KH. NUR AHMAD

Usulnya untuk Mengubah Waktu Haji Diterima Pemerintah Saudi Arabia


Meski hampir setiap menjelang pelaksanaan puasa Ramadlan, Idul Fitri, dan
Idul Adha umat Islam ribut dalam menentukan tanggalnya, namun rupanya
tidaklah banyak ulama yang berkhidmah terhadap ilmu falak, ilmu tentang ilmu
penanggalan. Dan di antara ulama khos yang sedikit ini adalah KH Nur Ahmad
dari Jepara. Pada era KH Abdurrahman Wahid memimpin Nahdlatul Ulama, KH Nur
Ahmad adalah perwakilan dari propinsi Jawa Tengah untuk Lajnah Falakiyah
PBNU.


Terlahir di Robayan, Jepara pada tahun 1930 Nur Ahmad memulai pendidikannya
di kampung halamannya sendiri, sebelum ia kemudian bersekolah ke Madrasah
Taswiquth Thullab (TBS) Kudus. Selama belajar di TBS memang belum nampak
keahliannya sebagai santri yang hebat. Namun selama belajar di TBS inilah
Nur Ahmad mulai berkenalan dengan pelajaran falak dan berguru secara pribadi
(sorogan) kepada KH Turaichan Kudus dengan memakai rubu’ (alat ukur
berbentuk seperempat lingkaran) dan metode logaritma. Nur Ahmad belajar
privat (*sorogan*) falak karena ia menyukai matematika.


Menurut penuturannya, Nur Ahmad menekuni pelajaran falak ketika duduk di
bangku  tsanawiyah TBS (SMP). Tingkatan tertinggi, karena waktu itu belum
ada tingkat Aliyah (SMU). Waktu itu di Jepara, madrasah setingkat SMP pun
belum ada. Di rumah, Nur Ahmad belajar mencocokkan arloji. Karena terlalu
sering diubah-ubah, maka arlojinya pun sering rusak.


Selama di Madrasah TBS Kudus, Nur Ahmad belajar ilmu falak menggunakan kitab
falak karangan Kiai Mawardi Solo. Nur Ahmad menyalinnya dengan memakai tinta
tutul. Yakni berupa alat tulis yang terdiri dari batang lidi aren lancip
dengan tinta cair dalam botol. Memang demikianlah alat tulis para santri
pada zaman itu. Alat ini memiliki keistimewaan awet, tahan lama dan tidak
pudar. Sehingga, meski sekarang telah ada bolpoint yang praktis, namun
banyak santri masih menggunakannya sebagai alat tulis sampai saat ini.


Karena ketertarikannya pada pelajaran falak, Nur Ahmad tidak puas hanya
belajar kepada satu guru saja, melainkan ia juga belajar falak secara
sorogan (privat) kepada beberapa ulama di Kudus seperti kepada Kiai Rif’an
Kudus. Keistimewaan cara belajar Nur Ahmad kepada Kiai Turaichan adalah, ia
belajar langsung tanpa memakai kitab panduan. Tanpa kitab, sekali belajar
harus langsung bisa.


Nur Ahmad memiliki jadwal rutin dengan Kiai Turaichan. Pernah, pada suatu
ketika tidak dapat memenuhi jadwal hingga molor sampai kira-kira sebulan.
Maka Nur Ahmad tidak berani kembali hingga ia bisa menguasai pelajaran
selanjutnya. Dan ketika tiba ia kembali mengaji kepada Kiai Turaichan, maka
dia ditanya, ”gimana kamu Nur?” Dan Nur Ahmad hanya menjawab, ”Sudah bisa
Kiai”. Dan Kiai Turaichan pun melanjutkan pelajarannya.


Setelah menamatkan pendidikannya di Kudus, Nur Ahmad remaja kemudian
berkelana ke pesantren-pesantren lain di Jawa. Di antaranya adalah ke
Tebuireng, Jombang, ke Salatiga, ke Rembang, ke Lasem, dan ke Langitan,
Tuban.


Perjalanannya menuntut ilmu falak ini dilakukan setelah mendapatkan restu
dari gurunya, KH Turaichan. Yakni setelah Nur Ahmad dianggap telah cukup
menguasai dasar-dasar falakiyah dan membutuhkan bersilaturrahim (mengaji)
kepada guru-guru lain. Dari sinilah Nur Ahmad menguasai banyak metode
falakiyah dan mempelajari banyak kitab-kitab falak seperti Hikmatul Wasaid
dan Kurotul wafiyah.


Selama di Salatiga, Nur Ahmad belajar kepada Kiai Zubair, pengarang
Khulasotul Wafiyah), dan di pesantren Widang Langitan, Nur Ahmad mengaji
kepada Kiai Abdul Hadi dan akrab dengan Kiai Faqih Langitan yang merupakan
teman satu angkatannya.


Namun selama mengembara ke beberapa Kiai ini, Nur Ahmad selalu menyempatkan
diri untuk mengaji kepada guru pertamanya, KH Turaichan di Kudus. Sehingga
Nur Ahmad merupakan salah satu santri kesayangan sang maestro falak ini.


Selain belajar secara jasmaniah/teknis, Nur Ahmad juga diperintahkan oleh
gurunya, KH Turaichan untuk berguru secara ruhaniah. Cara berguru yang kedua
ini berupa perjalanan ziarah kepada para ulama ahli falak yang telah wafat.
Nur Ahmad sering mendapat perintah, untuk berziarah ke makam-makam ulama
falak. Seperti ke pesarean (makam) Raden Dahlan, Semarang, seorang ulama
ahli falak pada zamannya, Kiai Maksum Seblak, Jombang dan Asy’ari Bawean.


”Jika kamu ingin menguasai falak, berziarahlah kepada Kiai Ma’sum Jombang.
Ber-hadharah (mengirim doa) kepada banyak Kiai, agar barokah,” kata Kiai
Turaichan kepada muridnya ini.


Setelah sekian lama belajar kepada Kia Turaichan, Nur Ahmad pun kemudian
muncul sebagai salah satu ulama ahli falak di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(PBNU). Awalnya, sang guru, Kiai Turaichan Adjhuri es-Syarofi Kudus, sebagai
ketua Markas penanggalan Jawa Tengah, diminta sebagai anggota Lajnah
Falakiyah di PBNU dari perwakilan Jawa Tengah, tetapi tidak berkenan. Lalu
Kiai Turaichan diminta untuk menunjuk perwakilannya. Maka sang guru ini pun
menunjuk Kiai Nur Ahmad Jepara yang merupakan muridnya, sebagai wakilnya di
Lajnah Falakiyah PBNU. Peristiwa ini ini terjadi pada tahun 1969. Maka
jadilah KH Nur Ahmad sebagai salah satu pengurus Lajnah Falakiyah PBNU.


*Mengubah Haji Akbar*


Salah satu alasan, mengapa Nur Ahmad merupakan salah satu di antara para
ulama ahli falak yang diperhitungkan adalah prestasinya mengubah keputusan
pemerintah Saudi Arabia dalam menentukan waktu wukuf pada tahun 1988.


Waktu itu, pemerintah Saudi Arabia berkeras ingin menentukan hari waktu
wukuf haji menurut kehendaknya sendiri. Yakni dipaskan pada hari Jumuah
(Jum’at), agar dapat menjadi momentum Haji Akbar. Pemerintah Saudai Arabiyah
berusaha merekayasa agar wukuf pada musim haji kali ini dapat dilaksanakan
pada hari Jumuah, sehingga dapat dianggap menjadi Haji Akbar.


Melihat gelagat ini, PBNU yang pada waktu itu dipimpin oleh KH. Abdurrahman
Wahid pun secara resmi mengutus KH. Nur Ahmad untuk meluruskan kesalahan
pemerintah Saudi Arabia. Maka Nur Ahmad pun berada dalam rombongan haji para
pengurus PBNU.


Di Makkah, KH. Nur Ahmad kemudian membuat penuturan tertulis dalam bahasa
Arab bahwa klaim Saudi Arabiya adalah salah. KH Nur Ahmad menyertakan
berbagai pandangan hingga setebal delapan belas lembar. Penuturan KH Nur
Ahmad ini kemudian dikirim ke beberapa pihak, termasuk pemerintah kerajaan
Saudi Arabia dan Kedutaan Indonesia di sana.


Dalam penuturan tertulisnya ini, Nur Ahmad mendasarkan hitungannya pada
perbedaan awal Dzulqo’dah. Yakni dengan menggenapkan bulan Syawal menjadi
tiga puluh hari, karena bulan Ramadhan sebelumnya, hanya berjumlah dua puluh
sembilan hari. Karena tidaklah mungkin terdapat penanggalan hijriyah dengan
29 hari dalam tiga bulan berturut-turut.


Selain itu, sebagai utusan PBNU, KH Nur Ahmad mengumpulkan orang-orang
Indonesia yang bermukim di Makkah, untuk move/pressure politik. Kepada
mereka KH Nur Ahmad berpesan, jika benar Kerajaan Saudi Arabia tetap
memutuskan dan mengumumkan bahwa wukuf jatuh pada hari Jumuah, maka mereka
harus tetap melaksanakan wukuf pada hari Sabtu. ”Tolong pinjami saya mobil
dan sopirnya, nanti kalian ikut di dalamnya. Kita tetap akan wukuf pada hari
sabtu,” kata Nur Ahmad kepada para mukimin tersebut, yang sebenarnya adalah
para tetangganya dari demak, Lasem dan sekitarnya.


