Harian Komentar
23 Mei 2009

      Hizbut Tahir Indonesia merasa disudutkan 
      Toko Takut Menjual Buku 'Ilusi Negara Islam' 


     


Jakarta, KOMENTAR
Buku 'Ilusi Negara Islam' yang diluncurkan Gus Dur cs 16 Mei 2009 lalu, masih 
sulit dicari di toko buku. Sejumlah toko buku dikabarkan meno-lak buku ini 
dengan alasan kena teror. "Saya tidak tahu siapa yang meneror. Kami ka-sihan 
toko buku itu, jadi se-karang kami jual sendiri di The Wahid Institute," ungkap 
Direktur The Wahid Institute, Ahmad Suaedy, Jumat (22/05).
Ahmad Suaedy menjelaskan, sejumlah toko buku yang sebelumnya bersedia menjual 
buku itu tiba-tiba memba-talkan kerjasama. Toko buku tersebut ketakutan karena 
kena teror. Namun apa nama toko buku itu, Ahmad Suaedy memilih merahasiakannya. 
"Mereka tidak mau diberita-kan soal ini. Mungkin situasi politik seperti ini, 
sedang panas," jelas Suaedy.


Secara terpisah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menye-salkan terbitnya buku 
'Ilusi Negara Islam', Ekspansi Gera-kan Islam Transnasional di Indonesia. Buku 
itu dikritik mereka dan dinilai tidak menghargai demokrasi. "Kita sudah membaca 
buku itu, buku itu penuh dengan tudu-han tidak berdasar. Dan buku itu justru 
tidak toleran, kalau kami disebut kelompok fun-damentalis, kenapa kebeba-san 
hanya milik mereka," kata Juru Bicara HTI Ismail Yusan-to seperti dilansir 
detik.com online, kemarin.
Seperti diketahui, dalam bu-ku itu, HTI dimasukkan da-lam gerakan Islam 
trans-nasional yang tergolong garis keras. Selain HTI, buku itu juga memasukkan 
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) da-lam gerakan tersebut. Menu-rut Ismail, 
penggunaan kata transnasional dianggap ter-lalu menyudutkan pihaknya. Padahal 
sekarang ini banyak hal-hal yang berasal dari luar.


"Mulai dari makanan sampai ideologi sosialisme, liberalis-me, kapitalisme dan 
lainnya. Itu juga berasal dari luar," tambahnya. Dia juga menya-yangkan kata 
infiltrasi dalam buku itu yang dituturkan di-lakukan HTI ke dalam tubuh 
Muhammadiyah. "Infiltarsi, mengandung arti buruk, itu juga tidak beralasan. 
Saya diminta jadi anggota MUI pusat, rekan yang lain ada yang jadi dosen di 
tempat pendidikan Muhammadiyah, itu profesional, tidak ada infiltrasi," 
jelasnya.


Untuk itu, pihaknya akan meminta penjelasan kepada pihak Wahid Institute dan 
Maarif Institute. "Kami akan datang baik-baik, menanya-kan soal penulisan. Kita 
hanya meminta penjelasan," tutupnya. Sementara pihak Wahid Institute 
mengatakan, buku 'Ilusi Negara Islam' me-rupakan respons NU dan Mu-hammadiyah 
atas banyak mun-culnya gerakan baru Islam seperti PKS & Hizbut Tahrir. Tim 
peneliti dalam buku ini menelaah bagaimana gerakan baru itu mempengaruhi mas-sa 
kedua organisasi tersebut.


"Buku ini mengupas kelom-pok Islam baru, melakukan dakwahnya ke kalangan yang 
sudah ada, ke NU dan Mu-hammadiyah. Ada PKS dan Hizbut Tahrir, bagaimana cara 
mereka melakukan itu," kata Direktur The Wahid Institute, Ahmad Suaedy. Secara 
singkat, Ahmad men-jelaskan, buku itu diterbitkan dari hasil riset yang 
dilakukan oleh tim peneliti. Gerakan baru Islam itu, membawa aliran baru yang 
lebih keras. "Ya begitu yang dipersep-sikan, itu temuan di lapangan seperti 
itu. Yang bertanggung jawab soal itu researcher. Kami hanya menerbitkan," 
tambahnya.
Selain PKS dan Hizbut Tah-rir, dibahas pula sejumlah gerakan Islam lainnya.
"Bagaimana cara mereka melakukan dakwah dan ke-mudian bagaimana respons-nya NU 
dan Muhammadiyah melihat gerakan mereka, me-lalui buku ini," imbuhnya. Soal isi 
buku ini, sebenarnya tidak ada yang baru, meski pun mengupas soal gerakan Islam 
seperti PKS dan Hizbut Tahrir. "Ini sudah banyak dibahas di perguruan tinggi 
dan materi riset ini sudah banyak dipu-blikasikan, ini tidak ada yang baru," 
jelasnya.(dtc/zal*) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke