http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=94911&Itemid=44

Friday, 12 June 2009 06:00 WIB 



Arah politik ormas Islam   
M RIDWAN LUBIS

Begitu calon presiden dan wakil presiden diumumkan muncullah fenomena baru 
dalam masyarakat yaitu dukung  mendukung terhadap calon presiden dan wakil 
presiden. Sebenarnya, proses mendukung serta mencari dukungan adalah sah saja 
dalam persaingan politik karena semua berupaya membangun pencitraan terhadap 
dirinya. 

Namun apabila dukung mendukung itu muncul dari kalangan ormas keagamaan maka 
masalahnya menjadi lain. Dapat diperkirakan bahwa peranan partai politik tidak 
lagi dominan dalam pilpres ini karena semua partai tidak lagi memiliki 
perbedaan yang signifikan. Lalu yang menjadi acuan massa pemilih menetapkan 
pilihannya terletak pada kemampuan para calon membangun citra kepemimpinan 
mendekati yang ideal pada lingkaran kepribadiannya. 

Apabila ia mampu menggalang hal tersebut maka terbentuklah opini public yang 
positif terhadap pasangannya sementara apabila tidak, maka seberapa hebatpun 
idealnya cita-cita yang di usungnya maka hal itu tinggal sebagai kenangan saja. 
Semua orang sudah mengetahui bahwa akhir dari penentuan pilihan terletak pada 
pilihan pribadi massa pemilih yang sering tidak sinkron dengan organisasi 
agamanya. Atas dasar itu, pimpinan ormas yang berupaya mengklaim bahwa 
organisasinya mendukung calon tertentu dan menggalang opini di kalangan massa 
anggotanya, maka hal itu tidak terlalu banyak membantu untuk menjatuhkan 
pilihan terhadap para calon karena ini adalah pekerjaan pencitraan Sejalan 
dengan itu, pemilihan presiden dan wakil presiden adalah semata-mata 
kepentingan kekuasaan sebaliknya agama selalu berangkat dari nilai-nilai yang 
ideal. 

Oleh karena itu tidak selayaknya memanfaatkan ormas keagamaan untuk mengarahkan 
massa untuk mendukung calon tertentu. Ada beberapa alasan pandangan demikian. 
Pertama, agama tidak bersikap apriori terhadap figur seorang calon pemimpin 
karena dalam perjalanan karir kepemimpinan seorang calon belum tentu selalu 
berada pada jalur yang benar menurut pandangan agama. Kepentingan agama adalah 
jauh di atas sosok calon karena agama sangat berkepentingan terbentuknya sistim 
yang baku dan disepakati oleh semua orang yang diyakini akan mengantarkan 
kehidupan bangsa menjadi lebih baik. 

Berdasar logika di atas maka agama selalu berada pada konsep yang ideal yaitu 
kebenaran normatif sementara pribadi seorang calon pemimpin tidak bisa dijamin 
Oleh siapapunbahwa ia akan tetap berjalan di atas kebenaran. Kalaupun pemimpin 
bicara tentang agen deprogram tetapi tidak lebih dari kebenaran pragmatis. 
Kedua, pemilihan itu sendiri tidak dilakukan oleh lembaga yang mewakili suara 
rakyat akan tetapi secara langsung oleh rakyat itu sendiri. 

Oleh karena itu, mengklaim suara organisasi mendukung seorang calon belum tentu 
sama dengan aspirasi umat yang berada dibawah kepemimpinannya. Hal ini tentu 
akan dapat membuat gambaran negative terhadap pemimpin ormas keagamaan karena 
ternyata tidak memiliki kewibawaan di kalangan anggotanya. Dapat dibayangkan 
manakala otoritas kewibawaan pimpinan organisasi telah hilang maka organisasi 
keagamaan akan kehilangan legitimasi di dalam masyarakat secara umum.

Ketiga, adanya agenda dukung mendukung di kalangan ormas keagamaan akan membuka 
peluang terjadinya konflik di kalangan massa karena berbeda jalan pikiran 
antara pemimpin dari massanya. Dan apabila hal ini yang terjadi maka akan 
menambah daftar panjang lagi gejolak yang terjadi di masyarakat. Bisa jadi, 
pemilihan presiden dan wakil presiden sudah lama berlalu akan tetapi gejolak di 
kalangan massa akar rumput tidak kunjung selesai.

Sikap yang paling memungkinkan diambil oleh pemimpin ormas keagamaan dalam 
memasuki masa kampanye pilpres yang akan datang adalah tetap memberikan panduan 
kepada anggotanya berupa bahasa isyarat yang memuat harapan terhadap sistim 
kepemimpinan kenegaraan yang diharapkan di masa datang dalam menentukan 
pilihannya. Selanjutnya diberikan kebebasan sepenuhnya kepada anggota untuk 
menjatuhkan pilihan sesuai keyakinannya. 

Penulis adalah Dosen UIN Syarif Hidayatullah 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke