http://batampos.co.id/Opini/Opini/Politik_Elitis_dan_Neofeodal_.html

Rabu, 13 Mei 2009 

      Politik Elitis dan Neofeodal  
     
      Tomy Su 
      Koordinator Masyarakat Pelangi Pecinta Indonesia, Tinggal di Perth, 
Australia 


      Wacana publik pascapemilu 9 April 2009 bisa dikatakan lebih didominasi 
wacana koalisi antarparpol guna menentukan capres atau cawapres dalam pilpres 
yang digelar 8 Juli 2009 mendatang. Berbagai kemungkinan koalisi mengemuka 
pasca bercerainya Partai Demokrat yang mendukung SBY dengan Partai Golkar yang 
kini sudah menetapkan JK sebagai capres. Politik sebagai seni dari segala 
kemungkinan, seperti bunyi sebuah adagium, sedang kita saksikan hari-hari ini. 


      Meski ada beragam kemungkinan, tujuan akhir politik tetaplah bagaimana 
bisa meraih kekuasaan. Menurut filsuf politik Alexander Moseley (2006), 
kekuasaan adalah tujuan utama tindakan politik. Kita akan melihat apakah SBY 
tetap keluar sebagai pemenang dalam kompetisi politik? Atau akan ada capres 
kuda hitam yang bisa menggusur SBY dari kursi RI 1? 


      Memprihatinkan 


      Namun, ada yang memprihatinkan dalam kancah perpolitikan nasional 
akhir-akhir ini. Setelah suara rakyat bisa mendongkrak atau mengatrol posisi 
partai atau caleg tertentu, kini tampak menonjol betapa praksis politik kita 
masih sangat bercorak elitis. Kehidupan dan masa depan bangsa seolah hanya 
diatur, dikelola, atau diserahkan kepada beberapa gelintir elite politik yang 
kebetulan parpolnya meraih suara signifikan. 
      Parahnya lagi, fakta juga memperlihatkan terlalu bergantungnya partai 
politik kepada tokoh tertentu, yang jelas merupakan bentuk baru feodalisme 
(baca neofeodalisme). Neofeodalisme semacam ini jelas tidak bagus untuk 
perkembangan demokrasi dan masa depan politik nasional. 


      Simak saja kemenangan Partai Demokrat yang jelas tidak bisa dipisahkan 
dari figur SBY. Mustahil Partai Demokrat mengalami kenaikan sampai 300 persen 
jika SBY tidak duduk sebagai ketua dewan pembinanya. 


      Namun, bergantungnya parpol kepada tokoh itu bukan hanya terjadi pada 
Partai Demokrat. Simak, betapa PDIP masih amat bergantung kepada sosok 
Megawati, Hanura kepada Wiranto, dan Gerindra kepada Prabowo Subianto. 


      Seorang teman Tionghoa yang "nyaleg" dan habis Rp 3 miliar juga berkisah, 
mekanisme suara terbanyak pun masih bisa disiasati dalam pemilu legisltatif 9 
April silam. Suara caleg-caleg yang tidak dikehendaki maju ke Senayan bisa 
diberikan kepada caleg lain agar bisa lolos ke Senayan sesuai kebijakan dan 
ketentuan internal partai. 


      Kalau dirunut, politik bergantung kepada tokoh itu memang punya akar 
dalam sejarah yang panjang. Sejak Orba, parpol-parpol mengalami pemandulan 
karena parpol selalu dicurigai penguasa. Kita tentu masih ingat bagaimana 10 
parpol pada Pemilu 1971 harus disederhanakan (fusi) ke dalam tiga parpol. 


      Jelas parpol yang masih amat bergantung kepada tokoh atau elite tertentu 
akan mengalami masalah regenerasi ke depan. Pasalnya, sangat mungkin terjadi 
ketika sang tokoh tiada, keberadaan dan keberlangsungan parpol juga berakhir 
dari panggung politik nasional.
      Di negara-negara maju seperti Australia, parpol modern dikelola dengan 
prinsip egalitarianisme sehingga kaderisasi terus dilakukan. Kebergantungan 
kepada figur sentral partai nyaris tidak ada. Bandingkan dengan mayoritas 
parpol di Indonesia yang lebih mengedepankan figur yang kuat untuk mendongkrak 
perolehan suara secara cepat.

      Birokrasi 


      Corak elitis atau neofeodalistis itu, kalau mau dikaji, sebenarnya memang 
tidak hanya memonopoli kancah perpolitikan nasional atau kehidupan parpol 
semata. Corak demikian masih kuat mengakar di beragam bidang kehidupan kita. 
Simak saja di jajaran birokrasi kita, semakin tinggi jabatan seseorang, justru 
semakin kurang melayani publik. Hanya yang berpangkat rendah yang disuruh 
menemui rakyat jelata. Hanya rakyat yang tampak punya status sosial tinggi yang 
disambut dengan antusias. 


      Dalam dunia pendidikan, kita pernah dibuat mengelus dada akan praktik 
jual beli ijazah atau gelar palsu, seperti pernah di-blow up koran ini beberapa 
waktu lalu. 
      Kadang penulis mengelus dada setiap melihat pejabat tinggi, bahkan dari 
jajaran kepolisian, saat turun dari mobil atau ketika sedang mengadakan 
kunjungan kerja, masih harus dipayungi seperti seorang raja di masa silam. 


      Parahnya lagi, dalam birokrasi yang bercorak elitis dan neofeodalis, 
stabilitas terwujud bukan karena sistem tersebut rasional, efisien, dan adil, 
tetapi lebih disebabkan oleh berbagai modus KKN yang merekatkan berbagai 
kelompok kepentingan di sekitarnya. Menurut Max Weber, fenomena semacam itu 
disebut patrimonialisme, yang setara dengan neofeodalisme. Bila praktik 
birokrasi masih bercorak demikian, bisa dijamin negara atau suatu bangsa akan 
sulit meraih kemajuan.  Karena itu, di tengah beragam wacana politik yang 
berkembang saat ini, para elite politik kita khususnya serta segenap anak 
bangsa pada umumnya harus menyadari bahaya corak politik yang elitis atau 
neofodalis. Kita jangan memutar jarum jam ke masa silam, ketika perjalanan 
sebuah bangsa hanya ditentukan sebagian kecil penguasa. 


      Wartawan senior Rosihan Anwar mengingatkan, meski pemilu digelar 
berkali-kali di negeri ini, jika demokrasi kita terus bercorak elitis dan 
neofeodal, ke depan, tidak akan ada perubahan signifikan
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke