Refleksi : Pada thun 1500  belum ada pengertian Indonesia! Pada zaman 
kearajaan-kerjaan feodal kuno itu rampok dan upeti kepada pusat kerajaan dan 
bukan untuk memakmurkan rakyat.  Rakyat makmur rakyat jaja, rakyat dirampok 
rakyat melarat! Tentu bisa saja dipakai Pati Unus sebagai contoh apabila yang 
dimaksudkan dengan NKRI  adalah negara seperti pada zaman tsb.

http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=229802


Jusuf Kalla dan Identitas Keindonesiaan
Oleh Willy Aditya 

Rabu, 24 Juni 2009

Kehadiran Jusuf Kalla sebagai kontestan dalam Pemilihan Presiden 2009 adalah 
suatu kemajuan penting dalam sejarah peradaban demokrasi Indonesia. Mengapa 
penting? Tentu saja bukan karena slogan "lebih cepat, lebih baik" yang ngetop 
dan ngepop di semua kalangan pemilih Indonesia. Bukan pula karena Jusuf Kalla 
adalah orang non-Jawa pertama yang maju sebagai calon presiden dalam pemilu 
langsung, melainkan karena sosok dan peluang strategi yang bisa dipakai oleh 
Jusuf Kalla dalam pemilihan presiden kali ini dengan merujuk pada salah satu 
sejarah kejayaan Nusantara. 

Ada beberapa pilar dalam sejarah perjalanan Indonesia sebagai negara bangsa 
pada masa lalu yang sering dirujuk sebagai simbol perlawanan (resistensi) 
terhadap kolonialisme. Satu di antaranya adalah penaklukan besar yang dipimpin 
Pati Unus pada tahun 1521 untuk merebut Malaka dari tangan Portugis. Malaka 
adalah pelabuhan dagang paling besar dan paling ramai di sepanjang Nusantara 
bahkan di Asia Tenggara. Pelabuhan ini direbut Portugis tahun 1511. Posisi 
Malaka secara geopolitis dan geostrategis waktu itu adalah sebagai jalur 
perdagangan rempah-rempah dunia. Tahun 1512 Portugis sudah meluaskan daerah 
kekuasaannya sampai ke Samudera Pasai. Kejatuhan Samudera Pasai ke tangan 
Portugis membuat jalur perdagangan rempah-rempah menjadi terancam karena akan 
dimonopoli Portugis yang mengganggu hubungan kerajaan-kerajaan di Nusantara 
dengan para saudagar dari berbagai kerajaan Asia dan Eropa. 

Kegelisahan ini dirasakan oleh Kesultanan Demak. Mereka kemudian mengirimkan 
ekspedisi militer pertamanya ke Malaka pada 1513 yang dikenal dengan sebutan 
Ekspedisi Jihad I. Ekspedisi militer yang kecil dan tidak terencana ini 
akhirnya gagal dan kembali ke tanah Jawa. 

Persiapan pertama yang dilakukan adalah membangun kekuatan militer yang lebih 
besar dengan kapal perang yang lebih banyak. Raden Patah dan Pati Unus paham 
benar, lokasi pembuatan kapal paling tepat adalah tanah Sulawesi karena orang 
Makassar dan Bugis telah dikenal luas sebagai penakluk samudra. 

Akhirnya tahun 1521 Ekspedisi Jihad II/Ekspedisi Malaka dilancarkan. Sebanyak 
375 kapal dengan ukuran cukup besar dipersiapkan untuk mengangkut semua bala 
tentara menuju Malaka. Atas restu para wali, berangkatlah pasukan gabungan dari 
Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon, dan Kesultanan Banten dipimpin Pati Unus 
yang baru tiga tahun menjadi Sultan Demak setelah Raden Patah meninggal. 

Sesampainya di Malaka, armada besar ini disambut dengan letusan meriam para 
prajurit Portugis. Setelah terjadi pertempuran sengit, akhirnya ekspedisi ini 
kalah dan Pati Unus gugur bersama istri dan satu orang putranya. Sebagian 
pasukan Islam yang berhasil mendarat kemudian bertempur dahsyat hampir 3 hari 3 
malam lamanya dengan menimbulkan korban yang sangat besar di pihak Portugis. 
Sampai sekarang Portugis tak suka mengisahkan kembali pertempuran dahsyat tahun 
1521 ini. 

Setelah 488 tahun berlalu sejarah mencatat, ekspedisi ini masih menjadi salah 
satu perjuangan terbesar yang pernah dilakukan oleh rakyat di Nusantara untuk 
menegakkan kedaulatan. Ekspedisi ini dengan jelas menggambarkan Kesultanan 
Demak sebagai kerajaan Islam dengan visi maritim dan berorientasi pada 
penyatuan Nusantara. Hal lain di balik peristiwa besar itu adalah menyatunya 
kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara. 

Peristiwa ekspedisi Malaka telah memberikan pelajaran berharga tentang arti 
persatuan semua bangsa dan etnis, hubungan dengan dunia luar yang duduk sama 
rendah dan berdiri sama tinggi, dan memberi arti kemandirian ekonomi dalam arti 
tidak membenarkan adanya monopoli oleh suatu bangsa. Keindonesiaan seharusnya 
memang dibaca ulang dan ditanamkan. Sejarah bangsa yang sering terlupakan 
adalah betapa Nusantara pernah jaya di atas ranah yang lautannya lebih luas 
dibanding daratannya. 

Lalu di mana letak titik sambung Jusuf Kalla dengan ekspedisi Malaka ini? 
Kehadiran Jusuf Kalla sebagai calon presiden pertama dari luar Jawa tentu 
mengembalikan memori sejarah tentang keindonesiaan kita. Keindonesiaan adalah 
kebinekaan yang dipersatuan oleh perbedaan bahasa, budaya, dan warna kulit. 
Keindonesiaan selalu bangkit dan bersatu untuk mematahkan dominasi dan 
intervensi kekuataan luar yang berusaha menggerogoti sumber daya, kawasan, dan 
semua potensi yang terbentang dari ujung Merauke sampai ke ujung Sabang. Di 
sinilah makna penting kehadiran Jusuf Kalla dalam kontestasi kepemimpinan 
nasional. 

Dalam situasi krisis dan ketergantungan terhadap pengaruh asing, terkadang 
solusi-solusi yang diplomatis hanya menjadi obat bius tanpa bisa menyelesaikan 
persoalan secara meng-akar. Dalam situasi inilah, seorang pemimpin sejati akan 
menunjukkan keberanian dalam sikap dan tindakannya. Jusuf Kalla hadir sebagai 
jawaban konkret terhadap situasi nasional yang sarat dengan krisis yang 
direpresentasikan melalui keberpihakan terhadap usaha dalam negeri yang tidak 
jargonis. Lompatan progresif yang paling penting dari keberanian Jusuf Kalla 
adalah bentuk demistifikasi terhadap peta politik nasional yang diselubungi 
oleh hegemoni dan afirmatif etnisitas. 

Kepemimpinan yang sejati bukan lahir dari pencitraan media, namun lahir dari 
dialektika kesatuan pikiran, ucapan dan tindakan. Kesatuan tiga elemen itulah 
yang disebut sebagai keteladanan. Dalam berpikir, berucap, dan bertindaknya, 
Jusuf Kalla menunjukkan suatu komitmen dan totalitas terhadap keberpihakannya 
pada pengelolaan sumber daya dan kekuatan produktif dalam negeri untuk dikelola 
oleh tangan anak bangsa sendiri. 

Dimensi terakhir adalah keindonesiaan yang berbineka secara bahasa, budaya, dan 
warna kulit. Inilah dasar bagi warga negara untuk secara sadar menentukan masa 
depan republik di mana orang per orang memiliki hak dan kewajiban yang sama 
seperti dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Para pendiri republik menegaskan 
bahwa keindonesiaan dibangun di atas fondasi kegotongroyongan yang tidak 
pilih-pilih terhadap latar belakang etnis calon presidennya. 

Dimensi keberanian, toleransi, dan keteladanan seperti yang telah ditunjukkan 
oleh Pati Unus dalam ekspedisi Malaka-lah yang menjadi kekuatan utama Jusuf 
Kalla dalam menegaskan kembali keindonesiaan serta kejayaan Indonesia di 
hadapan percaturan abad milenium ketiga ini.*** 

Penulis dari Komite Pimpinan Pusat Merti Nusantara 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke