
agar mudah diakses petani dan kredibel sehingga stabilitas harga pangan terjaga
untuk kemudian membuat sistem ketahanan pangan nasional kenyal dari gejolak
harga. (*)
[Non-text portions of this message have been removed]