Refleksi : Bila ada gas detektor yang diinstalasikan atau portable dan diperhatikan, maka mungkin sekali korban jiwa bisa dielakan.
http://www.suarapembaruan.com/index.php?modul=news&detail=true&id=8640 2009-06-17 Tempat Penambangan Meledak, 26 Tewas ANTARA/Arif Pribadi/ Masyarakat dan tim penyelamat berkerumun di sekitar lubang-lubang penambangan batu bara tradisional di Sawahlunto, Sumatera Barat, Selasa (16/6). Diperkirakan, ada sekitar 35 pekerja dan lima pengawas sedang berada dalam tambang batu bara saat terjadi ledakan pada pukul 10.30 WIB [SAWAHLUNTO] Korban tewas karena tempat penambangan batu bara meledak di kawasan Ngalau Cigak, Talawi, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar) sebanyak 26 orang. Informasi yang diperoleh Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla, sebanyak 20 pekerja tambang tewas. Data yang dihimpun dari krisis center dan tim SAR gabungan pencari korban, menyebutkan, jumlah korban mencapai 26 orang. Upaya evakuasi terus berlangsung hingga Rabu (17/6) pagi. Sementara itu, Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Sawahlunto Adri Usman menyebutkan, data sementara jumlah korban tewas sudah 16 orang dan delapan orang korban lain mengalami luka-luka, kini mereka masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sawahlunto. Pada Rabu pagi, upaya pencarian dilanjutkan, karena diperkirakan masih terdapat sekitar 16 pekerja tambang terjebak di dalam lubang pertambangan. "Laporan mandor dari CV Perdana menyebutkan, pekerja yang masuk ke lubang tambang sebelum kejadian sebanyak 32 orang. Kini baru ter-evakuasi 16 orang," katanya. Para keluarga korban sudah mulai berdatangan ke RSUD Sawahlunto, tetapi semua mayat korban yang tewas belum ada kesepakatan untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Ledakan gas metan di salah satu pertambangan batu bara yang dikelola rakyat di Kota Sawahlunto itu terjadi Selasa (16/6) sekitar pukul 10.00 WIB. Upaya evakuasi juga melibatkan tim dari Brimob Polda Sumbar. Lokasi tambang yang meledak tersebut berjarak lima kilometer dari Kota Sawahlunto atau 125 km dari Kota Padang. Bambang Edi (37), korban ledakan tambang batu bara mengaku sempat merayap untuk menghindari semburan api. Saat terjadi ledakan di lokasi pertambangan batu bara dirinya merayap sekitar lima menit guna menghindari semburan api yang keluar dari lubang tambang. "Awak (saya, Red) sempat tiarap dan merayap sekitar lima menit untuk menempuh jarak sekitar 200 meter dari lubang tambang," katanya. Menghindar Meski sempat menghindar dari semburan api, namun karena panasnya api itu dirinya mengalami luka bakar. Bambang menceritakan kejadian itu ketika ditemui di RSUD Kota Sawahlunto, Selasa sore. Saat kejadian, dia sedang berada di luar lokasi pertambangan dan duduk di sebuah kedai minuman yang berada di area lubang utama pertambangan itu. Namun, tiba-tiba terjadi semburan api yang cukup kuat dengan ketinggian sekitar 50 meter ke atas. Akibatnya, sejumlah buruh tambang yang berada di luar lubang pun ikut mengalami luka bakar. Pria yang kesehariannya mengoperasikan truk pengangkut batu bara itu, saat kejadian sedang menunggu muatan. Mereka dievakuasi dari dalam lobang pertambangan batu bara itu oleh warga setempat serta para penambang dibantu tim SAR dan aparat kepolisian. Menurut seorang petugas produksi pertambangan dari CV Perdana yang enggan disebutkan namanya, pekerja yang masuk ke dalam lubang tambang sekitar 35 orang, serta seorang anak pekerja yang tidak terlihat keluar saat kejadian. Salah seorang petugas di lokasi kejadian menyebutkan, jumlah pasti pekerja yang masih berada di dalam lubang masih simpang siur. Namun, yang pasti sembilan korban sudah berhasil dievakuasi keluar dari lubang tambang. Lubang pertambangan batu bara yang meledak pada Selasa siang itu merupakan satu dari puluhan lubang tambang batu bara yang dikelola masyarakat setempat. Wapres menyampaikan belasungkawa atas musibah yang menimpa pekerja tambang batu bara di Sawahlunto. Musibah meledaknya penambangan batu bara itu mengharuskan pemerintah untuk melakukan evaluasi terhadap penambangan batu bara yang dilakukan secara tradisional tersebut. "Jadi, tambang dalam itu risikonya memang lebih tinggi dibanding tambang terbuka. Karena itu, pemerintah perlu mengevaluasi semua resiko yang timbul pada tambang dalam itu," jelas Wapres, Rabu (17/6) sesaat tiba di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumsel. [A [Non-text portions of this message have been removed]

