http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/04/29/20572011/Koalisi.Jumbo.Sulit..Kalahkan.SBY

Koalisi Jumbo Sulit Kalahkan SBY 

 Rabu, 29 April 2009 | 20:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Koalisi besar atau jumbo yang digalang oleh PDI 
Perjuangan dan Golkar diperkirakan masih sulit mengalahkan Susilo Bambang 
Yudhoyono pada pilpres 2009. Sebab, suara masyarakat yang diberikan untuk 
partai politik belum tentu sama saat pilpres.

"Koalisi bukan matematika. Ini asumsi lama yang gagal pada (pemilu presiden) 
2004," kata peneliti senior Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin 
Muhtadi, pada diskusi "Siapa Yang Bisa Mengalahkan SBY", di Jakarta, Rabu 
(29/4).

Sebelumnya, pertemuan tim kecil Partai Golkar dan PDI-P sepakat membentuk 
koalisi jumbo untuk memperkuat pemerintahan pada 2009-2014. Partai lain yang 
akan diajak bergabung adalah Hanura, Gerindra, dan PPP.

Burhanuddin mengatakan, jika perolehan suara parpol tersebut dijumlah memang 
cukup besar. Namun, katanya, elite partai jangan terjebak bahwa suara yang 
diperoleh partai tersebut akan sama dengan suara yang akan diberikan kepada 
capres yang diusung oleh koalisi besar tersebut.

Ia mengingatkan kejadian pada pilpres 2004. Saat itu, Megawati Soekarnoputri 
yang didukung PDI-P, Golkar, dan partai lainnya kalah oleh Yudhoyono pada 
putaran kedua pilpres.. Padahal, suara parpol yang mendukung Yudhoyono kalah 
jauh dengan parpol pendukung Megawati.

Burhanuddin juga mengatakan bahwa saat ini SBY sulit untuk dikalahkan, kecuali 
ada momentum yang pas atau Yudhoyono melakukan kesalahan fatal. "Belum ada 
sosok alternatif yang membuat pilpres lebih menarik," katanya.

Mengenai momentum yang bisa membuat tingkat keterpilihan SBY menurun, 
Burhanuddin mengatakan, salah satunya adalah dampak krisis global. Namun, 
katanya, saat ini pemerintahan Yudhoyono relatif dapat mengatasinya. "Oleh 
banyak pihak, Indonesia dianggap lebih baik dibanding negara lainnya," katanya.

Namun, ia juga mengingatkan agar lawan Yudhoyono tidak menggunakan kampanye 
negatif karena hal itu justru kontraproduktif. "Masyarakat tidak suka sesuatu 
yang agresif dan menyerang," katanya.


MSH 
Sumber : Ant


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke