http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009052904151353

      Jum'at, 29 Mei 2009 
     
      OPINI 
     
     
     
Kiat Islam Mengatasi Kemiskinan 

      Akhiril Fajri

      Humas DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Lampung

      Kemiskinan. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi mayoritas 
masyarakat bangsa kita saat ini. Dengan populasi penduduk sekitar 220 juta, 
ternyata lebih dari setengah dari jumlah tersebut hidup bergelut dengan 
kemiskinan, berikut berbagai problem turunan yang menyertainya. Apabila hal ini 
terjadi di suatu wilayah yang gersang dan tandus, mungkin kita masih bisa 
memakluminya. Tapi siapa pun mafhum, negeri ini telah dianugerahi dengan 
kekayaan yang begitu melimpah, baik kekayaan hayati maupun sumber daya energi.

      Untuk itulah, diperlukan sebuah mekanisme ekonomi yang baik agar kekayaan 
yang dimiliki dapat berkorelasi positif dengan tingkat kesejahteraan kolektif, 
bukan hanya untuk segelintir orang seperti yang terjadi saat ini.

      Dalam pandangan Islam, masalah kaya dan miskin sebenarnya hanyalah ujian. 
Setiap muslim diperintahkan untuk senantiasa bersabar dalam berbagai keadaan. 
Kesenjangan tingkat kemakmuran pasti akan terjadi dalam realitas kehidupan. 
Hanya saja, Islam tidak akan membiarkan terjadinya kesewenang-wenangan atau 
penzaliman dalam aktivitas perekonomian, yang sebagian besar disebabkan oleh 
buruknya distribusi kekayaan. Sebab, Islam memandang individu sebagai manusia 
yang harus dipenuhi kebutuhan-kebutuhan primernya secara menyeluruh.

      Agar kebutuhan dapat terpenuhi, Islam mewajibkan setiap individu yang 
mampu dan memenuhi syarat untuk bekerja mencari nafkah. Baik untuk mendapatkan 
harta maupun usaha-usaha untuk mengembangkan harta yang sudah dimilikinya. 
Karena dipandang sebagai bentuk ibadah, aktivitas ini mesti steril dari 
unsur-unsur yang merusak, seperti menipu, berjudi, melakukan penimbunan barang, 
melakukan riba, menguasai hajat hidup orang banyak untuk kepentingan pribadi 
dsb. Dengan cara ini, kebutuhan individu berikut orang-orang yang berada dalam 
tanggungannya dapat terpenuhi. Selain itu, pemanfaatan harta hanya untuk 
hal-hal yang memberikan manfaat, baik bagi individu maupun masyarakat.

      Realitas menunjukkan tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mencukupi 
kebutuhan hidupnya, apalagi jika ia memiliki tanggungan keluarga. Inilah 
kondisi yang melingkupi sebagian besar masyarakat Indonesia. Penyebabnya pun 
beragam. Dari masalah alamiah seperti ketidakmampuan fisik maupun nonfisik, 
faktor bencana alam, sampai penyebab yang bersifat sistemik seperti minimnya 
lapangan kerja yang tersedia.

      Dampak sosialnya sangatlah besar. Faktanya, merebaknya prostitusi, 
merajalelanya berbagai kasus kriminalitas, sampai meningkatnya perilaku anarkis 
di tengah-tengah masyarakat ternyata lebih disebabkan oleh faktor ekonomi.

      Dalam hal ini, Islam memiliki solusi agar kekayaan yang ada dapat 
terdistribusikan secara baik, sekaligus meminimalisasi risiko sosial sebagai 
akibat disparitas tingkat kemakmuran. Secara individual, setiap muslim yang 
memenuhi syarat diwajibkan mengeluarkan zakat. Selain itu mereka juga didorong 
untuk melakukan infak dan sedekah sebagai wujud kepedulian mereka terhadap 
saudara mereka. Banyak hadis Rasulullah yang menggambarkan bagaimana kemuliaan 
orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Sebaliknya, Islam 
mencela sifat bakhil dan kikir, penimbunan barang, dsb.

      Tidak cukup dengan itu, Islam juga mewajibkan pemerintah agar mengerahkan 
seluruh potensi yang ada demi kepentingan hajat hidup orang banyak. Para 
regulator mesti membuat berbagai terobosan agar ketersediaan berbagai bahan 
pokok yang dibutuhkan masyarakat bisa terjamin. Selain itu, negara dapat 
memberikan bantuan cuma-cuma kepada masyarakat yang kurang mampu lewat kas 
negara (baitulmal).

      Islam juga mengharamkan penguasaan hajat hidup orang banyak dikuasai oleh 
individu atau korporasi. Hal ini wajar mengingat perkara tersebut dapat 
membahayakan perekonomian negara, selain akan mengakibatkan terjadinya 
penumpukan kekayaan pada segelintir orang, di tengah kemiskinan yang 
merajalela. Dikuasainya aset-aset penting bangsa kita saat ini (baik SDA maupun 
BUMN strategis) oleh korporasi lokal maupun asing terbukti hanya menjadikan 
masyarakat semakin sengsara.

      Sumber daya alam yang melimpah tersebut (hutan, laut dengan segala 
isinya, seluruh bahan tambang, dst.) adalah milik masyarakat yang semestinya 
dikelola oleh negara. Hasil dari pengelolaannya akan dikembalikan kepada 
masyarakat dalam bentuk BBM murah, pembangunan berbagai fasilitas umum, 
penyediaan layanan yang bersifat public service, dst.

      Besarnya dana yang ada juga memungkinkan pemerintah untuk menyediakan 
pendidikan secara murah meriah (bahkan gratis) kepada masyarakat. Dengan 
tingkat pendidikan yang baik, seluruh anggota masyarakat (baik muslim maupun 
nonmuslim) memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki nasib mereka. 
Wallahualam bissawab.
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke