Refleksi: Kalau pertemuan mereka luar biasa, maka masih ada pertanyaan : (1)
Mengapa sebelumnya mereka sulit dipertemukan untuk berjabat tangan. (2) Apakah
hal tsb didoroang oleh perbedaan prinsip politik ataukah justeru karena
perasaan irihati tidak kebagian rejeki kursiempuk kepresidenan? Bila demikian
halnya bisa berarti salah satu diantara mereka tidak mempunyai kedewasaan
dalam berpolitik. Apakah orang yang tidak berkedewasaan profesional berpolitik
bagus dijadikan pemimpin Anda?
Harian Komentar
01 Juni 2009
Luar Biasa! Mega-SBY Akhirnya Bisa Salaman
Jakarta, KOMENTAR
Kalangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengaku bersyu-kur, bahwa mantan presiden
Megawati Soekarnoputri akhirnya berjabat tangan dengan Presiden Susilo Bam-bang
Yudhoyono (SBY). Hal ini menjadi momen luar biasa, karena dua tokoh ini dikenal
jarang berkomunikasi. Bahkan berbagai upaya mempertemukan keduanya sudah
dicoba. Salah satunya melalui Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa yang
bertandang ke rumah Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta, beberapa waktu lalu.
Kedatangan Hatta, yang mengaku diutus SBY tersebut, dalam rangka menyambung
komunikasi yang hampir lima tahun terputus.
Tapi Sabtu (30/05) lalu, Mega-SBY bersalaman dua kali di kantor KPU Jalan Imam
Bonjol, Jakarta. Komisioner yang mengepalai Ke-lompok Kerja Pendaftaran Calon,
Syamsulbahri, menga-takan tak menyangka Mega-wati akhirnya bersedia bersa-laman
dengan Yudhoyono. "Luar biasa," kata Syamsul usai pengundian nomor urut di
kantornya, Jakarta.
Megawati dan Yudhoyono bersalaman dua kali saat pengundian nomor urut.
Per-tama, jabat tangan dilakukan setelah Megawati tiba di ruang sidang utama
gedung KPU. Ketika itu, SBY berdiri me-ninggalkan mejanya langsung mengulurkan
tangan ke Megawati.
Jabat tangan berikutnya berlangsung setelah penye-rahan berita acara penetapan
calon dan nomor urut. Usai menunjukkan nomor urut satu yang diperolehnya,
Me-gawati berjalan menuju meja yang disediakan KPU. Setelah beberapa langkah,
Megawati kembali dan menghampiri SBY. Ia pun mengulurkan ta-ngan dan menjabat
Yudho-yono tanpa mengucapkan satu patah kata pun.Dua kali jabat tangan itu
berlangsung sangat singkat. Tak ada kata-kata keluar dari Megawati mau pun SBY.
Tapi, dalam hati mereka menga-takan sesuatu, tidak ada yang tahu.
Saat Megawati masih men-jadi presiden, SBY menjabat Menteri Koordinator
Politik, Hukum dan Keamanan. SBY mundur dari jabatannya untuk mempersiapkan
pen-calonannya sebagai presiden. Pada Pemilu 2004 SBY ber-hasil "menggusur"
Megawati. Sejak saat itu keduanya tak pernah bertemu. Pernah ada undangan dari
Istana Kepresidenan untuk Megawati agar hadir dalam perayaan kemerdekaan, tapi
tak hadir. Syamsul mengaku sempat tak bisa tidur memi-kirkan acara jabat tangan
tersebut. Ketika jabat tangan keduanya terjadi, Syamsul pun mengucap syukur.
"Al-hamdullilah," katanya.
Sementara Pengamat Politik UI, Maswadi Rauf menilai, jabatan tangan Mega-SBY
belum tulus. "Sebenarnya jabat tangan itu bukan keinginan mereka berdua, tapi
karena terpaksa harus berjabat tangan, karena program KPU," kata Maswadi
kemarin (31/05).
Menurut Maswadi, karena didorong oleh keterpaksaan dan bukan ketulusan, jabat
tangan itu tidak bermakna banyak. Raut keengganan masih terbayang jelas di
wajah keduanya, terutama Megawati. "Kelihatan betul Mega ingin menghindar, lalu
ditarik oleh orang-orang su-paya mendekat. Sangat ke-lihatan keengganan Mega,"
tutur Maswadi.
Padahal yang diharapkan adalah kedua elit politik itu bisa bertemu dan berjabat
tangan secara tulus dengan keinginan mereka sendiri. Dengan demikian barulah
tercipta 'perdamaian' antara dua tokoh berpengaruh di Indonesia tersebut. Meski
begitu, menurut Maswadi, bukan berarti jabat tangan kemarin sia-sia belaka.
Berawal dari keterpaksaan, diharapkan jabat tangan itu nantinya akan berubah
men-jadi tulus. Jabat tangan ter-paksa itu ibarat latihan bagi keduanya.
Terlebih mereka masih memiliki 'momen me-maksa' lainnya, yakni ketika debat
calon presiden yang berlangsung tiga kali di mana mereka juga diharuskan
sa-ling berjabat tangan.
"Paling tidak dengan ter-paksa mereka mulai terbiasa. Kita harapkan jadi cair
ke-bekuan itu sehingga bisa lebih mudah buat mereka," kata Maswadi.(jim/dtc/*)
[Non-text portions of this message have been removed]