http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=62065

Kamis, 18-06-09 | 08:22 | 143 View

 
Catatan Perjalanan Umrah (1)
"Hamzah Riyal" di Antara Medinah dan Mekah 




Laporan : Firdaus Nur

Menjalankan ibadah umrah memiliki kesan dan makna tersendiri. Tak heran jika 
keluarga, sahabat, maupun kerabat selalu meminta doa atau berkah dari tanah 
suci Mekah. Pemberian berkah itu tak sekadar doa, tetapi juga cenderamata. Saya 
sendiri ketika berangkat maupun tiba di Mekah tak henti-hentinya mendapat SMS 
dari keluarga atau kerabat meminta agar didoakan.

Sebagian lainnya minta cenderamata (oleh-oleh). Oleh-oleh memang menjadi 
tradisi semua orang jika pergi umrah. Banyak jemaah yang bahkan tak peduli 
apakah over bagasi atau tidak, yang penting bisa membawa kurma atau oleh-oleh 
lainnya dari tanah suci. 

Untuk mendapatkan cenderamata di Medinah dan Mekah cukup mudah. Sepanjang jalan 
berbagai suvenir dijajakan. Harganya pun bervariasi. Di toko yang menjajakannya 
semuanya laki-laki sebab katanya laki-lakilah yang bisa jualan di toko. Berbeda 
dengan pedagang kaki lima, rata-rata wanita berkulit hitam (Afrika) dengan 
memakai cadar. 

Rombongan umrah Konsorsium Lailaha Illalah memanfaatkan kesempatan 
belanja-belanja itu. Semua jemaah yang berjumlah 90 orang, berbondong-bondong 
mengunjungi para pedagang. Ada yang belanja untuk anak, cucu, dan keluarga 
serta sahabat lainnya. 

Over bagasi pun tak terhindari. Padahal, sudah disampaikan panitia untuk 
selektif berbelanja untuk menghindari over bagasi. Dendanya pun juga cukup 
besar, bisa lebih besar biayanya daripada harga oleh-oleh tersebut. Di Jeddah, 
kelebihan barang satu kilogram didenda Rp 125.000, belum termasuk Jakarta ke 
Makassar Rp 25.000/kg. 

Inilah yang membuat panitia, Mbak Ida dan Karaeng Iskandar selalu berurusan 
pihak penerbangan untuk meloloskan barang-barang jemaah. 

Rupanya rata-rata kelebihan barang jemaah terjadi ketika membeli kurma. Mereka 
membeli kurma minimal 5 kilogram. Mereka tak peduli soal biaya, yang penting 
bisa membawa oleh-oleh. Ada yang bahkan membayar Rp 300 ribu hinggga jutaan 
rupiah. 

Membeli oleh-oleh antara Medinah dan Mekah tentu kita harus hati hati. Dua kota 
ini memang kegiatan bisnis tumbuh cukup pesat seiring dengan berkembang jemaah 
yang masuk di dua kota ini. Kegiatan bisnis cukup bergairah. Mereka buka usaha 
sejak pagi hingga malam. Namun, jika sampai waktu salat, semua kegiatan atau 
transaksi dihentikan. 

\Harga barang di Medinah juga berbeda dengan harga di Mekah. Malahan justru 
Mekah lebih murah. Makanya, jika memulai perjalanan dari Jeddah ke Medinah, 
maka jangan terlalu banyak belanja di Medinah, sebab di Mekkah lebih murah. 

Namun, kelebihan di Medinah adalah model busananya lebih bagus. Adanya 
perbedaan harga antara Medinah dan Mekah bisa dilihat pada harga sajadah. Di 
Medinah di atas 10 Riyal, sedangkan di Mekah 6 Riyal. Tasbih di Medinah 15 
Riyal hingga 20 Riyal, di Medinah 5 Riyal hingga 10 Riyal. Songkok haji di 
Medinah 3 Riyal hingga 5 Raiyal, sedangkan di Mekah 5 Riyal. Belum termasuk 
baju arab, di Medinah 15 Riyal hingga 20 Riyal, sedangkan di Mekah hanya 10 
Riyal. 

Penjualan berbagai suvenir dapat ditemukan di berbagai tempat. Tak hanya di 
emperan toko, tetapi juga di pinggir jalan menuju masjid ke hotel. Pedagang 
kaki lima ini sama saja dengan pedagang kaki lima di Makassar yang selalu 
berurusan dengan pihak keamanan. Cuma, pedagang di sana agak lincah. Setiap ada 
petugas, dagangannya langsung terbungkus dan lari cari tempat aman. Jika 
petugas lagi pergi, pedagang berdatangan lagi sambil berteriak, "Hamzah Riyal, 
5 Riyal, bagus- bagus, murah.’’ 

Rupanya mereka juga menguasai bahasa Indonesia. Hal ini menandakan yang belanja 
rata-rata orang Indonesia. Mereka yang datang dari Sulsel, jika belanja, lebih 
banyak menawar barang dibanding belanja. Maka sebagian juga penjual mengeluh. 
Katanya, "Susah Indonesia, dikasih 12 Riyal, minta 10 Riyal. Dikasih 10 Riyal, 
minta 5 Riyal. Ah, susah betul,’’ kata salah seorang pedagang. 

Di telinga kita sudah akrab dengan kata, "hamzah riyal." Begitu populernya kata 
hamzah riyal itu, pernah suatu waktu Pak Rahman, teman sekamar saya bertanya 
ketika berada di Jeddah. "Di mana masjid di sini?" Warga Arab yang ditanya 
menjawab, ”Di sini dekat, tidak jauh." Pak Rahman pun menjawab, "Kira-kira 
hamzah meter?" 

Petanyaan Pak Rahman itu spontan membuat teman-teman tertawa. Tampaknya, kata 
"hamzah riyal" itu sudah menulari pikiran para pebelanja. Rupanya persoalan 
komunikasi juga menjadi hambatan dalam melakukan transaksi. Kadang-kadang kalau 
bukan bahasa isyarat digunakan juga kalkulator untuk menyampaikan harga kepada 
pembeli. Namun, rata-rata penjual sudah tahu angka lima dan sepuluh. 

Tawar-menawar rupanya sangat menentukan dalam melakukan transaksi. 
Kadang-kadang sesama teman ada yang membeli satu barang yang sama dengan harga 
yang berbeda. Hanya saja, jangan menawar hingga 60 atau 70 persen dari harga 
patokan penjual. Pernah saya diberikan harga 20 Riyal. Idealnya ditawar 10 
Riyal, akan tetapi saya tawar 7 Riyal. Mendengar tawaran yang sangat rendah 
itu, muka pedagang langsung ditutup dengan sorban lalu berucap, "Masya Allah, 
tujuh riyal." Ia pun geleng-geleng kepala. ($) 

++++

http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=62155

      Jum'at, 19-06-09 | 11:31 | 48 View

       
      Catatan Perjalanan Umrah (2)
      "Susah Indonesia, Lebih Banyak Menawar..." 



      (Ist)
      Laporan : Firdaus Nur

      Rupanya, pedagang kaki lima di Medinah dan Mekah banyak yang menguasai 
bahasa Indonesia. Hal ini menandakan yang belanja rata-rata orang Indonesia. 
Mereka yang datang dari Sulsel, jika belanja, lebih banyak menawar barang 
dibanding belanja. 

      Maka sebagian juga penjual mengeluh. Katanya, "Susah Indonesia, dikasih 
12 Riyal, minta 10 Riyal. Dikasih 10 Riyal, minta 5 Riyal. Ah, susah betul,’’ 
kata salah seorang pedagang. Di telinga kita sudah akrab dengan kata, "Hamzah 
Riyal." Begitu populernya kata hamzah riyal itu, pernah suatu waktu Pak 
      Rahman, teman sekamar saya bertanya ketika berada di Jeddah. 

      "Di mana masjid di sini?" Warga Arab yang ditanya menjawab, ”Di sini 
dekat, tidak jauh." Pak Rahman pun menjawab, ’’Kira-kira hamzah meter?" 
Petanyaan Pak Rahman itu spontan membuat teman-teman tertawa. Tampaknya, kata 
"Hamzah Riyal" itu sudah menulari pikiran para pebelanja. 

      Rupanya persoalan komunikasi juga menjadi hambatan dalam melakukan 
transaksi. Kadang-kadang kalau bukan bahasa isyarat digunakan juga kalkulator 
untuk menyampaikan harga kepada pembeli. Namun, rata-rata penjual sudah tahu 
angka lima dan sepuluh. 

      Tawar-menawar rupanya sangat menentukan dalam melakukan transaksi. 
Kadang-kadang sesama teman ada yang membeli satu barang yang sama dengan harga 
yang berbeda. Hanya saja, jangan menawar hingga 60 atau 70 persen dari harga 
patokan penjual. Pernah saya diberikan harga 20 Riyal. Idealnya ditawar 10 
Riyal, akan tetapi saya tawar 7 Riyal. 

      Mendengar tawaran yang sangat rendah itu, muka pedagang langsung ditutup 
dengan sorban lalu berucap, "Masya Allah, tujuh Riyal." Ia pun geleng-geleng 
kepala. Bagi kami setiap pergi salat lima waktu baik subuh maupun isa selalu 
singgah berbelanja sebab menggiurkan dan murah. Apalagi menjelang pulang 
sebelum tawaf badan volume berbelanja lebih ditingkatkan. Hampir jemaah 
belanjanya dua hingga 10 jutaan rupiah. 

      Bisa dibayangkan berapa riyal pendapatan atau beredar uang di tanah haram 
itu. Penukaran uang rupiah ke Riyal juga cukup mudah, baik di Medinah maupun di 
Mekah dapat ditemui di samping hotel. Harganya pun jauh lebih murah dibanding 
di Indonesia. 1 Riyal di Indonesia Rp 2.950, tapi di Medinah 1 Riyal, nilainya 
Rp 2.740, dan di Mekah Rp 2.777. ($)  



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke