http://politik.vivanews.com/news/read/31861-saat_di_bui__taufiq_belajar_pada_tokoh_pki

Buku Biografi Politik Taufiq Kiemas (III)


Saat di Bui, Taufiq Belajar pada Tokoh PKI
"Pengetahuan dan pengalaman politik mereka hebat-hebat," kata Taufiq Kiemas.
Jum'at, 20 Februari 2009, 09:04 WIB
Arfi Bambani Amri
BERITA TERKAIT
  a.. Dibesarkan Masjumi yang Condong ke Murba 
  b.. Taufiq Kiemas Luncurkan Buku Biografi 
VIVAnews - Setelah dibesarkan di tengah keluarga Masjumi yang kental 
ke-Islamannya, Taufiq Kiemas lalu "merantau" ke kalangan nasionalisme di 
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia. Namun perantauan pengetahuannya belum 
berhenti di sana. Suatu waktu dalam perjalanan hidupnya, Taufiq sempat menimba 
ilmu dari tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia.

Suatu waktu, pada Maret 1966, koran Noesa Poetra milik Partai Syarikat 
Indonesia yang dikenal dekat dengan partai yang telah almarhum, Masjumi, 
menurunkan berita Soekarno terlibat gerakan 30 September. Partai Nasional 
Indonesia yang saat itu dipimpin Ali-Surcahman disebut berafiliasi dengan 
Partai Komunis Indonesia.

Berita ini membuat aktivis-aktivis GMNI Palembang yang saat itu dipimpin Taufiq 
berang. Pagi-pagi, sebelum koran sempat diedarkan dari percetakannya, mereka 
membakarnya.

Taufiq sebenarnya tak tahu menahu kejadian itu. Tahu-tahu Taufiq didatangi 
kader-kader GMNI menyatakan merekalah pelaku pembakaran. Taufiq yang merasa 
harus bertanggung jawab menyatakan siap menanggung ulah kawan-kawannya itu.

"Saya pikir, kalau saya enggak berani bertanggung jawab hari ini, saya tidak 
akan berani bertanggung jawab sampai kapanpun selama hidup saya," ujar Taufiq 
dalam biografi politiknya "Jembatan Kebangsaan" yang diluncurkan Kamis 19 
Februari 2009.

Taufiq akhirnya dicokok aparat keamanan bersama sejumlah kader GMNI Palembang 
lainnya. Mereka dijebloskan dalam sel tahan Corps Polisi Militer Kodam 
Sriwijaya, Palembang. Awalnya mereka berdesak-desakan dengan ratusan tahanan 
PKI, namun setelah itu ditaruh dalam satu sel tersendiri.

Selama penahanan itu, salah satu kawan Taufiq yang bernama Hasan jatuh sakit. 
Hasan akhirnya meninggal dunia saat ditahan bersama Taufiq dan 21 kader GMNI 
lainnya. Namun, kata Taufiq, perlakuan terhadap tahanan PKI lebih buruk lagi 
daripada yang mereka tanggungkan. "Orang-orang yang terindikasi PKI disiksa, 
lantas dihabisi begitu saja tanpa catatan atau pengadilan apapun," kata Taufiq.

Saat Taufiq ditahan, keluarganya terkena imbasnya. Bapaknya, Tjik Agus Kiemas 
yang saat itu Kepala Dinas Jawatan Perdagangan Sumatera Selatan dicopot dari 
jabatannya. Adiknya, Santayana Kiemas, dikeluarkan dari sekolahnya.

Taufiq akhirnya dibebaskan dari penjara, namun dengan catatan, tak boleh lagi 
tinggal di Palembang. Kebebasan Taufiq dijamin dua jenderal, Jenderal AH 
Nasution dan Letnan Jenderal Alamsjah Ratu Prawiranegara, yang merupakan 
kenalan ayahnya ketika aktif sebagai tentara. Begitu bebas, Taufiq lalu 
merantau ke Jakarta, ke kota kelahirannya.

Namun tak sampai setahun di Jakarta, tahun 1967, ayahnya berpulang. Taufiq yang 
anak sulung kemudian mengambil alih posisi kepala keluarga. Bersama adiknya, 
Santayana, mereka menghidupi ibu Hamzatun Rusjda, tiga adik laki-laki dan lima 
adik perempuan mereka. Taufiq membanting tulang melakoni berbagai macam bisnis. 
Namun sembari mencari uang, politik tak pernah hilang dari hidupnya.

Kondisi politik yang masih carut-marut setelah kekacauan tahun 1965 membuat 
Taufiq terus-menerus gelisah. Dia terus membina hubungan dengan mantan aktivis 
GMNI. Belakangan dia membina hubungan dengan sejumlah perwira muda Soekarnois. 
Namun jaringan ini bocor, Taufiq lagi-lagi dijebloskan dalam penjara: Rumah 
Tahanan Militer Budi Utomo Jakarta.

Di penjara yang dikatakan Taufiq bak 'Hotel Indonesia' itu, dia berkumpul 
dengan tahanan-tahanan politik kaliber nasional dari berbagai aliran. Taufiq 
berkenalan tokoh-tokoh dari aliran Islam ekstrim, Soekarnois, dan kader-kader 
PKI dan organisasi massa underbouw-nya.

Taufiq tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Hampir tiap hari, dia menyambangi 
satu-satu tokoh-tokoh politik yang kebanyakan berafiliasi ke PKI itu. "Aku 
beruntung bisa belajar banyak dari tokoh-tokoh politik itu. Pengetahuan dan 
pengalaman politik mereka hebat-hebat," katanya dalam buku yang disusun Rustam 
F Mandayun, Muhammad Yamin, Helmy Fauzy dan Imran Hasibuan itu.

Satu setengah tahun mendekam di penjara itu membuat Taufiq mendapat ilmu 
politik yang banyak. Taufiq mendapatkan satu hal: "Kalau mau main politik, 
harus punya jaringan yang luas. Dan untuk membina jaringan politik itu, sikap 
apriori sedapat mungkin harus dihilangkan bahkan terhadap lawan politik 
sekalipun."

Begitu keluar, Taufiq pun belajar terbuka dengan berbagai aliran politik. 
Siapapun didekatinya termasuk tentara. "Saat itu aku berpikir harus belajar 
politik dari yang menang, bukan yang kalah," katanya. Dan pemenang krisis 
politik saat itu jelas hanya satu: tentara.

Namun pengalaman Taufiq berinteraksi dengan tokoh-tokoh PKI sempat mendapat 
sandungan. Taufiq dituduh lawan-lawan politiknya saat di Partai Demokrasi 
Indonesia tidak bersih diri alias terlibat PKI. "Tuduhan itu jelas ngawur," 
kata Taufiq membantah.

Badan Intelijen Strategis bahkan sempat mengusut keterlibatan Taufiq dalam 
aktivitas PKI. Pengusutan itu jelas tidak menemukan indikasi itu sama sekali. 
Taufiq dinyatakan "bersih diri" dan "bersih lingkungan". Dan seperti disebutkan 
AM Hendropriyono yang saat itu pejabat menengah di Badan Intelijen Strategis, 
laporan mengenai Taufiq itu pun sampai ke tangan Presiden Soeharto.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke