Refleksi:  Hemat saya bukan persaingan antara pertumbuhan penduduk dan produksi 
pangan,  melainkan kebutuhan pangan dengan adanya pertumbuhan penduduk yang 
pesat, teristimewa  yang diakatakan ledakan penduduk atau istilah manisnya " 
demographic explosion". Jadi kalau mempunyai anak banyak sebenarnya bukan saja 
berkat surgawi tetapi juga beban hidup, teristimewa kepada kaum tidak berada.


http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009060304045853

      Rabu, 3 Juni 2009 
     
     
     
     
     
Ledakan Penduduk dan Penyediaan Pangan 

      Subejo

      Dosen UGM, PhD Candidate The University of Tokyo, Ketua IASA Jepang



      Persaingan antara pertumbuhan penduduk dan produksi pangan telah menjadi 
perhatian cendekiawan sejak dua abad lalu. Hal ini merupakan agenda yang sangat 
serius karena menentukan keberlangsungan hidup umat manusia.

      Malthus (1798) telah mempredikasi dunia akan menghadapi ancaman karena 
ketidakmampuan penyediaan pangan memadai bagi penduduknya. Teori Malthus 
ringkasnya menyatakan peningkatan produksi pangan mengikuti deret hitung dan 
pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur sehingga manusia pada masa depan akan 
mengalami ancaman kekurangan pangan.

      Setelah sekian lama berlalu dengan berbagai dinamika inovasi teknologi 
pangan dan pengendalian penduduk, ekonom terkemuka Jeffrey D. Sach (2008) masih 
mengajukan pertanyaan besar apakah benar kita telah mengalahkan perangkap 
Malthus? Waktu dua abad pun belum bisa meyakinkan kita akan jawaban tersebut.

      Penduduk dan Kebutuhan Pangan

      Jumlah penduduk dunia senantiasa tumbuh. US Census Bureau, memperkirakan 
tahun 2010 penduduk di Asia Pasifik saja mencapai 4 miliar dimana India dan 
China menyumbang lebih dari 2 miliar. Indonesia juga berkontribusi besar, yaitu 
seperempat miliar jiwa.

      Penduduk Indonesia tumbuh pesat, tahun 1900 jumlahnya masih sekitar 40 
juta. Peningkatan penduduk berdasar pada periode, yaitu 120 juta (1970), 147 
juta (1980), 179 juta (1990), dan mencapai 206 juta (2000). Angka terbaru 
penduduk telah mencapai 225 juta (2007). Dalam 40 tahun tekahir, penduduk telah 
bertambah lebih dari 100 juta jiwa, sebuah peningkatan yang fantastis (BPS, 
2009).

      Indonesia dipandang cukup sukses dalam implementasi program keluarga 
berencana (KB) yang diintroduksi sejak 1968. Secara nasional, tingkat 
pertumbuhan penduduk dapat ditekan dari 2,31 persen tahun 1970-an menjadi 1,49 
persen tahun 2000-an.

      Angka pertumbuhan penduduk yang telah dicapai tersebut dipandang masih 
belum cukup jika dikaitkan dengan total penduduk nasional. Selain itu, 
pascareformasi dan implementasi otonomi dearah, kebijakan program KB berada 
dalam otoritas daerah di mana pada banyak kasus cenderung stagnan, bahkan turun 
karena rendahnya concern daerah terhadap kependudukan. Jika hal ini terabaikan, 
bukan tidak mungkin gejala ledakan penduduk akan terjadi dan berdampak sosial 
ekonomi yang lebih rumit dan membahayakan.

      Menggunakan pendekatan pertumbuhan penduduk sepuluh tahun terakhir 
(1990--2000) sebesar 1,49 persen (BPS, 2009), dan data terakhir kependudukan 
tahun 2007 sebesar 225 juta jiwa, secara sederhana dapat dikalkulasi bahwa 
setiap tahun ada penambahan penduduk 3,35 juta jiwa.

      Besarnya jumlah penduduk terkait langsung dengan penyediaan pangan. 
Konsumsi pangan utama sumber karbohidrat adalah beras. Sebagaimana dilaporkan 
Pasandaran, sejak tahun 1970--1990 konsumsi beras per kapita per tahun 
meningkat nyata, yaitu 109 kg (1970), 122 kg (1980) menjadi 149 kg (1990). 
Meskipun setelah tahun 1990, konsumsi beras sedikit turun, tapi dipandang masih 
cukup besar, yaitu 114 kg/orang/tahun pada 2000 (BPS). Rerata konsumsi per 
kapita ini merupakan yang terbesar di dunia.

      Ketidakmampuan menyediakan pangan pokok yang ditandai dengan besarnya 
impor beras beberapa saat lalu menjadi pertanda yang serius bagi kita agar 
memiliki perhatian pada persoalan kependudukan dan penyediaan pangan.

      Pangan dan Persoalannya

      US Census Bureau mencatat kebutuhan pangan biji-bijian (beras dan jagung) 
di Asia akan meningkat pesat dari 344 juta ton tahun 1997 menjadi 557 juta ton 
tahun 2020 di mana kontribusi China dan India 26 dan 12 persen.

      Persoalan krisis pangan dunia yang ditandai kelangkaan pangan dan 
melonjaknya harga pangan di pasar internasional tahun 2008, salah satunya 
disebabkan membubungnya permintaan pangan oleh kekuatan ekonomi baru China dan 
India dengan penduduk masing-masing 1 miliar jiwa.

      Dalam konteks Indonesia, produksi pangan nasional yang cukup merupakan 
persoalan yang serius. Meskipun selama dua tahun terakhir dilaporkan swasembada 
beras tercapai, tapi untuk jangka panjang masih menjadi pertanyaan besar.

      Salah satu solusi dalam peningkatan produksi pangan adalah peningkatan 
areal dan produktivitas. Meskipun hal tersebut telah dilakukan dengan berbagai 
strategi tapi data menunjukkan masih jauh dari cukup. Selama lima tahun 
terakhir (2004--2008), areal panen padi hanya meningkat 0,47 juta ha. Dari segi 
produktivitas meningkat 0,32 ton/ha.

      Dengan prediksi jumlah penduduk 300 juta tahun 2015, kebutuhan beras akan 
membacapi 80-90 ton/tahun. Menggunakan asumsi luas panen yang tidak akan banyak 
berubah dari angka 12 juta ha/tahu, solusinya pada tuntutan produktivitas 
hingga 10 ton/ha.

      Hal tersebut hampir dipastikan sebuah mission impossible. Sejarah 
produksi beras dunia mencatat negara yang memiliki sejarah dan tradisi produksi 
beras paling panjang dan teknologi paling hebat seperti Jepang, Taiwan, Korea, 
dan China hanya mampu memproduksi beras di lahan petani secara stabil dalam 
skala lapangan paling tinggi 7 ton/ha.

      Agenda Masa Depan

      Meskipun berbagai inovasi telah diciptakan, perangkap Malthus masih tetap 
menghantui. Kemampuan kita secara kontinu menyediakan pangan yang melampaui 
pertumbuhan penduduk akan terus diuji sepanjang waktu.

      Program pengendalian penduduk diikuti program pendukung seperti layanan 
sosial, pendidikan dan kesehatan menjadi prasyarat dan prioritas. Pemerintah 
pusat dan daerah harus saling bersinergi dan bermintra dengan kalangan swasta 
dan korporasi terkait dengan hal ini.

      Penciptaan lahan baru perlu didorong terutama untuk daerah yang layak dan 
potensial. Program ini tidak bisa sepenuhnya diharapkan karena kendala sosial, 
teknis, dan biaya. Solusi lain adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan kering. 
World Bank (2003) mendata lahan kering di Indonesia sebesar sekitar 24 juta ha. 
Lahan tersebut sangat potensial untuk program diversifikasi pangan dan 
diversifikasi produksi pertanian dengan tanaman kehutanan, peternakan, dan 
perkebunan.

      Diversifikasi pangan menjadi salah satu kata kunci. Bahan pangan nonpadi 
yang bisa diproduksi dari lahan kering nonsawah sangat potensial untuk 
dikembangkan dan dikampanyekan terus menerus kepada publik.

      Penelitian, pengkajian, dan penyebarluasan melalui penyuluhan akan 
teknologi produksi baru seperti benih yang memiliki produktivitas tinggi, tahan 
terhadap kekurangan air dan guncangan cuaca ekstrem mutlak diupayakan.

      Program pengendalian alih fungsi lahan pertanian utamanya sawah sangat 
mendesak dilakukan. Beberapa laporan mengindikasikan selama 20 tahun terakhir, 
kita telah kehilangan 1 juta ha sawah subur di Jawa karena alih fungsi lahan. 
     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke