BUYA KH. ABDUL GANI LATIF

Dari Militer sampai Pendakwah


Ketika tentara Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942, Sekolah Tinggi Islam
ditutup. Masyarakat diarak untuk mengikuti kerja rodi (paksa). Seperti
pemuda-pemuda lain, Buya Abdul Gani Latif mengikuti latihan militer di
Kandang Empat Pariaman untuk kepentingan Jepang. Tahun 1946, Buya dengan
pangkat Letnan Dua ditugaskan sebagai staf Resimen VI. Karir sebagai orang
militer tidak berlanjut. Namun tahun 1950 Buya Gani meninggalkan tugas
militer, beralih sebagai guru agama.



Lahir tahun 1920 di desa Siteba Nanggalo (sekarang kawasan perumahan dan
pasar) Kota Padang. Sebagai orang Minangkabau, Buya Gani (begitu akrab
dipanggil), menyandar gelar pusako Malin Mudo, sekaligus kepala waris dalam
kaum suko Koto di kaumnya.



Masa kecil Buya sama seperti anak-anak lain ketika negara Indonesia masih
dijajah bangsa Belanda. Masa kecilnya dihabiskan mengaji di surau (tempat
beribadah umat Islam milik kaum di Minangkabau). Setelah usia sekolah, Buya
kecil masuk sekolah desa (Governemen) dan meneruskan pendidikan ke Thawalib
Padang Japang Kabupaten 50 Kota selama satu tahun. Selanjutnya pindak ke
Thawalib Tiakar Payakumbuh sampai tamat tahun 1935.



Setahun kemudian Buya melanjutkan pendidikan ke Normal Islam di Padang di
bawah pimpinan H Muhammad Yunus, tamat tahun 1940. Kemudian tahun 1941
melanjutkan ke Pendidikan Islam Tinggi (semacam perguruan tinggi IAIN
sekarang) sebagai lanjutan Normal Islam.



Sebelum Jepang menjajah Indonesia, Buya Gani pernah mendirikan Sekolah
Thawalib tahun 1935. Tahun 1936 tercatat 190 orang murid. Tempat belajarnya
menggunakan beberapa surau yang ada di sekitar sekolah Thawalib. Sekolah ini
setingkat dengan tsanawiyah.



Pendirian sekolah Thawalib didorong oleh amanat dari Syekh Ibrahim, guru
Buya Gani. Dengan alasan kurangnya lembaga pendidikan agama di Padang.
Materi yang diajarkan diperoleh dari gurunya Syekh Ibrahim Hasan seperti
Ilmu Nahwu, Sharaf, Mantiq, Tarikh, Tafsir, Fiqih, dan lain-lain. Namun
tidak berapa lama umurnya karena ditutup Belanda. Sekolah tersebut dianggap
Belanda menentang pemerintah. Buya tak hilang akal. Nama sekolah tersebut
diganti menjadi Persatuan Islam.



Tahun 1950 madrasah ini diambil-alih oleh organisasi Muhammadiyah. Di bekas
sekolah itu didirikan Sekolah Rakyat yang selanjutnya berubah menjadi
Sekolah Dasar Islam (SDI).  Buya Gani selanjutnya diangkat menjadi kepala
sekolah, di samping guru agama.



Buya Gani juga pernah menjadi Kepala Madrasah Persatuan Islam. Sekaligus
diminta Syekh Sulaiman Ar-Rasuli (yang dikenal dengan Inyiak Canduang)
mengajar pada Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di Pasar Miskin Padang
sebagai cabang dari MTI Canduang. Pada saat yang sama, Buya melanjutkan
pendidikan ke Normal Islam di Padang.



Hengkang dari dari militer tahun 1950, sampai tahun 1958 Buya Gani bertugas
sebagai guru agama. Beliau memasukkan pelajaran gama dalam kurikulum sekolah
umum. Kemudian tahun 1959 Buya Gani dipercaya menjabat Kepala Kantor
Inspeksi Pendidikan Agama Padang/Padang Pariaman. Beliau merupakan orang
pertama menjadi Kepala Inspeksi Pendidikan Agama di Kota Padang.



Tahun 1959 Buya Gani masuk organisasi Partai Nahdlatul Ulama (PNU). Setelah
terjadinya pemberontakan PRRI di Sumatera Barat, memang banyak tokoh agama
Islam yang berbondong-bondong bergabung dengan NU, sebagian benar-benar
bermaksud memajukan syiar Islam bersama NU, sebagian lain sekedar agar tidak
dianggap pemberontak. Dengan cara bergabung dengan NU, banyak ulama yang
diselamatkan Buya Gani dari anggapan pemberontak. Diantaranya adalah Buya H
Darwas Idris dan Buya Yacub Thalib.



Gelar ”Kyai” diperoleh Buya Gani dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
tahun 1984. Sejak bergabung dengan NU, beliau aktif dalam berbagai aktifitas
NU, termasuk ketika NU berafilisai dengan PPP dan ketika NU memasilitasi
pendirian PKB, hingga terakhir beliau dipercaya menjadi Rais Syuriah PWNU
Sumatera Barat (1999 – 2004).



Buya Gani pernah mempelopori berdirnya panti asuhan di Nanggalo ketika
Belanda masih menjajah negeri ini. Setidaknya ada 40 anak-anak yatim yang
ditampung di panti asuhan tersebut. Ketika zaman Jepang, panti asuhan
tersebut terhenti. Setelah kemerdekaan panti asuhan tersebut dilanjutkan
oleh organisasi Aisyiah.



Beliau juga dikenal sebagai imam masjid Sahara Padang Pasir Kota Padang.
Sebagai seorang pensiun dari Departemen Agama, sehari-hari kegiatan Buya
antara lain berdakwah, bergerak di bidang sosial keagamaan, membimbing
mahasiswa IAIN Imam Bonjol Padang menghadapi ujian komprehensif sebagai
salah satu syarat mengakhiri pendidikan.



Di antara guru yang berkesan, kata Buya Gani, antara lain H Mohammad Noer
Simlanggang. Keahlian yang diperoleh dari guru ini adalah membaca kitab ilmu
tata bahasa arab *Matan Jurumiyah*, ilmu fikih *Matan Taqrib*. Sedangkan
dari gurunya Syekh Abbas Padang Japang diperoleh pelajaran membaca kitab
fiqih *Fathul Qarib *dan *Syarh al-Bajuri*. Pelajaran ilmu fikih lainnya
lebih banyak diperoleh dari Syekh Ibdrahim Hasan di Tiakar Payakumbuh. Ilmu
tafsir dari Kaciwin Effendi. Sedangkan ilmu tasawuf diperoleh dari H Ramli,
dengan kitab yang dibaca *Ihyaulumiddin*. Ilmu hadits diperoleh dari H Amir
dengan buku yang dibaca *Arba’in Nawawi* dan *Jawahir Bukhari*.



Ilmu keagamaan yang sangat diminatinya adalah tafsir dan ilmu tafsir. Dalam
muzakarah yang diadakan sewaktu belajar pada Syekh Ibrahim Hasan, Buya Gani
sangat tekun menyimak setiap penyampaian dari gurunya. Alasannya, kedua ilmu
itu sangat perlu disampaikan ke tengah-tengah masyarakat yang merupakan
sumber pokok dari ajaran agama Islam.



Dalam berdakwah, Buya Gani tidak seperti mubaliqh lain pada umumnya yang
menyampaikan materi dakwah yang penuh dengan agitasi. Tetapi beliau
menyampaikan dengan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist dengan cara menafsirkan
dan membahasnya terlebih dahulu, membuktikan apa betul pengertian yang
terkandung dalam Al-Qur’an itu.



Ternyata, dakwahnya dapat dimengerti oleh masyarakat awam sampai kalangan
akademisi. Pembantu Rektor IAIN Imam Bonjol Padang DR Jaya Sukma pernah
belajar dengan Buya Gani karena beliau memang ahli membaca tulisan Arab
tanpa harakat (kitab gundul).


Disadur kembali oleh Bagindo Armaidi Tanjung


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke