http://www.mediaindonesia.com/read/2009/06/06/79659/70/13/Pertamina-dan-Sapi-Perah-Politik


Pertamina dan Sapi Perah Politik 


13 Juni 2009 00:01 WIB      
EPISODE tentang badan usaha milik negara (BUMN) menjadi sapi perah partai 
politik dan elite politik ternyata belum berakhir. 

Profesionalisme dan kemandirian BUMN yang gencar disuarakan para pemangku 
kebijakan di negeri ini kiranya hanya manis di bibir. Buktinya, begitu hajat 
politik pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden tiba, seruan 
profesionalisme itu surut digantikan gerilya tim sukses mendekati BUMN. Saking 
gencarnya gerilya itu, sampai-sampai muncul isu rencana pengunduran diri 
pemimpin puncak BUMN. 

Itulah yang terjadi pada Rabu (10/6), saat berlangsung rapat dengar pendapat 
direksi PT Pertamina dengan Komisi VII DPR. Adalah Alvin Lie, anggota DPR dari 
Fraksi PAN, yang mendengar kabar bahwa Direktur Utama Pertamina Karen 
Agustiawan berniat mundur dari jabatannya. 

Penyebabnya Karen tidak tahan dengan besarnya tekanan dan permintaan penyediaan 
dana dari tim sukses pasangan capres-cawapres tertentu. Alvin pun menanyakan 
kebenaran kabar itu kepada Karen dalam rapat yang berlangsung terbuka tersebut. 

Jika benar, Alvin mengapresiasi Pertamina karena memang begitulah seharusnya 
direksi BUMN bersikap, yakni independen dan bebas dari kepentingan apa pun 
kecuali memajukan BUMN. Sayangnya, pertanyaan Alvin Lie tak dijawab. 

Karen justru menjawab pertanyaan Alvin di depan pers, seusai rapat. Ia 
membantah berniat mundur dan menyebut tidak ada tekanan apa pun atas dirinya 
dari tim sukses capres-cawapres tertentu. 

Sebuah bantahan yang justru melahirkan tanda tanya besar, sekaligus memberi 
konfirmasi adanya sesuatu di balik isu mundur itu. Kalau benar tidak ada 
tekanan, mengapa tidak menjawab di dalam forum resmi? Padahal, pertanyaan soal 
isu mundur dan adanya tekanan disampaikan di forum rapat dengar pendapat yang 
resmi. 

Kesan menghindari forum resmi itulah yang membuat logika kita menyimpulkan 
masih ada relasi antara Pertamina dan kepentingan politik. Bahkan, 
jangan-jangan benar belaka bahwa bentuk relasi itu adalah pengisapan dari 
kepentingan politik kepada Pertamina. 

Apalagi, Pertamina adalah BUMN dengan aset sangat besar, sekitar Rp254 triliun. 
Bagi elite politik yang tengah berkompetisi meraih kekuasaan, melimpahnya aset 
tentu merupakan lahan empuk untuk dikeruk. Itu disebabkan ongkos politik kian 
hari kian mahal. 

Tanda-tanda menjadikan Pertamina sebagai lahan garapan untuk diperah sudah 
muncul dari misteriusnya pergantian direksi. Publik tidak melihat secara 
gamblang kapan 'fit and proper test' calon direktur utama digelar. 

Yang muncul hanyalah penjelasan Menteri BUMN bahwa direksi baru yang dilantik 
sudah melalui uji kepatutan dan kelayakan. Melalui forum ini kita tegaskan 
kembali bahwa sudah saatnya cara-cara menjadikan BUMN, termasuk Pertamina, 
sebagai sapi perah politik dihentikan. 

Untuk memastikan hal itu, DPR harus memanggil kembali Dirut Pertamina untuk 
menjelaskan secara terang-benderang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Itu 
agar harapan anak bangsa ini untuk memiliki BUMN yang tangguh dan membanggakan 
segera menjadi kenyataan. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke