Dari: syarifudin_demak <syarifudin_demak@ yahoo.com>
Kepada: jurnali...@yahoogro ups.com
Terkirim: Rabu, 17 Juni, 2009 11:43:53
Topik: Tragedi Kudeta Tidak Berdarah KAMMI

Mungkin publik Indonesia tidak tahu fakta terbaru, KAMMI (Kesatuan Aksi 
Mahasiswa Muslim Indonesia) telah "diplekoto" PKS (Partai Keadilan Sejahtera). 
Plekoto merupakan kosakata Jawa yang artinya kurang lebih ialah dianiaya 
habis-habisan, diperas kemampuannya habis-habisan, ditelikung dari belakang, 
ditelanjangi terang-terangan di depan public, dizolimi dengan "kekerasan" 
paling vulgar. 

Independensi KAMMI yang selama ini coba dibangun sejak organisasi mahasiswa itu 
berdiri sebelas tahun silam, telah ternoda. Parahnya, penghancuran itu tidak 
dilakukan oleh pihak luar tapi "orangtua" KAMMI sendiri, dan itu adalah PKS. 
Lebih parah lagi, itu dilakukan menjelang pemilihan umum (pemilu) presiden. 
Apalagi alasannya kalau bukan karena terkait dukung mendukung salah satu calon 
presiden dan wakil presiden. 

Dalam hal ini tentu PKS merupakan pendukung pasangan calon presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono dan calon wakil presiden Boediono. Sedangkan KAMMI berupaya 
bersikap independen sesuai dengan fatsun gerakan KAMMI yang memang independen. 
KAMMI "dipaksa" mendukung pasangan SBY-Boediono. Tentu saja KAMMI menolak tegas 
"paksaan" itu.

KAMMI dibawah kepengurusan Ketua Umum KAMMI Pusat Rahman Toha B memilih untuk 
tetap mengusung isu "Anti Neoliberal". Siapa pun pemimpinnya, KAMMI tetap 
menegaskan sikap anti neoliberalnya. Pada beberapa calon presiden dan wakil 
presiden selain SBY-Boediono, Rahman Toha memang pernah bertemu dan 
mendiskusikan tentang apa visi dan misi kepemimpinan mereka jika terpilih. 
Beberapa forum diskusi public itu difitnah untuk mendapatkan kepentingan 
pribadi.

Langkah ini juga difitnah sebagai bentuk manufer politik untuk mendapatkan dana 
atau lainnya. Padahal, Rahman Toha memiliki agenda untuk mengkonfirmasi visi 
kepemimpinan semua calon presiden, termasuk SBY-Boediono juga. Sayangnya, 
agenda pertemuan dengan SBY-Boediono pada pekan depan itu tidak terwujud karena 
kader-kader KAMMI kaki tangan PKS kini telah "mengkudeta" Rahman Toha dan 
pengurus pusat yang sah. 

PKS melalui jaringan mereka di daerah dan pusat berupaya "memplokoto" KAMMI, 
mulai dari struktur tertinggi hingga terendah. Mereka hendak membawa KAMMI 
mendukung salah satu calon presiden dan wakil presiden. Dan itu jelas ditolak 
mentah-mentah oleh Rahman Toha. Independensi KAMMI dan perjuangan melawan 
kekuatan neolib adalah harga mati yang bisa ditawar-tawar lagi. Meskipun 
taruhannya adalah "kudeta tidak berdarah" tanpa mengindahkan kaidah organisasi 
KAMMI. 

Selasa (16/6) kemarin adalah agenda KAMMI Pusat melakukan Rapimnas (Rapat 
Pimpinan Nasional) di Bekasi. Namun agenda Rapimnas itu "ditelikung" oleh oknum 
petinggi KAMMI Pusat yang menjadi "kaki tangan" PKS. Dari sekitar 45 KAMMI 
Daerah (kamda), lebih dari 30 kamda "dibujuk" untuk tidak hadir dalam Rapimnas 
di Bekasi. Anda harus mencermati kata "dibujuk" ini tentu dengan berbagai 
"kompensasi" yang mereka dapatkan. 

Akhirnya sekitar 20-an pengurus pusat KAMMI ditambah puluhan panitia 
penyelenggara Rapimnas, duduk lemas lunglai melihat bahwa hampir 70% pengurus 
kamda "berpindah" tempat Rapimnas ke sebuah tempat yang "dirahasiakan" di 
Jakarta. Menurut saya, mereka yang datang ke Rapimnas KAMMI di Bekasi adalah 
pejuang sejati independensi KAMMI dan anti neoliberal. Demikian juga 
sebaliknya. 

Ini benar-benar cara yang paling kasar untuk menelikung kepemimpinan KAMMI 
Pusat yang sah secara konstitusional dan legal di mata hukum negara. 

Sebagai Ketua Umum KAMMI Pusat, Rahman Toha tidak "mendapat" ruang sedikit pun 
untuk menjelaskan apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kader-kader di bawah. 
Padahal Rapimnas adalah ruang yang paling pantas untuk menjelaskan semua duduk 
permasalahan secara kesatria. Namun kenyataan pahit justru didapat, "kudeta" 
itu terlalu cepat untuk dapat dihindari lagi.

Karena "korban terfitnah" tidak mendapatkan ruang memberi penjelasan, maka yang 
terjadi adalah kasak kusuk internal organisasi yang itu kemudian meluas menjadi 
bola panas dan mendapat "restu" PKS yang sudah kecewa karena KAMMI memilih 
bersikap independen dan anti neoliberal. Kasak-kusuk itu pun telah menjadi 
fitnah dan ghibah yang itu lebih kejam dari pembunuhan dan lebih buruk daripada 
memakan bangkai saudaranya sendiri. 

Beberapa fakta yang ada ialah beberapa orang petinggi KAMMI kecewa dengan 
Rahman Toha, tapi kekecewaan itu tak terkomunikasikan dengan baik sehingga 
terjadi konspirasi tidak sehat untuk menjatuhkan kepemimpinan Rahman Toha. 
Kekecewaan itu ada berbagai alas an, karena memang berbagai alas an bisa 
dibuat. 

Tapi secara organisasional, "mereka" tidak memilih logika organisasi yang telah 
telah disepakati dalam setiap Muktamar sebelumnya, untuk menjatuhkan 
kepemimpinan seseorang. Surat kudeta pemecatan terhadap Rahman Toha itu keluar 
sebelum Muktamar Luar Biasa digelar. Inilah pelanggaran besar dalam "kudeta" 
tersebut. Seharusnya pemecatan itu terjadi dalam Muktamar Luar Biasa agar 
proses tabayun berjalan dengan adil. Tidak ada proses penjelasan apa pun dalam 
kudeta tersebut. Tanpa ba-bi-bu, Rahman Toha dan pengurus pusat dipecat. 

Mereka lebih memilih "menelikung" dari belakang, menusuk dari belakang punggung 
seseorang. Dan tragisnya, mereka yang melakukan adalah orang-orang yang selalu 
mengajarkan "tabayun" atau mengklarifikasi masalah secara langsung pada 
orangnya, bukan dari sumber rumor dan fitnah. 

Lebih tragis lagi, kudeta itu dilakukan oleh teman-teman dekatnya sendiri. 
Sekali lagi terbukti kata pepatah, musuh paling berbahaya adalah teman terdekat 
kita, karena merekalah yang tahu setiap titik kelemahan terkecil kita. 

Mereka menodai ajaran-ajaran baik yang selalu didengung-dengungka n, mulai 
tentang masalah "tabayun", jangan ghibah, dan jangan memfitnah. Jikapun 
kepemimpinan seseorang dijatuhkan, seharusnya, jika memiliki etika berpolitik 
dan berorganisasi yang santun, tidak melalui cara yang amat sangat menodai 
independensi KAMMI sebagai sebuah organisasi mahasiswa yang telah dibesarkan 
dengan keringat dan air mata.

Rahman Toha dan kepengurusan pusat KAMMI saat ini telah "dipecat" atau 
"dikudeta" dari para anggota KAMMI yang selalu mengatakan dirinya independen 
namun sebenarnya tidak independen. Kemunafikan banyak kader KAMMI itu sekarang 
terungkap dengan jelas saat ini. Siapa yang independen dan siapa yang memang 
menjadi penjilat sebuah institusi partai politik, telah dinampakkan dengan 
jelas di depan kita sekarang. 

Muktamar Luar Biasa KAMMI sekarang, hari Rabu (17/6) sedang digelar untuk 
"mengkudeta" Rahman Toha yang rela dikhianati kader-kader KAMMI sendiri yang 
"selalu mengaku" independen. Dia menolak melakukan "perlawanan" atas kudeta 
tidak berdarah itu. Dia memilih jalan damai karena tidak menginginkan 
perpecahan lebih jauh dalam organisasi yang turut dibesarkannya dalam satu 
dekade terakhir. 

Dan dia dengan legowo turun agar semua orang mendapat pelajaran berharga 
tentang banyak hal, mulai dari pengkhianatan hingga kemunafikan. 

"Alhamdulillah. .akhirnya amanah ini berakhir lebih cepat dari yang saya 
rencanakan.. .. Mohon maaf buat semua kader KAMMI di seluruh Indonesia..dan 
terimakasih sebesarnya atas semua bantuan, suport dan doanya... semoga tetap 
konsisten berada di garis independesi, netralitas dan keterbukaan pemikiran.. 
Tetaplah di garis melawan rezim Neoliberal serta capres/wapres neoliberal.. .," 
itulah kalimat yang tertulis di status Facebook Rahman Toha, di detik-detik 
kudeta terhadapnya. 

Maka, jika suatu saat anda mendengar ocehan tentang independensi KAMMI, lebih 
dari pantas anda tersenyum kecil di hati dan meludah ke arah lain, sambil 
mengucapkan "Terima kasih atas informasinya. " [*] 

Lebih bersih, Lebih baik, Lebih cepat - Yahoo! Mail: Kini tanpa iklan. Rasakan 
bedanya! http://id.mail. yahoo.com

 

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke