http://cetak.bangkapos.com/etalase/read/22938.html

Lada Putih Bangka 
Terbuang di Kampung Sendiri


edisi: 28/Jun/2009 wib

SUNGGUH ironis nasib lada putih Bangka (Muntok white pepper). Sejak komuditas 
rempah-rempah ini dimonopoli oleh serikat dagang Belanda (VOC) tidak ada 
perubahan sama sekali. Lada dijual dalam bentuk primer. Setelah dipanen, 
direndam, jemur, bulir lada Bangka dengan aroma dan rasa pedas yang khas itu 
dijual ke pedagang pengumpul. 
Lalu ditampung untuk selanjutnya diekspor. Tanpa sentuhan teknologi untuk 
diversivikasi produk. 

Begitu pula dengan pengembangan kebun lada para petani. Berabad-abad dikelola 
dengan pengetahuan yang mereka miliki. Petani seolah berhadapan sendirian saat 
menghadapi seluruh permasalahan lada. Mulai penyakit, hama, kualitas produk dan 
pemanfaatan lahan.

Wajarlah, ketika negara lain seperti Vietnam menerapkan teknologi perkebunan 
lada, muntok white pepper yang tersohor sejak masa VOC itu kehilangan pamor. 
Kualitas tertinggal dengan produksi minim. Indonesia sebagai pemasok utama 
kebutuhan lada dunia, khususnya dari Babel sudah berpuluh-puluh tahun ini 
tertinggal. Porsi pasokan lada Indoensia tersisa 30 persen saja.

Komoditi lada mempunyai peran strategis secara ekonomis, historis, sosilologis 
dan geogarfis itu kini tinggal kenangan. Para petani tak berdaya ketika hasil 
panen itu tak memiliki harga lagi. Setelah terbuang dari kancah perdagangan 
lada dunia, lada komuditas yang sempat menaikkan derajat ekonomi petani itu 
nyaris terbuang di kampung sendiri.

Beribu-ribu hektar tanaman lada ditelantarkan bahkan dibuang. Kebun dengan 
tanah yang subur tak jarang tergerus oleh aktivitas tambang. Petani lada juga 
tak tahan dengan godaaan perkebunan tanaman sawit yang sangat ekspansif. 


Masih Prospektif


Realita memang seperti itu. Lada benar-benar tak menjanjikan.  Hanya saja tak 
sepenuhnya benar sebab belum pernah dilakukan pengembangan lada secara 
konsisten dengan teknologi dan diversivikasi produk. Kebijakan pengembangan pun 
tidak dilakukan secara berkelanjutan.

"Prospek lada di masa mendatang cukup baik karena selain terjadinya peningkatan 
konsumsi dalam negeri juga berkembangnya industri makanan, minuman, dan farmasi 
serta spa yang menggunakan bahan baku lada," kata Ir Rizky Muis Direktur 
Budidaya Tanaman Rempah dan Penyegar Departemen Pertanian di depan puluhan 
peserta Workshop Revitalisasi Lada Putih Bangka Belitung, Kamis (25/6) lalu di 
Serrata Teracca Hotel.

Pendapat Rizky cukup beralasan, masa lalu lada putih Bangka gilang-gemilang. 
"Di tingkat dunia, lada Indonesia dikenal dengan citra rasa dan aroma yang 
khas. Muntok white pepper dan black white pepper brand yang cukup dikenal di 
dunia," sambung Rizky.

Oleh sebab itu lada, lanjut Rizky ketika masa kejayaan rempah-rempah menyandang 
predikat rajanya rempah (King od Speces) karena mencapai nomor satu dunia. Lada 
merupakan komoditas ekspor tertua yang diperdagangkan ke luar negeri. Tak kalah 
pentingnya hampir seluruh usaha lada dikelola oleh rakyat.

"Apabila satu KK memiliki lima anggota, maka usaha lada menghidupi 1,6 juta 
orang belum termasuk yang terlibat dalam rantai perdagangan dan industri," 
tandasnya.

Itulah peran dan arti penting lada. Kini semaua kegemilangan lada mulai pudar. 
"Sejak Vietnam mengembangkan lada, posisi Indonesia di pasar dunia melorot 
drastis," ujar Rizky.

"Dalam satu dasawarsa terakhir situasi perkebunan lada kita mengalamai 
kemunduran di semua segi, luas tanaman, produksi dan ekspor mengalami 
kemunduran drastis. Terlebih-lebih segi inovasi hampir tidak ada kemajuan sama 
sekali," sambung Dr Ir HAM Syakir Kepala Pusat Litbang Perkebunan Departemen 
Pertanian di sela-sela Workshop Revtalisasi Lada.

Lalu Syakir mencontohkan Babel sebagai sentra produksi lada putih di Indonesia 
saat ini terbengkalai. "Kondisi sebagai besar tanaman petani sangat 
memprihatinkan. Pemeliharaan sangat minim bahkan tanpa pemeliharaan," ujarnya.


Diguncang Harga


Banyak faktor membuat lada tadi kehilangan pamor. Yang utama menurut Syakir 
adalah faktor harga lada yang rendah. "Gejolak harga  yang besar sehingga tidak 
cukup menarik bagi petani. Selain itu tanaman ini tidak berkayu dan merambat 
yang rentan terhadap penyakit, terutama infeksi jamur, bakteri, bahkan 
mematoda. Ini sangat pelik karena menimbulkan kerugian besar bagi petani," 
tukasnya.

Faktor harga dan serangan penyakit menyebabkan petani meninggalkan tanaman lada 
mereka beralih kepada komuditas perkebuan lainnya, seperti karet, kakao, 
terlebih-lebih kelapa sawit. 

"Padahal secara crop ecologis tanaman lada lebih sesuai dibandingkan dengan 
timah yang merusak lingkungan. Demikan pula dengan kelapa sawit yang 
menghendaki radiasi surya tinggi," ujar Syakir.

Jika ingin lada Babel tetap terasa pedas, mau tak mau, dengan pengelolaan 
tanaman yang baik, komuditas ini masih memiliki daya saing yang lebih baik. 
Selain pengelolaan lada, Babel juga didukung oleh tipe iklim bimodial, yaitu 
adanya dua puncak musim kemarau yang sangat berpengaruh kepada bunga dan buah 
lada.

"Sejak VOC hingga sekarang komditas lada masih dijual primer, sentuhan 
teknologi rendah. Padahal kita memiliki para ahlinya. Konsisten menerapkan 
tekhnologi itu belum terlihat. Kalau ini dimaksimalkan dengan konsisten, era 
kejayaan itu bukan mustahil. Vietnam telah membuktikannnya," imbuh Syakir 
bersemangat.
Optimisme lada Babel bisa bangkit selain inovasi teknologi tanaman dan 
diversifikasi produk, peluang itu juga ditopang sejarah besar lada Babel. 

"Brand Muntok white pepper dengan aroma dan rasa pedas yang kahs itu belum 
tergantikan. IPC telah melakukan perlindungan terhadap Muntok white pepper di 
pasar internasional dan brandnya telah didaftarkan di Departemen Hukum dan 
HAM," ujar Dede Kusuma Edi Idris dari Iternastional Pepper Community (IPC).

Untuk membangkitkan kejayaan lada putih itu juga IPC melalui pendanaan dari 
badan organisasi pangan dunia membuat proyek pengembangan tanaman lada di 
Babel. Nantinya proyek ini dapat dilanjutkan oleh pemerintah daerah setempat.

"Langkah untuk membangkitkan kejayaan lada ini harus cepat. Sebab kalau tidak, 
kita akan bedosa terhadap anak cucu, lada tinggal nama," ujar Dede.

Tinggal nama, memang sudah diambang. Sebab saat ini pun tanaman lada sudah 
mulai terbuang.

Kabupaten Bangka Selatan dan Bangka saja kebijakan pembangunan perkebunan sudah 
berorientasi pada kebun sawit. Khusus Bangka, perhatian terhadap petani lada 
nyaris tak ada sama sekali.

"Untuk saat ini, di Bangka lebih cenderung pada sawit rakyat. Dengan harga yang 
jatuh, petani kita sudah mengalih perhatian pada tanaman sawit," ujar Bupati 
Bangka Yusroni Yazid. 

Saat ini hanya sebagian kecil saja, kata Yusroni petani lada di Bangka yang 
masih bertahan. "Lahan makin sulit, biaya produksi mahal, lada sudah tak 
efisien. Apalagi kalau di lahan itu ada timahnya. Akhirnya makin tahun produksi 
lada Bangka makin berkurang. Petani lebih berminat pada komuditas dan usaha 
yang lebih menguntungkan" tukasnya.

Terhadap rencana revitalisasi kejayaan lada Bangka, Yusroni menilai masih harus 
disusun rencana dengan pogram aksi yang konkrit. "Inilah yang harus kita bahas, 
prinsifnya kita di Bangka siap dengan rencana ini. Lahan lada yang masih ada 
kita intensifkan, baru dimulai lagi dengan ekstensifikasi dengan skala yang 
terbatas," jelas Yusroni.

Jika di Bangka tanama lada nyaris ditinggalkan, tak jauh beda dengan Bangka 
Selatan. Desa-desa di selatan ini dulunya menjadi produsen utama lada Babel 
beberapa diantaranya sudah mulai ditinggalkan. Namun masih terdapat petani lada 
di Basel yang masih bertahan. Pemkab Basel pun tetap memasukkan komoditas lada 
dalam unggulan perkebunan.

"Kita memang menyiapkan kawasan untuk perkebunan semacam lada. memang kita akui 
lahan dan produksi lada di Bangka Selatan turun drastis," kata Ahmad Damiri 
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Tanaman Pangan Bangka Selatan.

Daerah Kecamatan Air Gegas masih dipertahankan sebagai kawasan perkebunan lada 
bersama beberapa di Kecamatan Payung. Saat ini diprkirakan tanaman lada petani 
di Basel skeitar 13.000 hektare.
Bahkan kata Damiri, Pemkab Bangka Selatan tiap tahun menganggarkan dana ratusan 
juta untuk membantu perkebunan lada petani. 

Pemkab Basel pun menyambut baik rencana revitalisasi kejayaan lada Bangka ini. 
Sebaba progaram pembangunan lada yang telah dijalankan di Pemkab Basel belum 
mampu mengembalikan kejayaan lada putih. Oleh itu sinergi, holistik dan tidak 
setengah-setengah pengembangan lada agar mampu bangkit. (ana)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke