Refleksi : Kalau orang  miskin jatuh sakit  mungkin  keadaannya bisa 
diibaratkan  seperti penjahat dikenakan hukuman mati oleh pengadilan, begitulah 
hikayat   NKRI terhadap rakyat miskin.


http://www.poskota.co.id/aktual/2009/05/16/pelajar-miskin-tewas-usai-operasi-di-rsu/

Sabtu, 16 Mei 2009 03:36 WIB
Pelajar Miskin Tewas Usai Operasi di RSU

TANGERANG (Pos Kota) - Keluarga dan kerabat Serly Purnamasari tak habis pikir. 
Mereka membawa gadis 12 tahun ke rumah sakit dengan harapan membawa kesembuhan, 
namun yang terjadi justru sebaliknya. Pelajar SDN 5 Bojong Rengad, Teluknaga, 
Tangerang, itu justru meninggal usai dioeprasi usus buntu. 

Serly Purnamasari,12, siswi SDN 5 Bojong Renged, Teluknaga Kabupaten Tangerang, 
ini meninggal dunia, Jumat (15/5) sekira pukul 04  setelah menjalankan operasi 
usus buntu di RSU Tangerang.

Martha, 38, paman korban, mengatakan, sebelum meninggal Serly sakit perut 
selama empat hari. Orangtuanya: pasangan Marsha, 40, dan Encum Salma, 35, 
membawa siswi kelas 6 tersebut ke Pusekesmas terdekat pada Kamis (14/5-red) 
siang. Di Puskesmas tersebut, Serly didiagnosa berpenyakit usus buntu. 
Puskesmas pun merujuk ke RSU Tangerang agar gadis kecil itu bisa dioperasi.

Bermodalkan surat rujukan tersebut, gadis cilik malang yang tinggal di Kampung 
Bojong Renged RT 12/15, Kelurahan Bojong Renged, Teluk Naga, Kabupaten 
Tangerang itu dilarikan ke Instansi Gawat Darurat (IGD) RSU Tangerang. Namun di 
ruang itu, korban tak langsung segera diberi pertolongan. Serly hanya diberi 
infus oleh perawat jaga. "Padahal saat itu, keponakan saya mengeluh kesakitan," 
ungkapnya.

Dokter, menurut Martha, memberi perawatan intesif setelah beberapa jam kemudian 
dengan melakukan operasi usus buntu. Operasi berlangsung hingga tengah malam. 
Namun keadaan bungsu dari dua bersaudara itu  bukan membaik. Sebaliknya, bocah 
itu  justru terlihat makin parah. Sekira pukul 04, Serly kejang-kejang lalu  
meninggal dunia. "Tak satu dokter pun yang menjelaskan soal kematiannya," 
ungkapnya. "Jelas rumah sakit melakukan kelalaian," tandasnya yakin.

Martha mempertanyakan sayatan horizontal lebih dari 10 di perut Serly. Padahal, 
sepengetahuannya, operasi usus buntu hanya perlu sayatan vertikal sedikit saja. 
 "Ini pasti ada apa-apanya. Jelas ini kelalaian rumah sakit," ungkapnya lagi.

Pelayanan buruk itu, dalam pandangannya, tak lain karena korban datang dengan 
menggunakan Kartu Gakin (keluarga miskin). "Mestinya pelayanan tak dibedakan 
karena kami menggunakan Kartu Gakin," katanya. Sedangkan memasuki perawatan di 
RSU Tangerang," lanjutnya. Serly menggunakan asuransi JPK (jaminan pemelihraan 
kesehatan) dari Jamsostek. Asuransi itu berasal dari pekerjaan Martha sebagai 
salah satu petugas portir di Bandara Soekarno Hatta.

Sementara itu, pihak RSU Tangerang menolak memberikan keterangan soal tewasnya 
Serly. Puluhan wartawan yang menunggu direktur RSU Tangerang malah diusir oleh 
petugas keamanan "Kami tidak bisa memberi komentar dahulu sebelum ada perintah 
direktur," ungkap satu staf humas RSU Tangerang. (C3/yp/dms)@


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke