http://hariankomentar.h2pro.us/hl010.html
23 Mei 2009
TNI AU Punya 23 Hercules, 13 Buah Tidak Layak Terbang
Bandung, KOMENTAR
Komandan Pemeliharaan Material TNI Angkatan Udara Marsekal Muda Sumaryo HW
menyatakan sedikitnya dibu-tuhkan Rp 1,6 triliun untuk perbaikan seluruh
pesawat Hercules yang dimiliki TNI. Jumlah koleksi Hercules TNI saat ini
sebanyak 23 unit, hanya 10 pesawat yang siap terbang, sedangkan 13 lain-nya
tidak layak. Dari sepuluh pesawat yang tersisa tersebut, kondisinya tidak 100
persen. "Hanya untuk kesiapan pesa-wat sekitar 75 persennya saja sesuai dengan
target Mabes TNI AU," ujar Sunaryo HW di Bandung.
Ia menjelaskan, kejadian pesawat TNI jatuh secara bertu-rut turut selama dua
bulan ini membuat kesiapan Pesawat TNI Angkatan Udara hanya sekitar 40 persen.
Dana untuk pemeliharaan sangat minim: Rp 100 miliar per tahun untuk 23
Hercules. Anggaran tersebut hanya cukup untuk mempertahan-kan pesawat yang ada,
tidak untuk menambah kesiapan. Dana sangat tidak mencukupi buat perbaikan, yang
satu pesawat membutuhkan paling tidak Rp 80 miliar.
"TNI AU, terutama saya se-bagai Komandan Pemeliharaan Material Angkatan Udara
Mabes TNI AU akan mengadakan evaluasi dan semaksimal mungkin melakukan
pengecekan kembali. Walau pun semua perbaikan yang dilakukan telah mengacu pada
aturan yang ada, untuk perbaikan berat pa-ling tidak membutuhkan waktu lima
bulan," ungkapnya.
Ia mengungkapkan, untuk perawatan rutin pesawat Her-cules dilakukan di masing
masing skuadron, tapi untuk intermediate level maintenance oleh Skuadron Teknik
setiap tiga tahun sekali dan perawatan berat dilaksanakan di Depo 10 Disatel
15. "Untuk pesawat Hercules C-130 yang jatuh di Magetan, tahun yang lalu telah
dilaksanakan perbaikan semua komponennya dan sudah terbang sekitar 800 jam,"
ungkapnya seraya me-nyatakan, kejadian di Magetan masih dalam proses
penye-lidikan.
Secara terpisah, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono meminta kepada semua
kala-ngan untuk tidak berspekulasi, terutama soal angka-angka anggaran
perawatan alutsista TNI, terkait kecelakaan Her-cules TNI AU di Magetan, Jawa
Timur. Dia meminta semua menunggu hasil penyelidikan Tim Investigasi TNI. "Kita
sedang menunggu hasil penye-lidikan tim investigasi. Kita belum tahu hasilnya,
mari kita tunggu," kata Menhan Juwono Sudarsono usai mengikuri Rakor Polhukam
di Kantor Kementerian Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Ja-karta, Jumat
(22/05).
Ketika ditanya soal anggaran pemeliharaan Rp 1,6 triliun, tapi kenyataannya
yang terse-dia hanya Rp 100 miliar, Juwo-no mengaku pihaknya sedang melakukan
penghitungan ang-ka yang persis. "Kita sedang menghitung di Dephan berapa
persisnya. Pengadaannya ter-masuk pemeliharaannya. Se-karang ini banyak sekali
ber-edar angka-angka yang beredar dari pengamat dan sejumlah kalangan, mari
kita tunda dulu," pintanya.Juwono menegaskan, penga-daan dan pemeliharaan
alutsista telah dilakukan sesuai anggaran yang ada. Dan yang terpenting di
dalam pemeli-haraan diupayakan supaya normal index tercapai sehingga tingkat
keselamatan betul-betul dijamin.
"Itu sudah sudah kami upayakan, memang tidak untuk semua unit, namun sebagian
dari anggaran itu kita pakai kok untuk pemeliharaan," imbuhnya. Juwono
mencontohkan, mi-salnya ada 10 pesawat dan bila dibagi sepuluh anggarannya
terbatas. "Nah, makanya kita opera-sionalkan dulu yang lima, yang lima lagi
ditunda. Itu yang dikatakan presiden efisiensi dalam operasionalisasi dan
perawatan, jelas tidak mengor-bankan tingkat keselamatan prajurit," ujarnya.
Ditanya tentang permintaan tambahan anggaran perta-hanan sekitar Rp 460 miliar
beberapa waktu lalu, tapi yang disetujui sekitar Rp 200 miliar untuk
operasional TNI. Juwono mengaku, pihaknya sedang memperbaharui dan menga-jukan
kembali ke Departemen Keuangan. "Minggu depan akan dibicarakan lagi," ja-wabnya.
Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso menya-takan, tiap tahun
pihaknya meminta tambahan anggaran dan telah dikelola dengan baik. Ketika
ditanya apakah ada janji dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk
me-naikan anggaran pertahanan bila terpilih lagi sebagai di Pilpres 2009?
"Nggak ada itu," jawabnya singkat.(tmi/dtc)
[Non-text portions of this message have been removed]