http://www.republika.co.id/berita/50037/Kenya_Adopsi_Teknologi_Budidaya_Ikan
Kenya Adopsi Teknologi Budidaya Ikan
MANADO -- Pemerintah Kenya sedang menjajaki transfer teknologi buatan Indonesia
untuk pengolahan atau budidaya ikan sekaligus produk-produk ikannya.
Menteri Pengembangan Perikanan Kenya, Otuoma Paul Nyongesa, ditemui saat
Pameran Indonesian Aquaculture, di Manado, Sulut, Rabu pagi (13/5) mengatakan,
selama ini pihak pemerintah belum memiliki pengalaman budidaya ikan yang layak,
sehat dan cepat.
''Selama ini, para nelayan Kenya selalu mengkonsumsi ikan langsung dari laut,
namun jarang yang dibudidayakan supaya bisa berkelanjutan untuk kebutuhan
sehari-hari,'' ujar Nyongesa, yang mengenakan baju jas biru didampingi sejumlah
stafnya.
Nyongesa tidak malu ingin belajar langsung kepada nelayan atau pengusaha
perikanan Indonesia dalam budidaya ikan. Bahkan, kehadirannya dalam acara
Konferensi Kelautan Dunia (WOC) di Manado dari tanggal 11 sampai 15 Mei nanti,
dimaksudkan untuk menyerap sebanyak mungkin informasi tentang teknologi
budidaya perikanan.
''Kami sangat senang belajar dari Indonesia, bagaimana mengelola produk ikan,
supaya bisa dikonsumsi,'' katanya.
Sejauh ini, kata Nyongesa, dalam pengelolaan ikan secara tradisional di Kenya
banyak mengalami sejumlah kendala, seperti keterbatasan jumlah ikan disaat
terjadi badai atau perubahan cuaca di laut. Jika tidak dilakukan pembudidayaan
ikan, maka nelayan setempat tidak bisa menyimpan ikan dalam jumlah banyak untuk
kebutuhan ketika terjadi perubahan cuaca yang membuat nelayan tidak bisa melaut.
Alasan Pemerintah Kenya memilih transfer teknologi budidaya ikan dari
Indonesia, karena banyak kesamaan kondisi alam maupun cuaca kedua negara
tersebut. Posisi kedua negara berada di garis ekuator yang sama, dan juga
memiliki akses langsung ke Samudera Hindia. ''Kami sangat berharap dorongan
kedua negara bisa mewujudkan kerjasama di bidang ini,'' ujar Nyongesa,
menambahkan.
Lebih dari itu, Nyongesa bahkan mempersilakan investor dari Indonesia untuk
mengembangkan teknologi pengolahan ikan di negaranya dan siap memberikan
pelayanan serta memenuhi kebutuhan dari investor, jika berkenan datang ke Kenya.
Ditemui di tempat sama, Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numberi,
menyambut positif langkah Pemerintah Kenya. Freddy bahkan siap menugaskan
Ditjen Budidaya DKP untuk mengirim sejumlah tenaga ahli pembudidayaan ikan Nila
ke Kenya, guna memberikan pelatihan kepada nelayan disana.
Direktur Jenderal Budidaya Ikan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) RI,
Made L Nurdjana, membenarkan bila DKP siap mengirim tim ahli budidaya ikan ke
Kenya untuk mendampingi para nelayan disana, khususnya pembudidayaan ikan Nila,
yang memiliki nilai tambah bagi nelayan.
''Kami akan mengirim tim budidaya ikan Nila dan memberikan pengalaman kepada
mereka (nelayan Kenya),'' kata Made.
Menurut sejumlah catatan, ikan Nila ini dikabarkan aslinya berasal dari afrika.
Ribuan tahun ikan ini disukai oleh banyak orang sampai sekarang ini. Dahulu
ikan nila hanya dimakan oleh orang-orang tertentu didalam kerajaan karena
rasanya dan dagingnya berbeda dengan ikan air tawar lainya. Rasa ikan ini manis
dan gurih, sedang dagingnya tidak bertulang.
''Ikan nila kebanyakan hanya bisa hidup di daerah tropis seperti Indonesia.
Akan tetapi di negara empat musim juga membudidaya ikan nila dengan cara
moderen. System pengairan menggunakan heater pada musim dingin,'' papar Made.
- zak/ahi
[Non-text portions of this message have been removed]