http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2009/06/02/4357.html
Selasa, 2 Juni 2009, 12:08:12 WIB
Presiden SBY:
Hubungan Indonesia-Korsel Adalah Kisah Sukses
Pulau Jeju, Korsel: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganggap pertemuan
bilateral dengana Presiden Republik Korea Lee Myung-Bak merupakan sebuah
pertemuan penting. "Bahkan setelah pertemuan formal, kami bertemu kembali
secara lebih informal. Meskipun pertemuannya informal, bukan berarti
masalah-masalah yang kita bahas tidak penting. Sama pentingnya, bahkan
seringkali dalam diplomasi, pertemuan informal itulah yang menghasilkan sesuatu
yang tidak bisa disampaikan secara formal," kata SBY dalam keterangan persnya
di Hotel Shilla, Selasa (2/6) pagi.
"Kami berdua senang, bersyukur, dan ingin terus meningkatkan kemitraan
strategis antara Indonesia dan Korea. Hubungan perdagangan juga menggembirakan,
sekarang sudah mencapai 19,3 milyar dollar. Ini cukup besar dan kami sepakat
manakala krisis global ini bisa segera kita lampaui, kita ingin meningkatkannya
lagi. Senang bila dalam waktu yang tidak terlalu lama, Indonesia dan Korea bisa
meningkatkan lebih dari 20, 25, dan seterusnya," seru SBY.
Investasi antara Indonesia dan Korsel juga berkembang dengan baik. "Saya boleh
mengatakan sesungguhnya sekarang ini dari segi progres, kerjasama perekonomian
utamanya perdagangan dan investasi dengan Korsel ini merupakan salah satu kisah
yang sukses. Investasi kumulatif berjumlah 13 milyar dollar dan banyak sekali
perusahaan Korea yang ada di Indonesia banyak memberikan lapangan pekerjaan
bagi saudara-saudara kita," ujar SBY.
Presiden SBY juga memandang Korsel sebagai negara yang setia. "Ketika ada
gonjang-ganjing di negeri kita, sebagian investasi negara sahabat meninggalkan
Indonesia, tetapi Korea tetap tinggal. Ini menunjukkan persahabatan dan
kerjasama yang baik. Saya mengajak lagi untuk meningkatkan kerjasama ini di
bidang manuvaktur, energi, termasuk perkembangan energi terbarukan, pembangunan
infrastruktur, dan ICT," SBY menjelaskan.
"Saya mengucapkan terimakasih dan penghargaan, janji Presiden Lee atas
permintaan saya ketika berkunjung dua tiga bulan yang lalu ke Indonesia agar 37
ribu lebih TKI yang ada di Korsel ini tidak serta merta dipulangkan akibat
krisis global. Bahkan saya dukung kebijakan pemerintah Korsel untuk memberikan
training dan memberi peluang untuk mendapatkan lapangan pekerjaan baru,"
lanjutnya.
Apa yang dijanjikan Presiden Lee dan apa yang dibicarakan secara serius di
Jakarta ketika beliau berkunjung menjadi kenyataan. "Sedikit sekali TKI yang
kembali ke Indonesia. Menurut Dubes RI untuk Korsel, TKI yang kembali ke
Indonesia itu memang memilih untuk pulang, bukan berarti tidak ada peluang
untuk mendapatkan pekerjaan baru. Ini penting, sebab bila 37 ribu pekerja
Indonesia beramai-ramai kembali, tentu memberikan tantangan bagi kita untuk
mencarikan pekerjaan kembali," tegas SBY.
Di bidang kehutanan, Indonesia dan Korsel sepakat untuk bekerjasama dengan
format clean development mechanism, dalam rangka mengelola hutan menghadapi
perubahan iklim dan pemanasan global. "Ini salah satu kerjasama yang kongkrit.
Menhut sendiri telah mengelolanya dengan seksama," SBY menerangkan.
"Di bidang kepariwisataan juga saya tonjolkan. Terus terang makin banyak
wisatawan Korea yang berkunjung ke Indonesia dan kita ingin ini dikembangkan
lagi karena income perkapita yang tinggi dari bangsa Korea ini, tentu
kedatangan mereka akan menjadi lebih banyak. Kita harus menjemput bola, apa
saja yang bisa kita lakukan untuk dunia pariwisata ini," papar SBY.
Dua minggu lalu Presiden SBY mengeluarkan pernyataan bahwa masa depan
perekonomian Indonesia tidak boleh bersandar pada pertanian, industri, dan
jasa-jasa yang konvensional, tetapi ada dua yang bisa dikembangkan bersama.
Pertama kepariwisataan dan kedua ekonomi kreatif, termasuk ekonomi yang
berbasiskan kebudayaan dan warisan. "Kenyataannya tahun demi tahun
kontribusinya makin nyata, oleh karena itu kita ingin keduanya ini bisa kita
kembangkan," tambahnya.
"Di bidang pendidikan kita ingin kerjasama membawa manfaat yang nyata. Presiden
Korea menyambut para pelajar dan mahasiswa dari ASEAN. Kalau dilihat dari ratio
yang paling banyak nanti dari Indonesia. Kami berdua sepakat bila nanti ada
mahasiswa yang belajar di Korea, agar banyak yang mendalami teknologi, termasuk
information and communication technology karena keunggulan bangsa Korea baik
dibidang itu," kata SBY.
Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada
semua untuk mengenyam pendidikan. "Oleh karena itu bagi yang miskin kita
gratiskan. Kalau mereka tidak mengenyam pendidikan, bagaimana bisa hidup layak.
Tetapi jangan lupa, sebuah bangsa bisa bangkit dan maju kalau ada sekelompok
anak bangsa yang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
tinggi, yang bisa melakukan inovasi, berpikir kreatif dan kemudian memberikan
nilai tambah pada perekonomian kita," ujar SBY.
Salah satu kebijakan dasar kita, lanjut SBY, yang kita tuju bukan hanya
pengetahuan, tetapi juga ketrampilan karena disitulah akar produktifitas dari
berbagai kegiatan perekonomian kita. "Dalam kebijakan itu, sesuai dengan
kebijakan dan strategi kita, maka kerjasama dengan negara sahabat yang bisa
memperkuat semuanya itu menjadi penting," terangnya.
Masalah bantuan Korea terhadap negara-negara ASEAN, Official Development
Assistance, Presiden SBY mengajukan agar bantuan ini pada Indonesia bisa
ditujukan untuk research and development. "Kalau bisa dikaitkan dengan agenda
besar yaitu perubahan iklim, ketahanan energi, dan ketahanan pangan," jelas SBY.
"Kemarin ketika Presiden Lee mengajak saya meninjau pameran Green Growth
Technology, saya sungguh tertarik. Saya langsung menyuruh Menkominfo untuk
mendalami lagi. Apa yang dipamerkan kemarin, klop dengan apa yang diinginkan
kita, berkaitan dengan energi yang ramah lingkungan, tata ruang daerah
pengaliran sungai, pengelolaan sampah. Saya ingin ini juga bisa dikerjasamakan
dalam format reserach development assitant sebagai bentuk kerjasama kita,"
terangnya.
Presiden SBY dan kepala negara/pemerintah ASEAN lainnya mengungkapkan
keprihatinan terhadap situasi kemanan di semenanjung Korea. "Saya berharap
semuanya bisa diselesaikan secara damai agar stabilitas dan keamanan kawasan
dapat dipelihara," tegasnya. (osa)
[Non-text portions of this message have been removed]