http://cetak.bangkapos.com/tpersada/read/23090.html
76 Ribu Warga Babel Masih Miskin
http://farm3.static.flickr.com
/http://farm3.static.flickr.com
Ilustrasi Orang Miskin
Edisi : Kamis, 02.Juli.2009 | 08:53 wib
PANGKALPINANG, BANGKA POS -- Meski jumlah warga miskin di
Bangka Belitung tahun 2009 menurun, pemerintah daerah masih harus maksimal lagi
menekan angka kemiskinan. Tahun ini tercatat 76.630 jiwa penduduk daerah ini
masih miskin.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pemprov Babel Syafril Said
melalui Kabid Stastistik Sosial, Satriono mengatakan jumlah penduduk miskin di
Babel terus berfluktuatif dari tahun ke tahun. Periode Maret 2008Maret 2009,
jumlah penduduk miskin dari 86.730 orang menjadi 76.630 orang atau menurun
sekitar 10.010 orang. Penurunan tersebut, di daerah pedesaan 2.340 orang,
sedangkan di perkotaan 7.760 orang.
"Tingkat kemiskinan menurun secara signifikan dari 11,62
persen pada tahun 2002 menjadi 7,46 persen pada tahun 2009 ini," ungkap
?Satriono kepada Bangka Pos Group, Rabu (1/7).
Ia menrangkan penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki
rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan, yang
terdiri dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis
Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM).
"Untuk mengukur kemiskinan BPS mengunakan konsep kemampuan
memenuhi ?kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini,
kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi
kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.
Dengan pendekatan ini, dapat dihitung penduduk yang hidup di bawah garis
kemiskinan dinyatakan sebagai penduduk miskin atau persentase penduduk yang
berada di bawah garis kemiskinan," jelasnya.
Selama Maret 2008Maret 2009 Garis Kemiskinan (GK) di Babel
naik 8,40 persen dari Rp 246.169 per kapita per tahun pada Maret 2008 menjadi
Rp 266.843 per kapita per tahun. Dan kontribusi GKM terhadap GK sebesar 73,39
persen atau sebesar Rp 195.843 per kapita per bulan.
Tidak Sama
Dari jumlah tersebut, angka kemiskinan di Kabupaten Bangka
kalau dilihat dari data statistik penerima BLT (Bantuan Langsung Tunai)
mencapai 6.943 rumah tangga sasaran (RTS). Ini berbeda dengan data penerima
raskin yang mencapai 5.803 RTS.
"Jadi, jumlah yang mendapat BLT lebih banyak daripada raskin.
Artinya, ada yang dapat BLT tapi tidak dapat raskin dengan selisih sekitar
1.000-an orang," kata Kabid Promosi dan Informasi Dinkessosnaker Bangka, Didik
Suprapto, Rabu (1/7).
Dijelaskan, dari segi pendapatan, RTS memiliki upah di bawah
upah minimum satu bulan. Sementara upah minimum di Kabupaten Bangka tahun 2009
sebesar Rp 905.000 per bulan. "Jadi, kalau di bawah itu, maka menurut hasil
rapat kita di Pemda itu termasuk kategori miskin," ujar Didik.
Didik menambahkan, kalau diambil persentase dari jumlah
penduduk di Kabupaten Bangka yang mencapai sekitar 200-an ribu, maka jumlah
angka kemiskinan dari data raskin sebanyak 5.803 RTS termasuk kecil. Meski
demikian bukan berarti diabaikan atau dianggap ringan, h)namun menjadi tugas
bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk menguranginya.
Secara nasional, penduduk Indonesia yang berada di bawah
garis kemiskinan tahun ini juga menurun. Namun angkanya tetap besar
dibandingkan negara-negara tetangga. BPS Pusat menyatakan, per Maret 2009
jumlah masyarakat miskin Indonesia menurun sekitar 2,43 juta jiwa. Bila Maret
2008 jumlah penduduk miskin 34,96 juta atau 15,42 persen dari seluruh penduduk
Indonesia, maka pada Maret 2009 jumlahnya menjadi 32,53 juta orang (14,15
persen).
Bantuan KAT
Untuk memperbaiki tarap ekonomi masyarakat, tahun ini
Pemerintah Pusat melalui Dinkessos Provinsi Babel kembali mengelontorkan
bantuan Komunitas Adat Terpencil (KAT). Sebelumnya bantuan KAT ini sudah
diberikan diantaranya Kecamatan Simpangteritip, dan tahun ini sudah memasuki
tahun kedua dengan jumlah 55 kepala keluarga (KK). Sedangkan Kecamatan Muntok,
di Desa Belo Laut 35 KK memasuki tahun ketiga.
"Sasaran kita adalah masyarakat yang terisolir, dimana
kehidupan masyarakatnya masih jauh dari harapan, baik rumah dan pendidikan
serta transportasinya masih belum terjangkau oleh masyarakat. KAT ini merupakan
bantuan dari pusat langsung melalui dana dekonsentrasi," ungkap Kadinkessos
Babel, Syamsumi Saleh ditemui di ruang kerjanya.
Pada 2009, dua daerah di Babel yang akan mendapat bantuan KAT
untuk tahun pertama yakni Bangka Tengah 56 KK, dan Beltim 37 KK yang berada di
Pulau Long. "Berdasarkan pantauan kita, Pulau Long jauh dari kota,
perjalanannya saja memakan waktu yang lama, sedangkan akses transportasinya
belum ada, begitu pula dengan mata pencahariannya," tukas Syamsumi.
Bantuan diberikan bukan dalam bentuk uang, melainkan
peralatan bangunan rumah, maupun peralatan lain yang dibutuhkan oleh warga.
Bisa juga bantuan berupa program KUBE, maupun lainnya yang memang dibutuhkan
masyarakat setempat. Penentuan siapa saja yang layak menerima bantuan ini,
langsung oleh tim studi kelayakan dari pusat.
Disinggung mengenai perubahan daerah yang sudah menerima
bantuan KAT, Syamsumi mengatakan beberapa daerah sudah lebih baik dari ?
sebelum mendapatkan KAT. (i4/sas/persda network/ewa)
[Non-text portions of this message have been removed]