http://www.republika.co.id/berita/50290/Peralatan_Laboratorium_Warisan_Peradaban_Islam
Peralatan Laboratorium Warisan Peradaban Islam
Peradaban Islam di era keemasan menguasai beragam ilmu pengetahuan, salah
satunya adalah kimia. Para sejarawan sains mengakui bahwa ilmu kimia merupakan
anak kandung dari peradaban Islam. ''Ahli kimia Muslim adalah pendiri ilmu
kimia," tutur Will Durant dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith.
Ilmuwan berkebangsaan Jerman di abad ke-18 M itu mengakui bahwa ilmu kimia
hampir sepenuhnya diciptakan peradaban Islam. "Dalam bidang ini (kimia),
peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang
samar-samar," ungkap Durant.
Para kimiawan Muslim di era kekhalifahan telah meletakan dasar-dasar kimia
modern yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Betapa tidak, para
kimiawan Muslim telah berhasil menemukan sederet zat atau senyawa kimia yang
sangat penting, sepertil asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat,
alkohol, larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat)
untuk melarutkan emas.
Selain itu, para ahli kimia Muslim juga telah memperkenalkan proses dasar
sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan,
pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi.
Semua penemuan itu tentunya didukung dengan peralatan laboratorium yang
canggih, pada zamannya.
Para ahli kimia Muslim pada golden age juga telah mewariskan sederet peralatan
laboratorium yang hingga kini masih tetap digunakan. Saintis Muslim seperti;
Jabir Ibnu Hayyan alias Geber, al-Khazini, al-Biruni, Ibnu Sina, dan Muhammad
ibnu Zakariya al-Razi telah menciptakan beragam peralatan laboratorium yang
sangat penting bagi pengembangan ilmu kimia.
Sejumlah peralatan laboratorium yang diwariskan para ilmuwan Muslim itu antara
lain, alembic, conical measure, hidrostatic balanca, teelyard, laboratory
flask, pycnometer, refrigerated coil, refrigerated tubing, termometer, air
termometer, peralatan untuk mengolah obat-obatan dan peralatan untuk melelehkan
zat-zat atau bahan-bahan kimia.
Alembic
Merupakan alat penyulingan yang terdiri dari dua tabung yang terhubung. Tabung
kimia ini pertama kali ditemukan Jabir Ibnu Hayyan (721 M - 815 M). Sejarawan
sains memperkirakan, Jabir menemukan alat iitu pada abad ke-8 M. "Ini
merupakan alat penyulingan pertama," papar Durant. Ensiklopedia Hutchinson,
menyebut alembic sebagai alat penyulingan pertama yang digunakan untuk
memurnikan seluruh zat kimia.
Conical Measure (Tabung Ukur)
Marshall Clagett dalam karyanya The Science of Mechanics in the Middle Ages,
mengatakan, conical measure merupakan peralatan laboratorium yang ditemukan
Abu Raihan al-Birunii( 973 M- 1048 M) pada abad ke- 11 M. M Rozhanskaya and
IS Levinova dalam tulisannya bertajuk Statics juga menyatakan bahwa conical
measure pertama kali ditemukan al-Biruni.
Dalam Wikipedia dijelaskan bahwa conical measure adalah salah satu peralatan
laboratorium yang terbuat dari bahan kaca berupa sebuah cangkir berbentuk
kerucut dengan torehan di atasnya yang berfungsi untuk memudahkan penuangan
cairan. Di bagian samping terdapat tanda-tanda ukuran untuk mengukur isi cairan.
Hydrostatic Balance dan Steelyard
Robert E Hall dalam karyanya berjudul Al-Khazini: Dictionary of Scientific
Biography, mengungkapkan, bahwa hydrostatic balance (keseimbangan hidrostatis)
dan Steelyard (timbangan gantung) ditemukan Al-Khazini yang memiliki nama
lengkap Abd al-Rahman al-Khazini (1115 M –1130 M) pada 1121 M.
Laboratory Flask
Menurut Robert E Hall Laboratory Flask atau Botol Laboratorium pertama kali
diperkenalkan al-Biruni. Botol atau termos laboratorium itu biasanya terbuat
dari kaca bening. Botol itu digunakan untuk menampung cairan yang akan
digunakan atau diuji di laboratorium. Selain itu, alat ini juga digunakan untuk
mengukur isi bahan kimia, mencampur, memanaskan, mendinginkan, menghancurkan,
mengendapkan, serta mendidihkan (dalam penyulingan) zat-zat kimia.
Pycnometer
Pycnometer merupakan peralatan laboratorium yang digunakan untuk mengukur berat
jenis atau volume caiaran secara akurat. Alat ini juga ditemukan al-Biruni.
Hingga kini, peralatan laboratorium yang diwariskan peradaban Islam itu masih
digunakan.
Refrigerated coil and Refrigerated Tubing
Menurut Vicki Pitman dalam karyanya bertajuk Aromatherapy: A Practical
Approach, Nelson Thornes, pada abad ke-11 M, Ibnu Sina telah menemukan
refrigerated coil atau lingkaran pendingin yang berfungsi untuk, yang
memadatkan uap wangi. Richard Myers, dalam bukunya The Basics of Chemistry,
Greenwood Publishing Group juga mengakui bahwa lingkaran atau tabung pendingin
itu pertama kali diperkenalkan Ibnu Sina .
"Ini merupakan sebuah terobosan dalam teknologi penyulingan dan Ibnu Sina
menggunakannya dalam proses penyulingan dengan uap air panas, yang membutuhkan
tabung pendingin untuk memproduksi minyak esensial," papar Marlene Ericksen
dalam karyanya Healing with Aromatherapy.
Termometer
Robert Briffault dalam bukunya The Making of Humanity, menjelaskan bahwa
termometer ditemukan oleh Ibn Sina (980 M - 1037 M) pada abad ke-11 M..
Termometer adalah sebuah alat untuk mengukur temperatur/suhu dengan berbagai
jenis prinsip yang berbeda.
Peralatan untuk Pengolahan Obat-obatan
Georges C Anawati, dalam karyanya Arabic alchemy, mengungkapkan, al-Razi)
merupakan penemu pertama peralatan untuk pengolahan obat-obatan. "Muhammad ibnu
Zakariya Razi (Rhazes) adalah orang pertama yang menjelaskan peralatan untuk
pengolahan obat-obatan,'' tuturnya.
Peralatan untuk Melelehkan Bahan
Al-Razi dalam Secretum secretorumnya, menjelaskan beberapa peralatan yang
dibuatnya untuk melelehkan zat kimia (li-tadhwib). Itulah beberapa peralatan
laboratorium yang diwariskan para ilmuwan Muslim bagi pengembangan sains
modern. Kontribusi ilmuwan Muslim sungguh begitu besar bagi kemajuan peradaban
manusia.
Karya-karya yang mereka ciptakan mampu mengubah dunia. Tanpa kontribusi dan
jasa mereka, barangkali dunia tak akan maju seperti sekarang ini. Berkat
peralatan laboratorium itu, peradaban manusia mampu melakukan revolusi di
bidang kimia, fisika dan farmasi.
Sang Penemu Peralatan Laboratorium
* Jabir Ibnu Hayyan
Jabir Ibnu Hayyan ditabalkan sebagai ''Bapak Kimia Modern''. Dalam bidang
kimia, prestasi dan pencapaiannya terekam dengan baik lewat buku-buku yang
ditulisnya. Tak kurang dari 200 buku berhasil ditulisnya.
Sebanyak 80 judul buku di antaranya mengupas hasil-hasil eksperimen kimia yang
dilakukannya. Buku-buku itu sungguh amat berpengaruh hingga sekarang. Secara
khusus, ia mendedikasikan sekitar 112 buku lainnya bagi Barmakid, sang guru,
yang juga pembantu atau wazir Khalifah Harun ar-Rasyid.
Buku-buku itu ditulis dalam bahasa Arab. Pada abad pertengahan, orang-orang
Barat mulai menerjemahkan karya-karya Jabir itu ke dalam bahasa Latin, sehingga
menjadi rujukan para ahli kimia di Eropa. Tak kurang dari 70 buku karya Jabir
telah ialihbahasakan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan.
Salah satu yang terkenal adalah Kitab al-Zuhra yang diterjemakan menjadi Book
of Venus, serta Kitab al-Ahjar yang dialihbahasakan menjadi Book of Stones.
* Al-Razi
Terlahir di Rayy, Provinsi Khurasan dekat Teheran tahun 864 M, al-Razi dikenal
sebagai seorang dokter dan ahli kimia yang hebat. Sejatinya, ilmuwan Muslim
yang dikenal Barat sebagai Rhazes itu bernama lengkap Abu Bakar Muhammad ibnu
Zakariya. Al-Razi muda yang dikenal amat gemar memainkan harpa sudah mulai
jatuh hati pada ilmu kimia.
Ia menimba ilmu dari Ali ibnu Rabban al-Tabari (808 M) — seorang dokter
sekaligus filosof. Sang gurulah yang telah melecut minat Rhazes untuk menekuni
dua bidang ilmu yakni kedokteran dan filsafat. Hingga kelak, dia menjadi
seorang filosof, dokter dan ahli kimia yang amat populer di zamannya.
Al-Razi merupakan ilmuwan yang sangat produktif. Tak kurang dari 200 buku
berhasil dituliskannya. Kitabnya yang paling terkenal dan fenomenal adalah
Kitab Al Mansur, Kitab Al Hawi, Kitab Al Asrar atau ‘Kitab Rahasia’. hri/des
[Non-text portions of this message have been removed]