http://www.sinarharapan.co.id/berita/0905/13/opi01.html


Di Bawah Kuasa Orde Baru
Oleh
Saidiman

Robert A Dahl, ilmuwan politik terkemuka, pernah mengemukakan bahwa demokrasi 
yang selama ini kita saksikan bukanlah praktik demokrasi yang sebenarnya 
seperti yang selalu dibicarakan para pemikir dan filsuf. Praktik demokrasi yang 
ada saat ini, di mana pun, hanyalah poliarki. Poliarki, dalam definisi Dahl, 
adalah sebentuk sistem di mana kekuasaan publik selalu berputar di kalangan 
elite saja, tidak pernah benar-benar memberi kesempatan kepada semua orang 
untuk juga berkompetisi dalam perebutan kekuasaan bersama para elite. Sirkulasi 
kekuasaan yang hanya ada pada para elite itu disebabkan terutama hanya para 
elitelah yang memiliki sumber daya.

Realitas politik yang terjadi di Indonesia sekarang ini kembali membuktikan 
teori Dahl tersebut. Wacana mengenai calon presiden dan wakil presiden tidak 
keluar dari lingkaran elite yang memang sejak awal dekat atau berada pada 
lingkaran kekuasaan. Bahkan, kandidat-kandidat presiden dan wakil presiden 
terkuat adalah anak-anak langsung dari para mantan penguasa. Megawati 
Soekarnoputri adalah anak mantan penguasa nomor satu negeri ini, Soekarno. 
Susilo Bambang Yudhoyono adalah anak dan menantu petinggi militer dan jenderal 
yang juga sangat berkuasa pada masa Orde Baru. 

Jusuf Kalla adalah anak juragan terkemuka yang mendominasi perniagaan di 
Indonesia Timur, Haji Kalla. Sultan Hamengku Buwono X adalah anak dari Raja 
Jawa Sultan Hamengku Buwono IX yang juga mantan wakil presiden. Prabowo 
Subianto adalah anak arsitek ekonomi Orde Baru, Soemitro Djojohadikusumo, dan 
mantan menantu Jenderal Besar Soeharto. Wiranto adalah mantan Panglima Tentara 
Nasional Indonesia (TNI). Hampir tidak ada nama baru dalam perebutan kursi 
nomor satu dan dua politik Indonesia. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Andi Faisal Bakti di Kabupaten Sengkang 
Sulawesi Selatan, Kekuasaan Keluarga di Wajo, Sulawesi Selatan (2007), 
menemukan bahwa perubahan sistem politik masyarakat Sengkang tidak mengubah 
struktur kekuasaan. Para raja dan keluarganya yang berkuasa pada masa kerajaan 
terus mewariskan kekuasaan itu di dalam masa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde 
Reformasi. Sistem memang terus berubah, namun kekuasaan terus berputar di 
kalangan elite keluarga raja yang sejak dulu memang berkuasa. Penelitian itu 
memperlihatkan bahwa mulai dari bupati, Ketua DPRD, ketua-ketua instansi 
pemerintah, sampai para camat dan desa/kelurahan hampir semuanya adalah 
keluarga raja atau paling tidak mereka yang loyal terhadap struktur kekuasaan 
politik keturunan raja. 

Arena Para Mantan Penguasa Orba
Fakta ini menjelaskan bahwa sesungguhnya pengaruh kekuasaan para raja dan 
keturunannya di pelbagai wilayah di Indonesia masih sangat dominan. Dominasi 
kekuasaan para raja itu dibaca dengan baik oleh elite semacam Susilo Bambang 
Yudhoyono yang mengumpulkan para raja Nusantara beberapa saat sebelum pemilu 
legislatif. Pencalonan diri Sultan Hamengku Buwono sebagai presiden sampai saat 
ini adalah salah satu ancaman serius Yudhoyono pada perebutan kursi nomor satu 
pada Pemilihan Umum Presiden 2009. 

Penjelasan utama yang bisa diberikan adalah bahwa penguasaan sumber daya 
menjadikan para elite terlalu susah untuk ditumbangkan. Yang paling mungkin 
dilakukan adalah pergantian sistem. Tetapi, kekuasaan akan tetap dan selalu 
berputar di lingkungan elite yang sebelumnya memang merupakan penguasa.

Banyak aktivis yang menyesalkan capaian reformasi di mana para aktor kekuasaan 
Orde Baru kembali menjadi pemain-pemain utama dalam kancah politik nasional. 
Hampir tidak ada celah bagi kekuatan lain di luar kekuatan mantan pendukung 
Orde Baru yang sekarang bersaing memperebutkan kursi-kursi kekuasaan. Sejumlah 
mantan jenderal, yang pada masa Orde Baru merupakan pendukung utama jalannya 
kekuasaan tangan besi pemerintah, sekarang bersaing ketat memperebutkan posisi 
presiden dan wakil presiden. Tidak heran jika kemudian muncul sejumlah 
kesimpulan dengan nada menyesal bahwa reformasi bukan hanya mengembalikan 
kedaulatan rakyat, melainkan menciptakan arena bagi para mantan penguasa di 
masa Orde Baru untuk bersaing sendiri atas nama kedaulatan rakyat. 

Sekali lagi, yang paling mungkin menjelaskan fenomena ini adalah pada 
penguasaan sumber daya yang begitu besar dan tak mampu ditandingi sedikit pun 
oleh kekuatan politik alternatif di luar gerbong Orde Baru.


Rakyat Tidak Diberi 
Pilihan Lain
Pertanyaannya, di mana kekuatan reformasi yang dulu demikian gegap gempita 
menuntut perubahan? Amien Rais, yang disebut-sebut sebagai tokoh reformasi, 
tanpa tedeng aling-aling memberikan dukungan kepada Susilo Bambang Yudhoyono, 
salah satu jenderal Orde Baru. Amien Rais bahkan mendorong partainya, Partai 
Amanat Nasional (PAN), untuk bersekutu dengan partai besutan Yudhoyono, 
Demokrat. Anehnya, PAN adalah partai yang dilahirkan oleh para intelektual 
pro-reformasi. 

Tokoh gerakan pro-demokrasi di masa Orde Baru, KH Abdurrahman Wahid, tanpa 
sungkan memberi dukungan kepada Prabowo Subianto dan Partai Gerindra. Prabowo 
adalah mantan jenderal yang disebut-sebut berada di balik aksi penculikan dan 
penghilangan para aktivis di akhir kekuasaan Orde Baru. 

Semua fakta ini mengarah kepada satu kesimpulan bahwa Orde Baru telah kembali. 
Kekuatan itu tidak hanya dominan, melainkan juga begitu hegemonik. Rakyat 
seolah tidak diberi pilihan lain di luar kekuatan yang dulu menjadi penyangga 
utama kekuasaan Orde Baru. 
Ketidakberdayaan menghadapi kembalinya kekuatan Orde Baru bahkan memaksa 
kekuatan yang awalnya pro-demokrasi dan gerakan reformasi kini bahkan secara 
terang benderang tunduk di bawah sihir Orde Baru.
Tentu kita harus terus berharap ada perubahan. Melihat realitas politik yang 
ada, tidak ada lain selain berharap kepada kekuatan-kekuatan yang dulu 
penyangga Orde Baru tidak akan mengulangi kesalahan-kesalahan di masa lalu. 
Semoga orde yang akan datang adalah orde baru dalam pengertian yang sebenarnya, 
orde yang akan membawa pembaruan. n

Penulis adalah Program Officer Jaringan Islam Liberal (JIL).
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke