Kalau SBY, meski mayoritas rakyat Indonesia masih suka, saya sudah kehilangan 
harapan.

Ada teman menulis:
==
http://public.kompasiana.com/2009/06/23/boediono-program-privatisasi-bumn/
Boediono menjelaskan perihal target dan jadwal privatisasi. Menurutnya,

dalam suasana persepsi terhadap perekonomian, investasi dan perdagangan di

negara kita yang terpengaruh secara negatif peristiwa Bali, pemerintah perlu

melakukan rekonfirmasi pada pasar bahwa program divestasi dan privatisasi akan

tetap dilakukan sesuai jadwal.
===
SBY juga berkata pemerintah bersama DPR akan merumuskan "PRICING POLICY" yang 
"MENARIK" di bidang energi sehingga "INVESTOR" tertarik berinvestasi di 
Indonesia.

http://capresindonesia.wordpress.com/2009/05/25/calon-presiden-capres-indonesia-2009-sby-boediono-mega-prabowo-jk-wiranto/

Itu artinya jika terpilih, SBY akan kembali menaikan harga BBM jika harga 
minyak dunia naik dari harga sekarang. Kemudian dengan menggantungkan diri pada 
investor, menambah hutang, dsb.

Tidak ada arah menjadikan Indonesia jadi bangsa yang mandiri mengelola kekayaan 
alam dan kebutuhannya seperti AS, Jepang, Inggris atau minimal Arab Saudi, 
Kuwait, Qatar, dsb.

Sepertinya Indonesia hanya jadi bangsa kuli yang bekerja di perusahaan2 yang 
dimiliki asing.

Di zaman ORBA meski buruk, namun kita masih bangga memiliki berbagai BUMN 
seperti Indosat, Telkom, Antam, dsb yang murni dimiliki bangsa Indonesia.

Namun sekarang bukannya berkembang malah dilego.

JK meski dipandang sebelah mata dan turut mengumumkan kenaikan harga BBM, namun 
sebagai Wapres bisa jadi kebijakan negeri ini adalah kebijakan SBY.

Tapi cerita yang dia ungkap seperti Indonesia membuat Panser sendiri dengan 
harga separuh dari harga luar negeri, memakai sepatu buatan dalam negeri, dsb 
menimbulkan satu Harapan akan kemandirian bangsa Indonesia.

Saat ini meski sempat terpikir Golput, bisa jadi saya nanti memilih JK jika 
benar2 dia berniat membuat Indonesia jadi bangsa yang mandiri. Bukan bangsa 
kuli yang bekerja kepada investor asing.


===

Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits

http://media-islam.or.id

--- Pada Rab, 24/6/09, Ikranagara <[email protected]> menulis:

Dari: Ikranagara <[email protected]>
Topik: [ekonomi-nasional] DEMOKRASI EKONOMI MENYUSUL DEMOKRASI POLITIK
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 24 Juni, 2009, 8:40 PM











    
            
            


      
      Dear ll;

 

Mereka yang ikut memilih dengan pegangan "memilih yang terbaik dari yang ada", 
ini bisa dipertanggung- jawabkan landasan moralnya tapi juga bisa tidak. Kalau 
"yang ada" itu semua "yang buruk-buruk" , bagaimana mungkin bisa memilih "yang 
terbaik," sebab tidak ada "yang baik" maka tidak mungkinlah ada "yang terbaik." 
Kalau iniolah kondisi kandidat kita, maka tidak heranlah jika banyak yang 
Golput.

 

Di zaman Soeharto berkuasa itu, siapa yang TIDAK tergolong "yang buruk-buruk" 
ketika itu? Kalau pertanyaannya siapa saja "yang buruk-buruk" maka jawabnya 
akan mudah, yaitu kelompok yang disebut "ABG" itulah! ABG singkatan dari 
ABRI-Birokrat- Golkar. Tentu, tidak semua mereka yang tergolong ABG itu bisa 
disamaratakan semuanya buruk. Tapi yang bertanggung- jawab tentulah yang 
tergolong petingginya, bukan? Yang paling tinggi jelas Soeharto. Petinggi 
lainnya banyak, antara lain di kalangan ABRI adalah Wiranto, Prabowo dan SBY 
(waktu itu stafnya Wiranto). Mereka ini semua bertanggung- jawab atas tindakan 
bawahannya ketika itu, karenanya contoh dari ABRI yang tiga orang sekarang jadi 
capres dan cawapres tidaklah bisa digolongkan sebagai "yang baik" kalau diukur 
dari trek-rekod mereka di masa lalu itu.

 

Sekarang bagaimana? Jelas sekarang sudah ada perobahan akibat Gerakan 
Reformasi. Pertanyannya tentulah: Apakah ketiganya sudah "direformasi" ? Kalau 
secara formal, ataun ukurann undang-undang yang berlaku, tampaknya 
ketiga-tiganysa tergolong kepada "sudah direformasi. " Karena itulah 
ketiga-tiganya sekarang diterima secara sah sebagai calon-calon petinggi negara 
kita.

 

Tinggal sekarang, mana dari ketiganya itu tadi yang bisa Anda percaya akan 
membawa bangsa kita ini menuju masyarakat adil-makmur sebagaimana yang 
diamanatkan oleh UUD kita?

 

Maka bacalah UUD kita, misalnya Pasal 33 itu. Apakah selama ini sistem Ekonomi 
Global (yang di negeri kita dikenal sebagai "Ekonomi Neolib") itu melanggar 
Pasal 33 itu atau tidak? Saya sependapat dengan para ahli yang menyatakan 
sistem Ekonomi Global yang dipakai oleh Soeharto dan kemudian diteruskan oleh 
Gus Dur, Mega dan SBY ini bertentangan dengan Pasal 33 itu. 

 

Pasal 33 ini bukan sekedar memihak kepada "rakyat kcil" saja, melainkan kepada 
seluruh warganegara Indonesia. Ada semangat Demokrasi Ekonomi di dalamnya, dan 
ini tidak mungkin dilaksanakan dalam sistem Ekonomi Global yang kita pakai 
sekarang ini.

 

Ketiga Capres dan Cawapres yang tampil kali ini tempaknya mengusung janji akan 
melaksnakan Pasal 33 UUD itu, bukan? Tapi, apakah janji itu murni, artinya akan 
dilaksanakan sepenuh hati nanti kalau sudah berkuasa, tentulah kita tidak bisa 
mengetahuinya. Bukankah di masa kampanye janji para kandidat selalu bagaikan 
angin surga, tetapi begitu berhasil menduduki kursi empuk, angin neraka masih 
berlanjut terus melanda rakyat miskin di perkotaaan dan di pedesaaan kita dari 
sejak berdirinya republik kita ini sampai zamannya SBY sekarang pun!

 

Nah, nama ekonom seperti Kwiek Kian Gie dan Revrisond Baswir mencuat minggu ini 
gara-gara interviu dilakukan TV kita terhadap mereka berdua minggu ini. Kritik 
mereka terhadap kebijakan yang diambil oleh Mega (ketika menjadi presiden) dan 
SBY keras. Bagaimana dengan JK? 

 

Ketika Kwiek ikut dalam Kabinet Mega, tampaknya ketika itu Mega tetap akan 
meneruskan pembangunan dengan sistem Neolib. Ide Kwiek gak dipakai sama sekali.

 

Ketika SBY terpilih, ide Kwiek itu diterima oleh SBY, tetapi kemudian tidak 
dilaksanakan oleh SBY karena Boediono dan Mulyani yang sangat pro free-market 
itu menjadi penentu kebijakan ekonomi SBY yang Neolib. 

 

Karena itu, Kwiek menyatakan apa yang diungkapkan sekarang oleh Mega dan SBY 
sebagai janjinya untuk tidak menganut Neolib, tidak lagi bisa dipercaya, hanya 
sekedar janji kampanye Capres saja. Apalagi SBY akan "melanjutkan" apa yang 
sudah dijalankannya selama ini.

 

Bagaimana dengan JK? Kwiek sekarang memang tidak kehilangan harapannya setelah 
dua presiden sebelumnya tidak sejalan dengan dia, maka sekarang berharap JK 
akan menerima idenya.

 

Kemarin ini ada diskusi tentang Neolib dengan menampilkan Kwiek sebagai salah 
seorang pembicaranya di Kantor Pusat Partai Hanura-nya Wiranto.

 

Selain itu Kwiek telah menerbitkan "Indonesia Menggugat Jilid II - Menjabarkan 
Pidato Proklamasi Calon Wakil Presiden Boediono." Semangat dan ide Kwiek dalam 
buku ini tampaknya dimaksudkan menggugah kita para reformis, bahwa setelah 
demokrasi di bidang politik, maka tahapan reformasi berikutnya adalah demokrasi 
di bidang ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia.

 

Sebagai seoarang Golden (Golongan Indipenden), tentulah semua itu menjadi 
masukan berharga bagi saya dalam menentukan siapa capres yang akan saya pilih 
nanti.

 

Ikra.-

======

(sampai hari ini belum mentapkan capres pilihanku) 




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Selalu bisa chat di profil jaringan, blog, atau situs web pribadi! Yahoo! 
memungkinkan Anda selalu bisa chat melalui Pingbox. Coba! 
http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke