Pendukung Neoliberalisme = Pendukung Genosida. Neoliberalisme Memang Menjijikan!!! (Bagian Pertama)
Neoliberalisme membunuh sama kejamnya dengan Nazisme Hitler. Noeliberalisme membunuh secara massif, perlahan dan sistimatis, sedangkan Nazisme Hitler membunuh secara massif, cepat dan sistimatis. Keduanya hakekatnya adalah KEJAHATAN HAM BERAT GENOSIDA. Ketika Neoliberalisme semakin dominan, fakta menunjukkan globalisasi kemiskinan dan ketimpangan semakin menggila pula. Korporasi-korporasi besar dan golongan elit telah menjadi semakin kaya raya sementara kaum miskin semakin terpuruk dan termiskinkan bahkan hingga menderita kelaparan dan masalah kesehatan kronis yang mematikan. Mewabah bak pendemi. Karenanya jangan heran bahwa dalam 10 tahun masa reformasi ini (ketika penetrasi neoliberalisme semakin meluas melalui IMF, Bank Dunia, ADB, USAID serta korporasi multinasional, dll) kemiskinan dan ketimpangan semakin meluas dan mendalam. Jangan heran pula dengan kekayaan yang dimiliki oleh elit politik dan/yang sekaligus adalah elit ekonomi, kelas penguasa-borjuasi yang menjadi komprador/antek kepentingan rezim ekonomi global. Catatan tentang Kampanye Neoliberalisme Memang Menjijikan! "Ketika menjadi terbuka maka kekerasan lebih menunjukkan wajah pornografi dan dengan itu lebih membangkitkan rasa jijik daripada rasa takut." Ini adalah petikan dari buku Daniel Dakhidae Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru. Daniel menuliskan teks ini sebagai kesimpulan atas perubahan psikologis masa ketika akhirnya secara telanjang menyaksikan kekerasan negara melalui testimoni para aktivis korban penculikan. Dengan memetik Daniel saya hendak mengajak sebanyak mungkin orang yang perduli untuk mendorong lahirnya momentum perubahan psikologi publik sehingga menjadi paham tentang neoliberalisme sebagai satu bentuk formasi kapitalisme dan rezim kekuasaan yang mendukungnya. Lantas menjadi jijik dan muak. Dalam kasus yang dideskripsikan oleh Daniel saya melihat bahwa momentum testimoni para aktivis korban penculikan dan penyiksaan, telah mebangkitkan kemarahan publik yang berkontribusi para pembesaran perlawanan hingga tumbangnya Soeharto. Dan saya melihat ketika para capres-cawapres bersilat lidah menolak dirinya dicap pendukung neoliberalisme atau mendaku penentang neoliberalisme, maka lahir kesempatan tersembunyi bahwa ini akan menjadi senjata makan tuan. Bahwa tipu daya ini akan terbongkar, ketika janji-janji tinggal omong kosong. Ketika rezim semakin masif menggunakan kekerasan untuk melancarkan agenda neoliberalisme, menggunakan kekerasan untuk menghdang perlawanan buruh, tani, nelayan, kaum miskin kota, pemuda-pelajar. Ketika rakyat menjadi muak dan jijik, melampui rasa takutnya. Mari terus gulirkan sehebat-hebat debat dan propaganda anti-neoliberalisme di panggung politik nasional, dan jangan ragu tudingkan jari anda pada semua elit politik dan/sekaligus elit ekonomi yang menjadi komprador/antek kepentingan rezim neoliberalisme/kapitalisme global. Pada akhirnya dibolak-balik neoliberalisme dan para jenderallah yang akan menjadi pemenang pilpres 2009 ini. Perjalanan perekonomian Indonesia selama 64 tahun ini justru lebih tepat disebut sebagai sebuah proses transisi dari kolonialisme menuju neo-kolonialisme. Proses transisi itulah antara lain yang menjelaskan semakin terperosoknya perekonomian Indonesia ke dalam penyelenggaraan agenda-agenda neoliberal…… Revrisond Baswir Tak perlu sedu sedan itu (begitu kata chairil anwar), mari bersatu, bersarekat, berlawan, Tegakkan Kembali Proklamasi - Merdeka 100 Persen. ------------- Globalisasi Kemiskinan dan Ketimpangan Dalam Fakta dan Angka (angka-angka dari berbagai sumber yang kompeten termasuk lembaga-lembaga di jantung neoliberalisme) Sumber : Edisi Indonesia Buku Does Globalizations Help the Poor? A Special Report By The International Forum on Globalization, 2001 yang diterbitkan oleh Cindelaras Pustaka Rakyat Cerdas. Globalisasi tampaknya kian memperbesar kemiskinan dan ketimpangan.... Biaya-biaya untuk penyesuaian demi keterbukaan yang lebih besar ditanggung sepenuhnya oleh kaum miskin, berapa pun lamanya waktu penyesuaian itu berlangsung - Bank Dunia, The Simultaneous Evolution of Growth and Inequality, 1999 Pasang naik gelombang perekonomian global akan menciptakan banyak pemenang di bidang ekonomi tetapi tidak akan mampu ”mengangkat semua perahu”... [Pasang naik gelombang itu] justru akan menimbulkan pertentangan, baik di dalam maupun di luar negeri. Disamping, juga semakin memastikan munculnya kesenjangan antara para pemenang dan yang kalah di tingkat regional yang bahkan lebih besar daripada yang ada dewasa ini... Evolusi (globalisasi) akan semakin tidak menentu. Ia ditandai oleh volatilitas keuangan yang kronis dan jurang pemisah yang kian melebar di bidang ekonomi... Berbagai wilayah, negara dan kelompok yang merasa tertinggal jauh di belakang akan menghadapi stagnasi ekonomi, instabilitas politik, etnis, ideologis, dan keagamaan berikut kekerasan yang seringkali mnyertai ekstremisme tersebut - Global Trends 2015, United States Central Intelligence Agency, 2000 IMF dan Departemen Keuangan AS telah mengatur kembali insentif-insentif ekonomi Rusia dengan cara yang memang berbeda, tetapi celakanya dengan cara yang salah…. Sementara pada awalnya hanya 2 persen dari penduduka hidup dalam kemiskinan, bahkan pada masa-masa terakhir Soviet yang suram sekalipun. [Namun dengan adanya-editor] “reformasi” itu jurstru menunjukkan angka-angka kemiskinan yang kian membumbung tinggi. Angkanya hamper mencapai 50%, dimana lebih dari separuh anak-anak Rusia hidup di bawah garis kemiskinan. - Joseph Stiglitz, mantan wakil presiden Bank Dunia 2000 Tren atau kecenderungan kemiskinan telah menjadi semakin buruh. Jumlah orang miskin yang hidup kurang dari 1 dolar AS sehari meningkat: dari 1.197 juta pada 1987 menjadi 1.214 juta pada 1997, atau sekitar 20% dari penduduk dunia. Dua puluh lima persennya lagi (sekitar 1,6 milyar) dari penduduk dunia bertahan hidup dengan 1-2 dolar AS setiap hari. - The United Nations Human Development Report 1999. Kesenjangan pendapatan antara seperlima penduduk dunia di negara-negara terkaya dengan seperlima penduduk yang hidup di negara-negara termiskin meningkat dua kali lipat pada 1960-1990: dari 30 berbanding 1 menjadi 60 berbanding 1. Pada 1998, kesenjangan itu semakin bertambah lebar, menjadi 78 berbanding 1 - The United Nations Human Development Report 1999. Terhitung sejak 1994-1998, nilai kekayaan bersih yang dimiliki 200 orang terkaya bertambah dari 40 milyar dolar menjadi lebih dari 1 trilyun dolar. Aset kekayaan tiga orang terkaya lebih besar dibandingkan dengan gabungan GNP 48 negata terbelakang. Dan jumlah milyarder di dunia meningkat 25 persen hanya dalam waktu dua tahunt erakhir. Gabungan kakayaan dari 475 orang terkaya tersebut lebih besar dari gabungan pendapatan 50% penduduk termiskin dari seluruh penduduk dunia -- The United Nations Human Development Report 1999. Sejak 1990, usia harapan hidup menurun di 33 negara. Pada 1997, angka kematian anak di bawah usia lima tahun di negara-negara terkaya adalah 8 berbanding 1000 lahir hidup, sedangkan di negara-negara berkembang, 169 berbanding 1000 lahir hidup - Bank Dunia Annual Review of Development Effectiveness 1999 Baca kajian-kajian dari para pakar dan pelaku gerakan sosial terkait neoliberalisme ; Revrisond Baswir, Hendri Saparini, Ichssanudin Nursy, Herry Priyono, I Wibowo, Kwik Kian Gie, Bonie Setiawan, Don Marut, alm Mansour Fakiq, Fahmy Radhy, Sri Edi Swasono, James Petras, Noer Fauzi, Hendri Saragih, Ir Daryoko, Danie Setiawan, dll http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/search/label/lawan-neoliberalisme Simak pula film John Pilgler Globalization: New Rulers of The World (subtitle bahasa indonesia) : fakta tentang mudarat neoliberalisme sebagai biang kerok meluasnya kemiskinan dan kesenjangan yang semakin akut di negeri ini. http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/05/film-dokumenter-globalization-new.html [Non-text portions of this message have been removed]

