http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/06/03/08490588/perbankan.kebanjiran.valas


Perbankan Kebanjiran Valas

Rabu, 3 Juni 2009 | 08:49 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Perbankan kebanjiran valuta asing (valas) pada saat 
rupiah menguat terhadap dollar AS. Likuiditas valas ini tak hanya datang dari 
dana pihak ketiga (DPK). Beberapa bank juga membeli dolar AS untuk mengamankan 
kebutuhan valasnya.

Direktur Internasional dan Treasury PT BNI Tbk Bien Subiantoro mengakui, 
likuiditas valas di banknya meningkat drastis. Kebutuhan valas BNI tahun ini 
diperkirakan 430 juta dollar AS. "Tetapi sekarang stok valas kami mencapai 800 
juta dollar AS. Sangat mencukupi," ujarnya. BNI menumpuk valas untuk memenuhi 
kebutuhan kredit, terutama trade finance sekaligus memenuhi kewajiban 
pembayaran utang valas.

Direktur Konsumer dan Ritel PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib menilai, bank 
mengalami banjir likuiditas valas karena nasabah antusias menyimpan dollar AS 
di bank. Soalnya, bunga simpanan dalam bentuk valas di bank domestik masih 
menarik ketimbang bunga yang ditawarkan di luar negeri.

Menurut Kostaman, saat ini bunga simpanan valas yang ditawarkan di luar negeri 
nyaris mendekati nol. "Namun, bunga dollar di bank lokal masih sekitar 2 
persen," katanya. Hingga akhir Mei 2009 DPK valas yang dihimpun Bank Mega 
mencapai Rp 6 triliun.

Likuiditas valas di bank juga naik, kata Kostaman, karena perbankan memborong 
valas untuk berjaga-jaga. Dalam artian, karena dollar melimpah, bank tidak 
perlu jantungan jika suatu saat melihat angka kredit macet alias non-performing 
loan (NPL) dalam mata uang asing meningkat. Jika NPL kredit valasnya naik, bank 
harus menyediakan biaya provisi atau pencadangan juga dalam bentuk valas. 
Makanya, mumpung rupiah menguat, bank menyetok valas.

Meski likuiditas valas meningkat, bank juga masih enggan menyalurkan kredit 
valas. Alasannya, likuiditas valas yang banjir saat ini masih belum stabil 
alias ada kemungkinan akan bertambah atau sebaliknya berkurang.

PT Bank OCBC NIPSP Tbk, misalnya, menyimpan DPK valas per Mei 2009 sebesar Rp 
5,3 triliun. Direktur Utama Bank OCBC NISP Tbk Parwati Surjaudaja mengatakan, 
dana itu naik 1 persen dibandingkan posisi bulan sebelumnya jika dihitung 
dengan original currency. Namun, valas yang berlimpah itu tak semuanya 
disalurkan sebagai kredit. "Kami menyalurkan kredit valas senilai Rp 3,2 
triliun," ujarnya. Adapun valas yang tersisa ditanam di instrumen keuangan 
sebagai cadangan.

Sementara itu, Direktur Internasional dan Treasury Bank Mandiri Thomas Arifin 
mengatakan, hingga akhir Mei DPK valas di Bank Mandiri mencapai 4,03 miliar 
dollar AS. Sementara itu, yang disalurkan dalam bentuk kredit sebesar 2,7 
miliar dollar AS. "Berarti LDR valas kami sekitar 69 persen," ujarnya.

Menurut bankir, jika likuiditas valas terus membanjir, ada kemungkinan bank 
juga akan memangkas bunga deposito valas mengikuti pemangkasan bunga deposito 
rupiah. "Jika bunga pasar dipangkas antara 0,50 persen dan 1 persen, saya yakin 
investor asing masih berminat membenamkan dananya di perbankan Indonesia," ujar 
Safrullah Hadi, Direktur Bisnis PT Bank UOB Buana, Selasa (2/6). (Dyah 
Megasari/Kontan)


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke