http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/06/03/08232987/setelah.suramadu.lantas.apa.lagi



Setelah Suramadu, Lantas Apa Lagi?

Rabu, 3 Juni 2009 | 08:23 WIB

Haryo Damardono

KOMPAS.com - ”Tenaga ahli dan pekerja konstruksi Indonesia sudah mampu 
membangun jembatan bentang panjang. Setelah membangun Jembatan Suramadu (5.438 
meter), kami siap membangun jembatan di mana pun,” kata Danis H Sumadilaga, 
Direktur Bina Teknik Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum.

Hari Kamis (28/5), saat menapaki bentang utama Jembatan Suramadu, Kompas pun 
menjumpai pekerja asal China, sebagai konsekuensi pinjaman.

Kehadiran mereka positif. China lebih pengalaman membangun jembatan setelah 
giat membangun infrastruktur. Alhasil, kini teknologi mereka telah direbut. 
Meski, kata Danis, teknologi itu harus dipelajari lagi, lalu diterapkan.

Jembatan cable stay bridge Suramadu memang tidak hanya dipelajari kontraktor 
Indonesia, tetapi pegawai PU, akademisi, dan mahasiswa.

Tuntasnya Suramadu ada di depan mata. Pekan ini, tinggal mengaspal approach 
bridge sisi Surabaya. Hampir pasti, jembatan diresmikan hari Rabu (10/6) oleh 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Namun, pembangunan jembatan lain menanti di negeri kepulauan ini. Jembatan tak 
cuma menghubungkan pulau, tapi ”melangkahi” sungai-sungai, selebar ribuan meter.

Kini, PU mendesain Jembatan ”panjang” Tayan (1.200 meter) di Kalimantan Barat. 
Tujuannya untuk menumbuhkan ekonomi selatan Kalbar. Bila jembatan selesai, 
perjalanan melintasi Trans-Kalimantan penghubung 
Samarinda-Balikpapan-Banjarmasin-Palangkaraya-Pontianak tak terhambat Sungai 
Kapuas.

”Kami juga berniat membangun Jembatan Serangan-Tanjung Benoa. Sedang dihitung 
ketinggian idealnya sebab kapal melintas di bawah jembatan dan pesawat terbang 
rendah di perairan Tanjung Benoa sebelum mendarat di Ngurah Rai,” kata Danis.

Jadi kini, bangsa ini sanggup membangun jembatan panjang tanpa bantuan negara 
lain, dengan catatan ada dana. Tak jadi soal bila mengimpor material. Sebab 
belajar dari Suramadu, adanya 30 persen bahan produksi China, seperti stayed 
cable, lebih disebabkan tak tercapainya skala ekonomis bila dibuat di Indonesia.

Optimisme tinggi membangun jembatan panjang telanjur merasuki banyak pemda. Ada 
rencana Jembatan Teluk Kendari (700 meter), di Sulawesi Tenggara; Jembatan 
Penajam (4.000 meter) di Teluk Balikpapan; dan Jembatan Nunukan (4.200 meter) 
di Kalimantan Timur. Belum lagi, megaproyek Jembatan Selat Sunda (31 
kilometer), berbiaya Rp 92 triliun. Jembatan itu akan menghubungkan Jawa dan 
Sumatera.

Perlu insentif

Setelah Suramadu tuntas, kata anggota DPR, Nusyirwan Soejono, Madura harus 
mampu menumbuhkan ekonomi setempat. ”Bila dalam beberapa periode pertumbuhan di 
sisi Surabaya lebih besar dibanding Madura, artinya jembatan itu gagal,” kata 
dia.

Nusyirwan menyayangkan Jembatan Barelang (Pulau Batam-Pulau Rempang-Pulau 
Galang). ”Maaf, setelah jembatan jadi, belum ada lonjakan ekonomi di sana,” 
ujarnya.

Pengembangan kawasan industri Madura (600 hektar) serta kawasan kaki-kaki 
jembatan seluas masing-masing 600 ha, telah ditargetkan pemerintah. Sebuah 
kawasan tidak akan berkembang kalau tidak ada perangsangnya.

Harus ada insentif, kemudahan perizinan, dan kepastian usaha. Tanpa itu, jangan 
banyak berharap ekonomi Madura melejit walaupun ada Jembatan Suramadu.

Jangan sampai jembatan itu, sekadar jadi ikonik di timur Jawa. Semoga kehadiran 
jembatan Suramadu bisa meningkatkan kesejahteraan warga Madura.


Sumber : Kompas Cetak 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke