Kisah Di Balik Layar “Damai ACEH” 
 
Oleh Jusuf Kalla - 23 Mei 2009 - Dibaca 2355 Kali - 
 
 

Sebenarnya keterlibatan saya dalam menyelesaikan Konflik Aceh itu hanya 
kebetulan belaka. Meski sebenarnya sebelum mendamaikan Aceh, saya sudah 
memiliki pengalaman dalam mendamaikan Ambon dan Poso. Bagi anda yang belum 
begitu mengetahui bagaimana cerita di balik layar tentang proses perdamaian 
Aceh, maka saya akan menceritakan kepada anda semua. 

 
Pada Zaman Ibu Mega menjabat sebagai presiden saat itu saya dipercayakan 
sebagai MENKOKESRA. Nah salah satu tugas daripada MENKOKESRA adalah mengurusi 
pengungsi, dan salah satu pengungsi terbesar itu ada di ACEH. Sebenarnya urusan 
untuk mendamaikan atau pun meredam konflik Aceh itu sebenarnya tugas dari 
MENKOPOLKAM yang saat itu sedang dijabat oleh pak SBY. Saya pertama kali 
mengunjungi pengungsi Aceh di ajak oleh beliau (Pak SBY). Saat itu sudah ada 
2,5 juta orang. Maka saya mengambil kesimpulan, urusan pengungsi ini, tidak 
bisa diselesaikan tanpa adanya perdamaian. Mengingat sebelumnya saya sudah 
punya pengalaman dalam hal mendamaikan Aceh, Poso maka saya berinisitif dan 
meminta izin kepada Presiden untuk membantu mendamaikan Aceh tanpa bermaksud 
untuk memotong tugas dan wewenang dari seorang MENKOPOLKAM. Presiden memberi 
izin, dan saya mulai mengumpulkan tim yang terdiri atas saudara Hamid Awaluddin 
dan dr. Farid serta beberapa teman lainnya.
Sementara untuk bendahara Tim saya mengangkat istri saya, karena memang ada 
biaya perdamaian ini yang diambil dari kocek pribadi saya, (saya tidak akan 
mengatakan berapa jumlahnya). 

 
Langkah pertama yang saya lakukan ialah mencari tahu apa persoalannya. datangi 
persoalannya, ketahui persoalannya, tanpa mengetahui persoalannya dan 
mendatangi persoalannya. Karena itu yang pertama ialah mempelajari apa masalah 
sebenarnya. Sering orang salah mengira masalah yang terjadi di Aceh. Banyak 
yang menyangka bahwa itu murni masalah syariah. Padahal bukan! inti masalahnya 
adalah ketidakadilan. 
Pada waktu diadakan perundingan, tepatnya selama 17 hari, saya sampai bosan, 
karena semua buku di meja saya, semua buku tentang Maluku, buku di kamar, di 
mobil semua tentang Maluku, sehingga saya merasa orang Maluku. 

 
Ketika perjanjian damai ditanda tangani, banyak pihak yang sangsi, kalau damai 
di Aceh akan benar-benar terwujud. Banyak yang menganggap bahwa itu hanya 
bagian dari strategi GAM untuk mengumpulkan kembali kekuatan yang sempat porak 
poranda akibat tsunami pada 2004 akhir. Termasuk panglima TNI waktu itu, dia 
bilang ke saya “wah pak bagaimana, seandainya GAM maupun TNI tetap mengangkat 
senjata, meski perjanjian damai sudah ditanda tangani ? Saya bilang, “Pak 
Panglima, saya yakin ini selesai!”, siapa sih yang enak tinggal di hutan, 
digigitin nyamuk, makan seadanya ubi kayu, apa enak?”, mending pulang ke kota 
ketemu keluarga, anak istri,. Hal yang sama juga dengan tentara kita emang enak 
itu TNI tinggal di Aceh, uang makannya hanya 17 ribu, makan supermi, selalu 
dihantui oleh perasaan ditembak, dan tidak tahu perang melawan siapa, bahan 
bias dikata perang melawan saudara sendiri, apa enak itu?”. 

 
Jadi yakinlah bahwa begitu damai maka langsunglah teman-teman (TNI) bisa 
pulang. Itulah jaminan saya, dan jaminan itu juga saya minta kepada Presiden 
untuk memberi jaminan yang sama. Apabila GAM meletakkan senjata, maka TNI 
pulang. Ini disebut sebagai sistem cash and carry, yang merupakan sistem 
pertama yang diterapkan di dunia, dalam upaya melakukan perdamian antara dua 
pihak yang bertikai. Teknisnya setiap 300 pucuk senjata GAM yang diserahkan 
maka 10 Batalyon pasukan TNI yang ditarik pulang. 

 
Kemudian masalah muncul lagi, GAM tidak mau menyerahkan senjata ke TNI, karena 
yang ditanda tangani di Helsinky itu adalah surat perjanjian damai, bukan 
menyerah. Artinya apabila GAM menyerahkan senjata ke TNI itu berarti dia 
mengaku kalah. Jadi harus kita cari jalan tengah lagi, akhirnya mucul ide, agar 
GAM tidak merasa harga dirinya diinjak injak maka diambil keputusan bahwa GAM 
tidak perlu menyerahkan senjata. Tapi memotong sendiri senjatanya, di tengah 
lapangan, dan disaksikan oleh seluruh pihak,
Tahap awal 300 pucuk senjata dipotong di tengah tanah lapang. Setiap senjata 
dibelah dan dipotong 3, dan setiap pihak menyimpan salah satu bagian sebagai 
kenang-kenangan. Jadi kalau di media ada yang memberitakan GAM menyerahkan 
senjata kepada TNI, itu salah !!. GAM tidak pernah menyerahkan senjatanya, tapi 
ia sendiri yang memotongnya menjadi 3 bagian. Jadi itu strategi yang saya ambil 
waktu itu sebagai jalan untuk Win-Win Solution. 300 senjata dipotong, 10 
batalyon TNI naik kapal di pelabuhan untuk pulang ke daerah masing-masing. Jadi 
ini yang saya namakan sistem ”Cash and Carry” yang adil, karena 10 Batalyon itu 
sama dengan 300 Pasukan sesuai dengan jumlah senjata GAM yang dipotong pada 
tahap awal damai.

 
Kemudian tahap selanjutnya, barulah proses resmi di samping doa bersama-sama. 
Dan yang paling sulit adalah soal partai politik lokal sesuai dengan syarat 
yang diminta oleh GAM. Waktu itu ada yang menganggap Partai lokal itu, 
melanggar Undang-undang, tapi saya bilang tidak, ada juga contoh partai politik 
lokal, contoh pada tahun 1955, ada partai lokal dan contoh Undang-undang 
Kedudukan Partai, di situ ada peluang mendirikan partai lokal,. Tetapi tetap 
saja rumit sekali mencarikan jalan keluarnya. Padahal Ini perundingan terakhir, 
perundingan satu malam, ada rumusan yang tidak sesuai, perundingan damai 
terancam dead lock. 

 
Saya kebetulan malam itu hanya berdua dengan istri. Kemudian salah seorang Kyai 
yang juga sahabat saya menelepon ”saya tahu pak jusuf lagi kesulitan, ada 
baiknya baca Yassin 10 kali, insya allah selesai persoalan. Akhirnya saran itu 
saya jalankan, berhubung membaca Yassin 10 kali itu memakan waktu yang lamabisa 
2 jam untuk saya. Jadi saya minta istri saya untuk bantu, dia baca 5 kali dan 
saya juga baca 5 kali, jadi 10 kan ? Habis membaca Yassin langsung ada telepon, 
dari Helsinki, yang menyatakan bahwa perundingan bisa dilanjutkan. 

 
Pak Presiden tidak jadi masalah, akhirnya draft atas izin presiden saya tanda 
tangani lagi jam 1 malam. Saudara Malik paraf juga biar. Sepuluh menit kemudian 
datang paraf, beliau paraf, baru saya tidur, alhamdulillah, karena itulah 
perundingan terakhir sebelum penandatanganan. Jadi yakin 10 kali, dan ini 
penting. Saya pada waktu itu bertanya kepada Saudara Saman, kata Pak Saman di 
hutan di Aceh, dia berhubungan terus dengan Pak Malik. Saya tanya waktu itu, 
Pak, pada malam terakhir itu, you bikin apa? Kami bingung juga kapan selesainya 
ini, bagaimana. Jadi kami berdua shalat tahajud di masjid, dan alhamdulillah 
selesai, rupanya antara kedua belah piahk sama sama ingin damai. Salah satunya 
Pak Malik juga ingin damai, dan dengan doa semuanya, apapun upaya itu, tanpa 
upaya dan doa itu tidak akan selesai.

 
saya kira perundingan Aceh yang paling murah yang kita lakukan. Karena tidak 
ada anggarannya, dari Negara. Istri saya yang menjadi bendahara . dr. Farid 
merangkap segala macam, karena dia yang paling muda. dan saudara Hamid yang 
akan tercatat dalam sejarah, karena fotonya ada di situ waktu penandatangan 
perjanjian damai.
 
http://jusufkalla. kompasiana. com/2009/ 05/23/kisah- di-balik- layar-damai- 
aceh/

[Non-text portions of this message have been removed]

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke