http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=230351


MENUJU ISTANA
Iklan Pemerintah Dinilai Bohong 

Prabowo Subianto, Cawapres. 
Rabu, 1 Juli 2009


JAKARTA (Suara Karya): Cawapres Prabowo Subianto mengkritik keras kinerja 
pemerintah saat berkampanye bersama capres Megawati Soekarnoputri di hadapan 
ribuan pendukung mereka yang memadati Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 
Selasa. 

Dalam konteks itu, Prabowo menilai berbagai iklan pemerintah yang mengklaim 
keberhasilan meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah bohong. Prabowo justru 
menilai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) gagal menjalankan roda 
pemerintahan selama lima tahun terakhir. 

"Pemerintahan yang dinakhodai SBY telah gagal. Banyak rakyat kita yang masih 
mengalami penderitaan hidup sehari-hari," kata Prabowo. 

Sementara itu, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) KH Zainul Majdi memberikan 
pujian kepada Wakil Presiden HM Jusuf Kalla (JK) yang saat ini maju menjadi 
capres dengan jargon "lebih cepat lebih baik". 

"Kita memang harus lebih cepat mengejar, kita bahkan telah tertinggal jauh dari 
daerah lain, seperti Bali, Jawa, dan Sumatera," ujar Zainul Majdi saat membuka 
acara "Dialog Terbuka Wakil Presiden Republik Indonesia dengan Jajaran 
Pemerintah Provinsi Kabupaten/Kota se-Nusa Tenggara Barat" di Mataram, NTB, 
kemarin. 

Secara terpisah, dalam kapasitasnya sebagai Wakil Presiden, Jusuf Kalla bertemu 
dengan seluruh kepala desa (kades) se-Indonesia timur di Manado, Sulawesi 
Utara. Dalam pertemuan ini JK menjanjikan anggaran Rp 2 triliun untuk 
memberikan tunjangan bagi kades. 

Janji ini sebetulnya pernah diucapkan JK pada saat bertemu dengan kades di Jawa 
Timur beberapa pekan lalu. Namun saat itu JK tidak menyebutkan angka secara 
eksplisit, dan baru kali ini JK menyebut angka. "Paling hanya butuh Rp 1,5 
triliun sampai Rp 2 triliun," kata JK di Manado Convention Center, Selasa 
(30/6). 

Menurut JK, untuk memberikan tunjangan kepada kades sebenarnya diperlukan 
undang-undang sebagai legitimasi. "Harus dibuatkan undang-undangnya. Tapi ya 
setidaknya harus perbaikan PP dulu," tutur JK. 

Capres yang diusung Partai Golkar dan Partai Hanura ini juga mengatakan bahwa 
tunjangan kades diperlukan karena mereka ujung tombak pemimpin yang bertemu 
langsung dengan rakyat. 

JK mengatakan, tunjangan kades harus lebih tinggi dari sekretaris kepala desa 
(sekdes) yang PNS. "Semua yang dipilih langsung oleh rakyat mesti dapat 
tunjangan," ucapnya. 

Bohong


Prabowo mengatakan, pemerintah sekarang sedang gencar mengeluarkan iklan-iklan 
yang mengklaim keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup 
masyarakat miskin. 

Misalnya, dengan mengeluarkan iklan koperasi, pendidikan gratis, penghijaun, 
dan pengobatan gratis melalui masing-masing departemen. 

"Departemen pemerintah bikin iklan dengan uang rakyat, padahal iklannya bohong. 
Apa benar pendidikan gratis? Tidak! Luar biasa, tampaknya sekarang ini zaman 
edan. Yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan," kata Prabowo. 

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra ini juga mempertanyakan bintang iklan yang 
dikeluarkan pemerintah, yakni Presiden SBY. "Dari sejumlah iklan, yang menjadi 
bintangnya adalah capres incumbent. Apakah ini bisa dibenarkan?" katanya. 

Tidak berjalannya sejumlah program pemerintahan SBY, ucap Prabowo, karena 
Indonesia sekarang ini memiliki pemimpin yang tidak tegas dan ragu-ragu dalam 
mengambil keputusan. 

"Padahal melihat dari kondisi sekarang ini, Indonesia membutuhkan seorang 
pemimpin yang mampu mengambil keputusan secara bijaksana dan siap mengambil 
risiko," katanya. 

Sementara itu, capres Megawati saat mendapat giliran berorasi di Gelora Bung 
Karno berulang kali menyindir kubu pasangan capres-cawapres SBY-Boediono yang 
berusaha memenangi pilpres dalam satu putaran dengan alasan efektivitas dan 
efisiensi. 

Menurut Megawati, kemenangan SBY-Boediono yang menurut hasil survei Lembaga 
Survei Indonesia (LSI) mencapai 70 persen merupakan pengebirian demokrasi dan 
hak politik masyarakat Indonesia. 

"Bagaimana mungkin mereka sudah merasa menang, padahal pemilu baru berlangsung 
8 Juli mendatang? Jika seperti itu, apa artinya kita berdemokrasi," ujarnya. 

Mega mengimbau agar masyarakat tidak terbuai janji-janji surga yang diembuskan 
kubu SBY-Boediono. "Pilpres bukanlah suatu kerja guna memenangkan seseorang 
menjadi presiden, tetapi bagaimana membangun proses demokrasi yang lebih baik," 
katanya. 

Selain itu, Megawati juga mengingatkan masyarakat agar mencermati daftar 
pemilih tetap (DPT) yang berpotensi kembali dicurangi. Indikasi ini bisa 
dilihat dari belum beresnya DPT di 16 provinsi. Sementara 68.000 tempat 
pemungutan suara (TPS) juga dihilangkan. "Ini dilakukan untuk memenangkan 
pasangan tertentu," katanya. 

Karena itu, Mega menekankan agar pemerintah dan penyelenggara pemilu 
memperhatikan hak pilih rakyat. "Jangan sampai kita kembali ke Orde Baru, di 
mana rakyat tidak diberi hak suara secara langsung," ujarnya. 

Tampil di hadapan ribuan kader dan simpatisan PDIP dan Gerindra, Mega maupun 
Prabowo berorasi secara berapi-api. Beberapa kali suaranya meninggi dan 
meneriakkan yel-yel dan memekikkan kata "merdeka" untuk membakar semangat para 
pendukungnya. 

Secara terpisah, Juru Bicara Tim Sukses JK-Wiranto, Yuddy Chrisnandi 
mengatakan, pasangan SBY-Boedino telah gagal memainkan politik melankolis 
dengan maksud mengambil simpati masyarakat. 

Hal ini disampaikannya untuk menyikapi isu selebaran gelap berisi tudingan 
istri cawapres Boediono beragama Katolik, yang menurut Juru Bicara Tim Sukses 
SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng, dilakukan oleh tim sukses JK-Wiranto. "Mereka 
memainkan politik melankolis yang gagal," katanya. 

Yuddy menegaskan, JK bersama tim suksesnya tidak pernah menggunakan isu agama 
sebagai isu politik, sejak awal pilpres dan sampai kapan pun. Sebaliknya, 
permasalahan isu agama yang dibesar-besarkan dalam kampanye pilpres oleh pihak 
Tim Kampanye SBY-Boediono. (Erwin Siregar/Feber Sianturi) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke