Refleksi: Para capers itu bisa seenaknga menghembuskan angka pertumbuhan ekonomi, karena hunbusan demikian bermaksud untuk menarik hati pemilih agar mereka dijadikan kepala negara.
http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=8653 2009-06-17 Target Pertumbuhan Ekonomi Tidak Realistis abimanyu Faisal Basri [JAKARTA] Ekonom Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri menilai, target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pada program pasangan calon presiden dan calon wakil presiden (capres dan cawapres) yang berkompetisi pada Pilpres 2009, tidak realistis. Target pertumbuhan ekonomi oleh ketiga pasangan yang maju itu, berada di atas 6%. Pasangan pertama, yakni SBY-Boediono tercatat mencanangkan pertumbuhan 2014 dengan angka konservatif sebesar 7%. Kemudian, pasangan Megawati-Prabowo sebesar 10%, dan JK-Wiranto 8% pada tahun 2011. Ketidakrealistisan tersebut, menurut Faisal, terlihat dari kondisi nyata perekonomian nasional. Pemerintah masih mengalami kesulitan mengisi kebutuhan anggaran belanja dan negara (APBN) tahun 2009, demi mencapai target pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4-5%. "Pembiayaannya dari mana? Bagaimana pemerintah mau jadi agent of development? Wong untuk pertumbuhan 6% saja dibutuhkan sekitar Rp 1.500 triliun. Makanya, ini butuh bantuan dana dari sorga, kalau kita tidak ingin dari asing," tegas Faisal, di Jakarta , Selasa (16/6). Faisal menilai, pemerintah ke depan, masih membutuhkan pemodal asing, berupa penanaman modal asing (FDI) maupun utang luar negeri. Sebab, sumber pembiayaan dalam negeri belum bisa diandalkan. Menurut dia, sektor perbankan tidak dapat diandalkan sebagai ujung tombak. Sebab, 85% dana perbankan merupakan dana jangka pendek, yang tidak dapat dipakai untuk pembiayaan jangka menengah dan panjang. Belum lagi, perbankan nasional banyak dikuasai asing dengan persentase 40 persen. "Jadi, tidak dapat dihindari, pasar modal bukan lagi menjadi pilihan tetapi keharusan," terangnya. Sayangnya, lanjut Faisal, meski menjadi sumber potensial pembiayaan, pasar saham Indonesia masih dikuasai dana investasi jangka pendek. "Pasar modal kita masih mengandalkan inflow dari luar," katanya. Jadi, dia menekankan, perlunya aturan yang menjamin agar arus modal dalam pasar modal membaik. Caranya, investor perlu diberi rasa aman. Kalangan investor, seperti dana pensiun, masih memiliki waktu untuk memberi masukan bagi presiden terpilih mengenai roadmap pembiayaan investasi di Indonesia. "Kalau pasar modal tak berkembang, kita tak mungkin tumbuh, kecuali kita mengandalkan dana asing, karena kita tidak bisa mengandalkan bank," ujarnya. Faisal menstimulasikan, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi lima tahunan sebesar 6%, pembiayaan yang dibutuhkan sebesar Rp 1.500 triliun. "Nah, dari perbankan katakanlah Rp 400 triliun hasil pertumbuhan kredit 30% dari total kredit Rp 1.300 tirliun. Dari APBN Rp 200 triliun, ini sudah dinaikkan Rp 900 triliun, sisanya belum tentu bisa diambil dari pasar modal. Mau tak mau ambil dana asing," jelasnya. Belum lagi, sambung Faisal, besarnya rasio investasi yang perlu dibentuk oleh masing-masing pasangan, agar menopang sasaran pertumbuhan ekonominya. Untuk pasangan SBY-Boediono saja memerlukan rasio investasi 27% dari PDB. Sedangkan, JK-Wiranto membutuhkan rasio investasi 32% dari PDB. "Jadi, target pertumbuhan tinggi, konsekuensinya adalah pembiayaan yang juga tinggi. Pemerintah bakal menerbitkan surat utang dalam jumlah banyak. Ini bisa mengganggu koordinasi antara otoritas fiskal dengan moneter. Kebijakan moneter akan percuma, walau Bank Indonesia berulang kali memangkas BI Rate," terangnya. [RRS/N-6] [Non-text portions of this message have been removed]

