http://www.republika.co.id/berita/50088/Abu_Nasr_Mansur_Sang_Penemu_Hukum_Sinus
Abu Nasr Mansur, Sang Penemu Hukum Sinus
Saat masih sekolah di bangku sekolah menengah, tentu Anda pernah mempelajari
istilah sinus dalam mata pelajara matematika. Sinus adalah perbandingan sisi
segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring. Hukum sinus itu ternyata
dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.
Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab
disapa Abu Nasr Mansur (960 M - 1036 M). Bill Scheppler dalam karyanya
bertajuk al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh
Century, mengungkapkan, bahwa Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli
matematika Muslim dari Persia.
"Dia dikenal sebagai penemuan hukum sinus," ungkap Scheppler. Ahli sejarah
Matematika John Joseph O'Connor dan Edmund Frederick Robertson menjelaskan
bahwa Abu Nasr Mansur terlahir di kawasan Gilan, Persia pada tahun 960 M. Hal
itu tercatat dalam The Regions of the World, sebuah buku geografi Persia
bertarikh 982 M.
Keluarganya "Banu Iraq" menguasai wilayah Khawarizm (sekarang,
Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan
dengan Laut Aral. "Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik," tutur
O'Cornor dan Robertson.
Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang
astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu'l-Wafa (940 M - 998 M).
Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan
astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni Al-Biruni (973 M
- 1048 M).
Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi
koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama
menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam
matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang
sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.
Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang
stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan
hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang ilmuwan
menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti
Samaniyah.
Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu
membuat situasi politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq
digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang
terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni
berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.
Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma'mun dan
menjadi penasihat Abu'l Abbas Ma'mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa
itu menjadi sukses.
Ali ibnu Ma'mun dan Abu'l Abbas Ma'mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan.
Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak
heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu. Karya-karyanya sangat
dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna.. Ia
wafat pada 1036 M di Ghazni, sekarang Afghanistan. Meski begitu, karya dan
kontribusianya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa. Dunia
Islam modern tak boleh melupakan sosok ilmuwan Muslim yang satu ini.
Kontribusi Sang Ilmuwan
Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu
pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi
beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.
Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting
dalam trigonometri. Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli
matematika, astronomi, geografi dan astrologi Romawi bernama Claudius
Ptolemaeus (90 SM – 168 SM).
Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of
Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori
serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.
Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil
menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama al-Biruni. " Sekitar 17 karyanya
hingga kini masih bertahan. Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah
seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa," papar ahli sejarah
Matematika John Joseph O'Connor dan Edmund Frederick Robertson
Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya
dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikaskan,
telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa
indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.
Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya
al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam
The Spherics of Menelaus.
Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy
dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap
digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan
tabel yang mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical
astronomy (bentuk astronomi).
Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus yang merupakan bagian
penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari
dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam
risalah Ptolemy bertajuk Almagest.
"Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan
bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam
sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan
bukti dalil Menelaus," jelas O'Cornor dan Robertson.
Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai
berikut:
a/sin A = b/sin B = c/sin C.
"Abu'l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin
belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan
dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian," ungkap O'Cornor
dan Robertson.
O'Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai
orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama, seorang
astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M - 1000 M).
Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi dsebut sebagai penemu hukum sinus,
seperti yang ditulis Samso dalam bukunya Biography in Dictionary of Scientific
Biography (New York 1970-1990). "Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang
paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis," katanya.
Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk
menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan
yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius.
Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomi meliputi empat karya dalam
menyusun dan mengaplikasi astrolab.
Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr
Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia
lebih terkenal dibandingkan sang guru.
Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya.
Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi.
Abu Nasr telah 'melahirkan' seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains
Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam
beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah
seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.
Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan
yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal.
Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan
mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat
intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.
Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek
tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi
tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan
sebagai ‘Bapak Geodesi’.
Di era keemasan Islam, al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu
cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain
itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad.
Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor
dalam berbagai metode pengembangan sains.
Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah
itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun
tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi,
kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran,
serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi
setiap ilmu yang dikuasainya itu. hri/ des/she
[Non-text portions of this message have been removed]