Akhirnya, pemerintah Saudi Arabia bersedia merubahnya pendiriannya dan
jadilah akhirnya wukuf bersama-sama pada hari Sabtu. Untuk memastikan
perubahan sikap pemerintah saudi Arabia ini, Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman
Wahid pun menyusul ke Saudi Arabia.


”Dianggapnya pada waktu itu ahli falak di NU hanya Nur Ahmad Jepara saja.
Padahal Nur Ahmad hanyalah Murid Kiai Turaichan Kudus saja.” katanya KH Nur
Ahmad merendah.


*Syamsul Hilal*


KH Nur Ahmad ini pulalah yang merupakan ”saksi ahli” dalam kejadian
penolakan melihat gerhana matahari secara langsung dengan mata telanjang,
yang tetapkan oleh pemerintah. KH Nur Ahmad tentu tidak kaget ketika
perintah keluar masjid dan melihat gerhana secara langsung dikeluarkan oleh
gurunya dari atas mimbar khutbah gerhana. Bagaimana pun juga Nur Ahmad telah
mengetahui sebelumnya, karenya dirinya merupakan orang yang sangat intens
diajak berdiskusi oleh gurunya untuk urusan falakiyah.


Untuk mengukur sejauh mana kualitas keilmuan Nur Ahmad, dapatlah diukur dari
kedekatannya dengan gurunya. Karena kepercayaan Kiai Turaichan kepada Nur
Ahmad, maka ia sering diajak langsung untuk menemui tamu-tamu penting
membicarakan urusan falakiyah, atau ketrlibatannya sebagai wakil Kiai
Turaichan untuk urusan-urusan falakiyah.


Salah satu yang cukup membuatnya terkesan adalah ketika gurunya, KH
Turaichan didatangi oleh seorang tamu bernama Sa’duddin Jambek dari Sumatera
Barat. Tamu ini datang ke Kudus, tampaknya ingin mencoba menjajaki, sejauh
mana ketinggian ilmu gurunya. Di sini Nur Ahmad adalah murid yang dilibatkan
secara langsung untuk menemui sang tamu.


Tamu ini menanyakan, kitab apa yang digunakan untuk menghitung tinggi hilal
(bulan sabit penanda awal tanggal baru) dari kaki langit (ufuk) terendah.
Mengerti maksud kedatangan tamunya, Kiai Turaichan mulai menjawab dengan
menunjukkan kitab falak yang dianggap paling dasar oleh kalangan santri,
yakni *Sullamun Nayiroin*. Ketika sang tamu mengerti, maka Turaichan terus
menunjukkan pada tingkat di atasnya. Demikian seterusnya, hingga ketika
menunjukkan kitab *Syamsul Hila*l, sang tamu belum mengenalinya. Maka
rupanya sedemikianlah kemampuan sang tamu. Padahal masih banyak kitab-kitab
lain yang dianggap lebih tinggi daripada *Syamsul Hilal*.


*Belajar kepada Syeikh Yasin Padang *


Salah satu yang membuat KH Nur Ahmad merasa berkesan adalah ketika berguru
kepada Syeikh Yasin Padang. KH Nur Ahmad berguru kepada Syeikh Yasin Padang
di Makkah ketika sedang menunaikan ibadah haji.


Jika pada umumnya, seseorang membutuhkan waktu lama untuk mempelajari sebuah
kitab, dengan Syeikh Yasin Padang, KH Nur Ahmad hanya membutuhkan 3 hari
untuk menghatamkan satu kitab. Alhasil, KH Nur Ahmad pun memiliki banyak
pengetahuan baru bersama Syeikh Yasin Padang.


Dengan cara belajar sepanjang masa inilah, KH Nur Ahmad menjalani
kehidupannya yang sederhana dan bermanfaat. Meski telah memiliki banyak
santri di rumahnya, namun KH Nur Ahmad masih tetap belajar kepada banyak
guru dan menimba ilmu kepada para ulama lainnya.


KH Nur Ahmad mengabdikan sepanjang hidupnya untuk perjuangan ilmu Islam
Ahlussunnah Waljamaah. Mengabdi untuk pada para santrinya, organisasi NU di
Lajnah Falakiyah dan kepada masyarakat sekitarnya.


Disadur kembali oleh Syaifullah Amin, ditulis berdasarkan penuturan KH. Nur
Ahmad kepada tim NU Online di rumahnya, Jepara, pada Sabtu 7 Maret 2009


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [email protected]
5. No-email/web only: [email protected]
6. kembali menerima email: [email protected]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke