http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2009052603531716

      Selasa, 26 Mei 2009 
     
      BURAS
     
     
     
     
Adu Pertumbuhan Ekonomi Capres! 

       
      H. Bambang Eka Wijaya



      "KETIKA SBY menjanjikan jika terpilih kembali akan mencetak pertumbuhan 
ekonomi 7 persen pada 2014, capres Megawati menjanjikan pertumbuhan ekonomi 10 
persen--dua digit!" ujar Umar. "SBY yang masa pertama pemerintahannya gagal 
mencapai pertumbuhan 7 persen itu pun sewot! Di depan pedagang Pasar Sukawati, 
Bali, yang tak tahu juntrungnya, SBY meminta rakyat tidak menelan saja janji 
capres yang tak realistis! Menurut SBY, dunia sedang krisis, negara-negara maju 
tumbuh negatif! Begitupun, meski rendah, Indonesia bersama India dan China 
masih tumbuh positif! Jadi, mustahil untuk tumbuh dua digit!"

      "Dengan cara pandang konvensional atau apa lagi konservatif bergantung 
pada pasar luar negeri, pertumbuhan dua digit pada situasi global seperti 
sekarang memang mustahil!" sambut Amir. "Tapi Indonesia punya pengalaman unik, 
ketika situasi global dan industri domestik tidak mendukung, ekonomi negeri ini 
bisa tumbuh di atas 6 persen berkat topangan konsumsi serta ekonomi rakyat 
skala kecil dan menengah! Sungguh, itu suatu keajaiban di tengah situasi 
kritis! Maka itu, juga bukan mustahil kalau kekuatan ekonomi rakyat skala kecil 
dan menengah itu diberi stimulan lebih baik, ditopang pembenahan industri 
domestik (terutama industri pengolahan hasil pertanian yang tinggi nilai 
tambahnya guna meningkatkan daya beli rakyat), lanjutan keajaiban bukan pula 
mustahil! Artinya, pertumbuhan dua digit bukan gegabah, jika dijadikan 
achievement--semua unsur diarahkan berorientasi ke usaha pencapaiannya!"

      "Masalahnya cenderung akibat kita terlalu terpaku pada segala dimensi 
kekuatan asing, rasa percaya diri kita pada kekuatan sendiri jadi tak terawat, 
hingga tak mendalami dan mengelolanya secara memadai!" tukas Umar. "Bukanlah 
xenofobia--takut asing--ketika kita mengorientasikan pandangan pada kekuatan 
domestik dengan topangan pasar 200 juta jiwa lebih! Melainkan hanya akibat 
percaya diri tak terawat pada kekuatan domestik itu, kita jadi lengah hingga 60 
persen produk asing menguasai pasar kita lewat penyeludupan! Jika hanya dengan 
sisanya saja kekuatan konsumsi kita bisa tumbuh 6,3 persen, tidaklah mustahil 
jika pasar domestik sepenuhnya diisi produk lokal, pertumbuhan lebih tinggi 
bisa diharapkan! Jadi, kuncinya pada kekuasaan yang tegas hingga tuntas 
membasmi penyeludupan!"

      "Dari sisi itu terlihat antitesis asumsi penguasa yang menegaskan benahi 
dulu ekonomi baru bereskan alat utama sistem pertahanan--alutsista, realitas 
justru menuntut bereskan dulu alutsista darat, laut, dan udara agar negara kita 
tak rapuh dari terobosan penyeludupan, illegal logging dan illegal fishing, 
hingga ekonomi lokal bebas dari tekanan segala bentuk kegiatan ilegal asing!" 
***

      Tulis komentar Anda di www.buras-lampost.blogspot.com

     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke