Pidato Penerimaan Dr. Budiono sebagai calon wakil presiden dari Partai
Demokrat, di Bandung, 15 Mei 2009


Pertama-tama, izinkanlah saya, dengan tulus mengucapkan rasa terima kasih
yang mendalam kepada Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, yang telah menunjuk
saya untuk mendampingi beliau dalam pemilihan presiden yang segera akan
berlangsung.

Penunjukan diri saya sebagai calon wakil presiden merupakan kehormatan
yang amat besar bagi saya. Juga kehormatan yang tak terduga-duga. Sejak
awal karir saya, saya -- seorang ekonom dan seorang guru -- tidak pernah
bercita-cita memegang salah satu jabatan puncak dalam Republik yang kita
cintai ini.

Saya juga berterima kasih kepada jajaran partai-partai yang menyetujui
pilihan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono tersebut. Insya Allah, ini
merupakan modal dukungan yang saya butuhkan kini dan nanti.

Tidak kurang dari itu, saya berterima kasih kepada isteri saya. Ia
menyetujui suaminya untuk berangkat mamasuki sebuah tugas yang sama sekali
baru – yang tantangan dan risikonya lebih besar ketimbang tugas-tugas
sebelumnya.

Tantangan dan risiko itu sudah tampak sejak mula. Saya sadar bahwa
pencalonan saya sebagai calon wakil presiden menimbulkan kontroversi.
Itulah tanda sebuah demokrasi yang hidup – sebagai hasil Reformasi yang
ditebus dengan badan dan jiwa mahasiswa Indonesia 10 tahun yang lalu.

Di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia adalah
salah satu dari sedikit negara di Asia yang sanggup merawat dan
mengembangkan kebebasan menyatakan pendapat; di bawah pemerintahan ini,
tidak ada pendapat yang berbeda yang dibungkam, suara yang menentang yang
dibrangus. Di bawah SBY, Indonesia tidak hendak kembali ke bawah kekuasaan
yang meniadakan hak-hak asasi manusia, apalagi dengan kekerasan.

Dalam hubungan itulah saya sungguh menghargai keteguhan dan kearifan Bapak
Susilo Bambang Yudhoyono.


Bapak Presiden Soesilo Bambang Yudoyono dan hadirin yang saya hormati.

Keikut-sertaan saya juga didorong oleh apa yang selama ini disaksikan
berjuta-juta orang Indonesia: di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, tampak sekali tekad untuk membangun sebuah pemerintahan yang
bersih. Memang harus diakui, dalam gerakan antikorupsi ini, ”kerja belum
selesai, belum apa-apa”, tetapi sebuah langkah baru yang tegas sudah
diambil.

Korupsi bukan hanya tindakan yang tak bermoral. Korupsi juga menimbulkan
ketidak-adilan dan menggerogoti efektifitas Negara.

Padahal, kita memerlukan peran Negara. Perekonomian Indonesia tidak dapat
sepenuhnya diserahkan ke pasar bebas. Selalu diperlukan aturan main yang
jelas dan adil.

Untuk itu diperlukan lembaga pelaksana yang efektif. Itulah yang harus
disediakan oleh Negara. Negara tidak boleh terlalu banyak campur tangan,
sebab itu akan mematikan kreatifitas. Tetapi Negara juga tidak boleh hanya
tertidur.


Kita semua sadar, pemerintahan yang bersih tidak akan lahir karena
dipidatokan. Pemerintahan yang bersih harus dimulai dengan tauladan
kepempinan. Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak dikotori oleh suap,
tidak mau memperdagangkan kekuasaan, proteksi dan perizinan, tidak mau
mencampur-adukakan kepentingan Republik dengan kepentingan bisnis
keluarga.

Lebih dari itu, pemerintahan yang bersih memerlukan tindakan pembrantasan
korupsi yang konsisten; juga sebuah reformasi atau perbaikan tatanan
birokrasi.



Saya yakin, pemerintahan SBY, melalui sistem presidensial yang
berdaya-guna, akan melangkah ke sana. Bekerja bersama dalam tim yang
dipimpinnya merupakan kehormatan bagi siapapun – bukan kehormatan karena
kedudukan, tetapi kehormatan karena ikut menjalankan cita-cita yang luhur.

Cita-cita itu cita-cita Indonesia yang tidak boleh pernah padam.

Di awal abad ke-20, Bung Karno, di kota Bandung ini, menyatakan ”Indonesia
menggugat”. Waktu itu Indonesia menggugat penjajahan yang menjadikannya
terbelenggu dan merasa kerdil.

Di awal abad ke-21 ini, Indonesia juga selayaknya menggugat. Kini yang
kita gugat adalah penjajahan oleh kekuatan dari luar dan dari dalam, yang
membuat kita merasa terpuruk, merasa tidak bisa bangkit memperbaiki diri.
Padahal kita mampu, padahal kita sanggup.

Saya berjanji, saya akan selalu bekerja untuk membuat Indonesia lebih
sanggup, untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan, kesewenang-wenangan,
dan keterpurukan.

Dengan mengucapkan Bismillahirrahman nirrahim, saya siap bekerja mulai
hari ini.


Kirim email ke