Saya mencatat satu pernyataan Revrisond Baswir dalam sebuah diskusi bahwa 
perjalanan
63 tahun sejak proklamasi pertama adalah masa transisi dari Kolonialisme ke
Neo-Kolonialisme. 

 

Cilakanya pemilu 2009 menurut saya bisa jadi adalah penuntasan masa
transisi dimana  tuntas pulalah tergadainya
kembali kedaulatan RI.  Sehingga tugas
gerakan rakyat kemudian adalah perjuangan kemerdekaan untuk kali kedua, menuju
proklamasi kedua atau menuju Republik (Rakyat) Indonesia. 

 

Lebih kurang setahun lalu dalam artikel Negara
Tanpa Rakyat, Parakitri menuliskan Pergerakan kebangsaan berhasil
mencapai Indonesia merdeka, tapi gagal membangkitkan ”rakyat”. Dan mengikuti 
Van Niel tentang perubahan sosial
golongan elite atau the leader group of Indonesian society sebagai landasan
sosial Indonesia merdeka, maka sekarang dapat juga dikatakan bahwa negara tanpa
rakyat jadi landasan Indonesia merdeka.

 

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/05/19/LU/mbm.20080519.LU127225.id.html

 

Bila di tahun 45 negara tanpa
rakyat jadi landasan Indonesia
merdeka, maka dalam proklamasi kedua ini rakyat jadi landasan Indonesia
merdeka.

 

Mohon pandangan para miliser

 

salam hangat

andreas 

 

posting terbaru di lentera.....

 

Pilpres 2009, Kukuhkan Jalan
Rente Ekonomi & Kuasa Politik Modal

 

Sarekat Hijau Indonesia telah melakukan analisis terhadap pemilu 2009,
khususnya pemilu legislatif berdasarkan kajian terhadap agenda hijau
partai-partai politik, juga rekam jejak ekologi partai politik (baca: khususnya
partai-partai yang pernah berkuasa) dalam hal membuat produk-produk kebijakan
yang tidak berpihak kepada lingkungan hidup dan rakyat. Hasilnya, pemilu 2009 
tidak lebih
hanya menjadi jalan lanjutan bagi rente ekonomi dan kekuasaan politik modal.

 

Lalu bagaimana dengan pemilu presiden 2009 ini, sejauhmana agenda
lingkungan hidup dan rakyat menjadi agenda utama yang ditawarkan? Sarekat Hijau
Indonesia menggunakan empat nilai utama yakni demokrasi kerakyatan, keadilan
sosial, kedaulatan dan kemandirian ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan hidup
untuk melihat sejauh mana relevansi antara pemilu presiden terhadap krisis
ekologi dan krisis rakyat lainnya.

 

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/06/pemilu-presiden-2009-mengukuhkan-jalan.html

 

 

Rezim SBY-JK Gagal Laksanakan
Pembaruan Agraria

 

Kebijakan SBY-JK sekarang ini masih jauh dari amanat konstitusi, semakin
dekat neoliberal. Maka dalam momentum ini, SPI menyatakan bahwa selama
Pembaruan agraria seperti yang dimandatkan dalam konstitusi RI dan UUPA 1960
tak dijalankan maka langkah bagi pembangunan di Indonesia akan terus dibayangi
oleh kelaparan, konflik agraria, rusaknya infrastruktur pedesaan, impor pangan,
urbanisasi, prostitusi, dan tingginya perempuan buruh migrant. Pada akhirnya
masalahmasalah mendasar kerakyatan di lapangan yakni kelaparan, pengangguran,
kurang pendidikan, masalah kesehatan dan terutama kemiskinan akan terus
menghantui bangsa kita.

 

Dipetik dari Evaluasi Serikat Petani Indonesia Terhadap Kebijakan Pertanian
Pemerintahan SBYJK Tahun 2004- 200 Kebijakan Neoliberal Gagal Membangun
Pertanian dan Menyejahterakan Petani

 

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/06/rezim-sby-jk-gagal-laksanakan-pembaruan.html

 

Agenda Indonesia : Sebuah Bangsa
hanya Dibentuk dengan Sengaja

 

Dari mana Indonesia muncul? Ia tidak datang dari imperium Majapahit, tetapi
ia juga tidak muncul begitu saja dari realpolitik internasional pada awal abad
XX. Ia muncul dari agenda nasionalis yang memburu celah-celah terobosan dalam
peta politik inter-nasion-al di sekitar Perang Dunia II. Ia bukan kelanjutan
dari primordialisme, namun ia juga bukan penjelmaan dari universalisme.

 

petikan artikel B. Herry-Priyono** Agenda Indonesia : Sebuah Bangsa hanya
Dibentuk dengan Sengaja saat Kongres Pancasila 2009, yang diselenggarakan oleh
Universitas Gadjah Mada dan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, di
Jogjakarta tanggal 30 Mei – 1 Juni 2009.

 

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/06/indonesia-di-bawah-ancaman.html

 

 

Ekonomi Pancasila, Ekonomi
Rakyat, ataukah Ekonomi Kerakyatan?



"Selama sekitar satu bulan terakhir, wacana Ekonomi Kerakyatan makin
marak di tanah air. Konsep yang sebelumnya terdengar hanya sayup-sayup dan
lebih sering dicibirkan (terutama oleh para ekonom Indonesia, baik didikan
dalam negeri maupun ”made in” luar negeri), tiba-tiba kini laku keras bin laris
manis. Terkait dengan Pemilihan Presiden dalam waktu dekat, Ekonomi Kerakyatan
diperebutkan bagaikan sesosok idola. Oleh salah satu pasangan ca(wa)pres,
Ekonomi Kerakyatan diasongkan sebagai ”produk unggulan”. Pasangan ca(wa)pres
lain menjadikannya sebagai ”tameng” atau ”topeng” bukti keindonesiaan. Sementara
itu, berbagai pihak justru membenturkan Ekonomi Kerakyatan dengan ideologi
lain, yaitu neo-liberalisme atau neolib. Kalaulah pengusungan Ekonomi
Kerakyatan memang dilandasi oleh niat luhur untuk meng-indonesiawi-kan
perekonomian Indonesia, kita layak terharu dan bangga. Akan tetapi jika konsep
Ekonomi Kerakyatan diusung hanya untuk dijadikan ”peluru-politis-sesaat”,
sesudah itu lantas justru dipasung, betapa malang nasibnya". 



Dipetik dari keterangan pers Yayasan
Mubyarto (YasMuby) Jogjakarta dan Mubyarto Institute (Mubins) Jakarta 4 Juni 
200 dalam rangka Peringatan Hari
Kelahiran Pancasila 1 Juni perihal konsep Ekonomi Pancasila (Ekonomi Kerakyatan)

 

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/06/ekonomi-pancasila-ekonomi-rakyat.html

 

Ketiga Pasangan Capres-Cawapres
Absen Agenda-Agenda Pencapaian Demokrasi Substansial

 

.....kandidat-kandidat presiden yang ada sama sekali tidak menawarkan
agenda-agenda bagi tercapainya demokrasi substansial –seperti tiadanya agenda
untuk mengontrol mekanisme pasar yang membuat  demokrasi defisit (maklumat
peserta lokakarya Demos)

 

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/06/ketiga-pasangan-capres-cawapres-absen.html

 

 

Pandangan Komunitas ORNOP Terhadap Dialog Capres
Putaran I “Good governance dan Supremasi Hukum”

 

Komunitas Ornop adalah
gabungan dari 40 LSM dan organisasi non-pemerintah dan organisasi masyarakat
yang menaruh peduli terhadap proses perbaikan bangsa, termasuk dalam
menyongsong PEMILU Presiden 8 Juli mendatang. Proses perbaikan dimaksudkan pada
9 isu publik, masing-masing: Hak Asasi Manusia, termasuk keadilan korban masa
lalu dan konflik militer; Lingkungan hidup dan sumberdaya alam; Prioritas
anggaran negara; Mafia peradilan; Buruh migran; Kebebasan beragama dan
minoritas; Penggusuran di perkotaan; Konflik agraria dan masyarakat adat; serta
Keadilan gender.

 

Komunitas Ornop akan memberikan pandangan kritis untuk seluruh  serial Dialog 
Capres yang diadakan oleh KPU.

 

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/06/telaah-kritis-terhadap-dialog-capres.html

 

Komedi Putar Pemilu 2009  : Mari Melampaui Sistem Politik dan Ekonomi
Yang Membusuk

 

Kita harus berpikir dan betindak melampaui praktek politik kekuasaan (demi
kekuasaan), praktek ekonomi (keserakahan demi akumulasi kekayaan segelintir
orang sebagai kebajikan) hari ini? Kita harus melampaui Capres dan Cawapres
yang manggung hari ini!

 

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/search/label/komidi%20putar

 

 

simak pula yang satu ini...

 

Indonesia Muddy
Justice : Laporan Khusus Aljazeera Tentang Bencana Lumpur Lapindo

 

3 Tahun Bencana Lumpur
Lapindo.



Indonesia Muddy Justice adalah judul laporan Aljazeera dengan durasi 23 menit
terkait Bencana Lumpur Lapindo. Menyedihkan, bencana ini sudah berlangsung
selama 3 tahun tanpa upaya penyelesaian dan penanganan yang berarti. Laporan
ini adalah bagian dari 5 seri laporan khusus Aljazeera "People and Power.
Corporation on Trial (Juliana Ruhfus on the use and abuse of corporate power). 
Selain
kasus Lapindo seri laporan khusus ini meliputi pula kasus-kasus terkait 
korporasi
transnasional diantaranya terkait perusahaan minyak raksasa Exxon Mobile dan 
Trafigura.

 

selengkapnya

http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/06/indonesi-muddy-justice-laporan-khusus.html

 

 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke