http://jawapos.com/index.php?act=cetak&id=28

[ Selasa, 16 Juni 2009 ] 


Siswa Miskin Tak Perlu Mimpi RSBI 

Oleh: Nadlifah Hafidz 

Di negara ini, siswa tak boleh atau ''diharamkan'' miskin. Kalau miskin, nyaris 
mustahil mereka bisa memenuhi keinginan atau cita-cita besarnya. Jika pun ada 
di antara siswa miskin mampu memenuhi ambisinya atau berhasil menuai prestasi 
gemilang, itu terbilang kelangkaan atau bagian dari cerita ''mencari jarum'' di 
tengah lautan.

Memang, ada saja cerita soal anak miskin berprestasi atau masuk sekolah atau 
perguruan tinggi ternama. Tapi, mereka bisa sampai ke sana tidaklah dengan 
gratis. Mereka bisa berprestasi cemerlang didukung oleh semangat atau kegigihan 
untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa dirinya mampu mengisi ranah sejarah 
sebagai ''orang''.

Tantangan yang dihadapi siswa miskin, selain kompleks, juga berat. Hal itu 
lebih berelasi pada akar kemiskinan yang mengimpitnya. Kalau saja mereka tidak 
masuk golongan ''anak-anak akar rumput'', tentulah apa yang seharusnya menjadi 
problem tidak jadi hambatan yang membelenggu atau menistanya. 

Kalau orang kaya punya logika borjuistis dan kapitalistis dalam menyekolahkan 
anak-anaknya, orang miskin menyekolahkan anak-anaknya berdasar sisi 
pragmatisme. Komunitas elite ekonomi memperlakukan sekolah ibarat ''pasar'' 
yang wajib hukumnya direbut dengan pertaruhan segala kemampuan ekonomi serta 
harga diri.

Sementara itu, orang miskin bermaksud menyekolahkan anaknya supaya kelak 
anaknya itu bisa menjadi elemen strategis bangsa yang sukses menjadi pembebas, 
bukan sebagai generasi parasit yang membenani masyarakat, keluarga, serta 
negara. 

Sayangnya, kondisi disparitas di negeri ini, tampaknya, masih tetap berlangsung 
dan bahkan semakin tajam. Komunitas elite (kaya) bisa memilih sekolah sesuka 
hati. Bahkan mampu menjadikan sekolah itu sebagai objek ''olimpiade 
keserakahan'' atau ambisi-ambisinya. Komunitas kaya tersebut berlomba, 
bersaing, serta berambisi merebut label sekolah terbaik, unggulan, dan 
berstandar internasional, layaknya pelari yang memburu gelar dalam suatu 
olimpiade. 

Mereka bermaksud mengisi ranah sebagai ''upper class'' atau kelas pemenang 
lewat sekolah-sekolah yang ''terjual'' di masyarakat. Semakin banyak sekolah 
bertarif mahal yang dijual atau ''diolimpiadekan'' kalangan pebisnis dan 
produsen pendidikan. Layaknya kacang goreng, sekolah-sekolah model itu diburu 
komunitas yang haus pengabsahan status sosial tersebut. 

Produsen sekolah, yang bisa membaca peta mentalitas komunitas elite, terus 
bereksperimen dengan mengumpankan model-model sekolah yang bisa menarik minat 
konsumen elite tersebut. Produsen itu bahkan mengemas sekolahnya dengan 
menghadirkan output pendidikan bermerek luar negeri, kendati output itu 
sebenarnya tidak mengambil profesi di bidang edukatif (sebagai guru).

***

Ketika proyek rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) mengisi ranah 
publik, kelompok elite di masyarakat langsung memburu. Tidak ada RSBI yang 
kehabisan kuota pendaftaran. Mereka itu tidak memperhitungkan berapa pun biaya 
yang dikeluarkan untuk mengisi donasi RSBI, asalkan anaknya bisa masuk. Uang 
jutaan rupiah sudah pasti menjadi bagian dari syarat yang menentukan masuk 
RSBI. 

Kondisi tersebut tentu saja membuat disparitas di jagat pendidikan sangat 
mencolok. Di satu sisi, komunitas elite bisa menjadikan RSBI sebagai objek 
''olimpiade'' ambisinya. Di sisi lain, kelompok masyarakat miskin nyaris 
mustahil bisa merebut kursi di RSBI. 

Penyelenggara RSBI bisa saja berdalih bahwa RSBI bukan hanya untuk komunitas 
elite atau siswa kaya, tapi juga untuk siswa miskin yang mempunyai prestasi 
akademik bagus dengan beasiswa. Namun, belum ditemukan, setidaknya belum 
terpublikasikan, bahwa RSBI yang memberi jasa siswa miskin benar-benar 
menggratiskan semua lini pembiayaan. 

Menyikapi realitas itu, komunitas miskin tidaklah selayaknya memaksakan memburu 
RSBI. Pertama, daripada mengeluarkan biaya yang tergolong sangat besar (untuk 
ukurang orang miskin), lebih baik uang yang dimiliki digunakan untuk mendukung 
atau menopang kepentingan lainnya. Era multikrisis yang selalu dihadapi orang 
miskin membutuhkan persiapan uang untuk berjaga-jaga.

Realitas tersebut diperparah turunnya anggaran untuk bantuan siswa miskin. 
Meski porsi anggaran pendidikan sudah 20 persen dari APBN, itu tidak otomatis 
mendongkrak bantuan untuk siswa miskin jenjang SMA. Sebaliknya, tahun ini 
(2009), anggaran bagi siswa miskin justru anjlok. Subsidi pemerintah melalui 
bantuan khusus murid (BKM) turun menjadi Rp 194 miliar. Padahal, tahun-tahun 
sebelumnya, pemerintah mengalokasikan dana rata-rata Rp 242 miliar. 

Kedua, memaksakan anak masuk ke RSBI, bagi orang miskin, ibarat menciptakan 
''dunia baru'' yang tentu saja berbeda dari dunia anak-anak dari kalangan 
miskin. Mereka bisa bertemu berbagai bentuk gaya, penampilan, atau pola hidup 
yang berkemasan menonjolkan ''selebritas''. Itu bisa menjadi siksaan atau 
pressure psikologis tersendiri.

Ketiga, RSBI masih merupakan produk sekolah bersifat ''eksperimen'' yang tentu 
saja tidak selayaknya orang miskin ''taklid'' terhadap apa yang dilakukan 
komunitas elite. Namanya juga produk eksperimen, kelayakan kualitas output-nya, 
khususnya proses pembelajarannya, mau ke mana dan dikemanakan lulusannya, 
masihlah menjadi pertanyaan besar. 

*). Nadlifah Hafidz , pekerja di sebuah lembaga penerbitan dan peneliti masalah 
anak-anak serta perempuan 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke